SALYA

10.57 Add Comment

PRABU SALYA ketika mudanya bernama Narasoma. Ia adalah putra Prabu Mandrapati, raja Negara Mandaraka dari permaisuri Dewi Tejawati. Prabu Salya mempunyai saudara kandung bernama Dewi Madri/Dewi Madrim yang kemudian menjadi isteri Prabu Pandu, raja negra Astina
Prabu Salya menikah dengan Dewi Pujawati/Dewi Setyawati. Putri tunggal Bagawan Bagaspati, brahmana raksasa di pertapan Argabelah, dengan Dewi Darmastuti, seorang hapsari/bidadari. Dari perkawinan tersebut., ia dikaruniai 5 (lima) orang putra, yaitu; Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati, Arya Burisrawa dan Bambang Rukmarata.
Prabu Salya mempunyai sifat dan perwatakan; tinggi hati, sombong, congkak, banyak bicara,
cerdik dan pandai. Ia sangat sakti, lebih–lebih setelah mendapat warisan Aji Candrabirawa dari mendiang mertuanya, Bagawan Bagaspati yang mati dibunuh olehnya.
Prabu Salya naik tahta kerajaan Mandaraka menggantikan ayahnya, Prabu Mandrapati yang meninggal bunuh diri. Akhir riwayatnya diceritakan, Prabu Salya gugur di medan pertempuran Bharatayuda oleh Prabu Yudhistrira/Prabu Puntadewa dengan pusaka Jamus Kalimasada

SAKUTREM

10.54 Add Comment

Bambang SAKUTREM dikenal pula dengan nama Bambang Kalingga. Ia putra kedua dari tiga bersaudara, putra Resi Manumayasa dengan Dewi Kaniraras/Dewi Retnowati, dari pertapaan Retawu di gunung Saptaarga. Dua saudaranya yang lain ialah Bambang Manudewa dan Dewi Sriyati.
Oleh Dewata, Sakutrem telah ditetapkan sebagai satria yang akan menurunkan Trah Witaradya (silsilah para raja). Karena saat mengandung dirinya, Dewi Retnowati telah makan buah Sumarwana ( buah sorga) yang berada di puncak pohon rukem di hutan Wanasaya yang dijaga oleh raksasa sakti bernama Satrutama.
Selain gemar bertapa, Sakutrem juga senang berburu dan mahir menggunakan senjata panah. Bersama Resi Manumayasa, ayahnya, ia menjadi jago kadewatan membinasakan Prabu
Kalimantara, Arya Dadali dan Arya Sarotama, raksasa-raksasa dari negara Nusahantara. Karena jasanya kepada Dewa dan Suralaya, oleh Bathara Guru, Sakutrem  diberi kehormatan gelar Bathara Darma, yang m empunyai arti ; berkorban untuk Dewa dan Keluhuran. Ia juga seorang yang menyebabkan mulai timbulnya pusaka-pusaka Keprabon ( Keprabu - an) dimasa datang.
Sakutrem menikah dengan Dewi Nilawati, putri Prabu Nilantaka raja negara Pujangkara, dan memperoleh seorang putra bernama Bambang Sakri. Setelah usia lanjut, Sakutrem menyerahkan Padepokan Retawu kepada Bambang Sakri. Ia kemudian tinggal di pertapaan Girisarangan (Gunung cadas/karang), salah satu dari tujuh puncak gunung Saptaarga.
Sakutrem meninggal dalam usia sangat lanjut, jenasahnya dimakamkan di pertapaan Girisarangan.

SAKUNI

10.49 Add Comment


ARYA SAKUNI yang waktu mudanya bernama Trigantalpati adalah putra kedua Prabu Gandara, raja negara Gandaradesa dengan permaisuri Dewi Gandini. Ia mempunyai tiga orang saudara kandung masing-masing bernama Dewi Gandari, Arya Surabasata dan Arya Gajaksa.
Arya Sakuni menikah dengan Dewi Sukesti, putri Prabu Keswara raja negara Plasajenar. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh tiga orang putra bernama ; Arya Antisura/Arya Surakesti, Arya Surabasa dan Dewi Antiwati yang kemudian diperistri Arya Udawa, patih negara Dwarawati.
Sakuni mempunyai sifat perwatakan ; tangkas, pandai bicara, buruk hati, dengki dan licik. Ia bukan saja ahli dalam siasat dan tata pemerintahan serta ketatanegaraan, tetapi juga mahir dalam olah keprajuritan. Sakuni mempunyai pusaka berwujud Cis (Tombak pendek untuk memerintah gajah) yang mempunyai khasiat dapat menimbulkan air bila ditancapkan ke tanah.
Dalam perang Bharatayuda, Sakuni diangkat menjadi Senapati Agung Kurawa setelah gugurnya Prabu Salya, raja negara Mandaraka. Ia mati dengan sangat menyedihkan di tangan Bima. Tubuhnya dikuliti dan kulitnya diberikan kepada Dewi Kunti untuk melunasi sumpahnya. Mayat Sakuni kemudian dihancurkan dengan gada Rujakpala.
SAKSADEWA

SAKSADEWA

10.47 Add Comment
SAKSADEWA atau Yaksadewa adalah putra Prabu Rahwana/Dasamuka raja negara Alengka dengan permaisuri Dewi Satiwati. Ia mempunyai beberapa orang saudara seayah lain ibu masing-masing bernama ; Indrajid/Megananda, putra Dewi Tari, Pratalamariyam, putra Dewi Urangayung, Trisirah putra Dewi Tisnawati, Trimurda putra Dewi Wiraksi serta saudara kembar Trikaya dan Trimuka putra Dewi Wisandi.
Selain sakti, Saksadewa mempunyai pusaka panah sakti bernama Candrasa. Ia juga mempunyai kereta perang yang ditarik singa dan dapat terbang, pemberian Bathara Brahma.
Ketika Anoman mengamuk dan merusak Taman Hargasoka setelah berhasil menemui Dewi Sinta dan menyerahkan cincin Prabu Rama, Saksadewa diperintahkan Prabu Dasamuka untuk menangkap Anoman. Perang seru terjadi,. Kereta perang Saksadewa dapat dihancurkan Anoman, Yaksadewa sendiri akhirnya tewas dalam pertempuran melawan Anoman. Tubuhnya hancur dihantam batang pohon nagasari.

SAKRI

10.44 Add Comment


Bambang SAKRI adalah putra tunggal Resi Sakutrem dengan Dewi Nilawati, dari pertapaan Retawu, puncak gunung Saptaarga. Ia lahir bertepatan dengan terjadinya telaga di gunung tersebut yang kemudian dikenal dengan nama Telaga Retawu.
Bambang Sakri sangat gemar bertapa dan berburu, Ia sangat sakti dan mahir mempergunakan senjata panah. Bambang Sakri menikah dengan Dewi Sati, putri Prabu Partawijaya, raja negara Tabelasuket. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Palasara.
Oleh ayahnya, diserahi padepokan Retawu, Resi Sakutrem kemudian menetap di pertapaan Girisarangan. Setelah Palasara dewasa, padepokan Retawu oleh Resi Sakri diserahkan kepada Palasara. Ia kemudian menetap di pertapaan Argacandi ( gunung yang wingit/angker ), salah satu dari tujuh puncak gunung Saptaarga.
Bambang Sakri banyak berjasa pada Dewata dan Suralaya. Karena itu ia mendapat anugrah gelar  Bathara. I a meninggal dalam usia lanjut. Jenasahnya dimakamkan di pertapaan Argacandi.

SAKIPU

10.41 Add Comment

DITYA SAKIPU atau sering pula disebut Kasipu, adalah patih negara Tasikwaja, atau sering pula disebut negara Gilingwesi di bawah pemerintahan raja Prabu Pracona. Meski bertubuh agak pendek untuk golongan raksasa, Sakipu sangat sakti. Berwatak gagah berani, bengis dan kejam.
Sakipu pergi ke Suralaya melaksanakan perintah Prabu Pracona untuk melamar Dewi Gagarmayang. Lamarannya ditolak Bathara Guru karena melanggar kodrat hidup. Sakipu marah dan mengamuk. Suralaya geger, para Dewa cemas dan ketakutan karena tidak satupun yang dapat mengalahkan Sakipu, lebih - lebih setelah Prabu Pracona juga menyusul dan ikut mengamuk di Suralaya.
Bathara Guru mencari sarana. Bambang Tetuko/Gatotkaca, putra Dewi Arimbi dari negara Pringgandani dengan Bima/Werkudara yang belum berumur sepekan, dipinjam ke Suralaya sebagai jagoan melawan Sakipu dan Prabu Pracona.
Patih Sakipu dan Prabu Pracona akhirnya tewas di tangan Bambang Tetuko yang sebelumnya telah di gembleng, dimasukan ke dalam kawah Candradimuka, diaduk dengan sedala macam senjata milik para Dewa.

SAGUPI

10.38 Add Comment


KEN SAGUPI yang waktu mudanya bernama Yasuda, adalah seorang swarawati keraton Mandura. Selain suaranya sangat merdu. Ia berwajah cantik dan merakati/menarik hati. Sikap dan polahnya serba luwes, sabar dan memiliki tabiat senang menyenangkan hati orang lain.
Dengan hati ikhlas, Ken Sagupi menerima keputusan Prabu Basudewa untuk dinikahkan dengan Antagopa, perjaka tua yang tidak bisa punya keturunan, anak Buyut Gupala pemelihara kebuyutan Widarakanda/Widarakandang. Secara tidak resmi, Ken Sagupi diperistri oleh tiga orang satria Mandura, yaitu kakak beradik, Arya Basudewa, Arya prabu Rukma dan Arya Ugrasena. Dari hubungan suami-isteri itu, Ken Sagupi memperoleh empat orang putra. Dengan Arya Basudewa ia berputra Arya Udawa, dengan Arya Prabu Rukma berputra Dewi Rarasati/larasati, sedang dengan Arya Ugrasena, Ken Sagupi berputra dua orang, Arya Pragota dan Arya Adimanggala.
Selain pandai mengurus dan mengatur rumah tangga, Ken Sagupi juga pandai mengasuh dan mendidik anak. Karena itu ia dipercaya mengasuh Kakrasana, Narayana dan Dewi Sumbadra, putra-putri Prabu Basudewa dengan permaisuri Dewi Mahendra dan Dewi Badrahini.
Ken Sagupi hidup bahagia sampai hari tua. Ia disayang dan sangat dihormati oleh putra-putri asuhnya yang semuanya menjadi orang-orang terhormat.
SAGOTRA

SAGOTRA

10.36 Add Comment
KI SAGOTRA adalah seorang hartawan di dukuh Kebayan. Ia kawin dengan Rara Winihan, anak ketua dukuh tersebut. Bertahun-tahun menjadi suami- istri, tetapi Rara Winhan belum mau juga melayani kasih sayangnya.
Dikisahkan, Pandawa yang selamat dari pembakaran Balai Sigala-gala dalam pengembaraannya sampai di dukuh tersebut. Arjuna yang sedang mencari makanan untuk Nakula dan Sadewa, tiba di tepi sendang dimana Rara Winihan sedang mengambil air sambil duduk membelakangi arah Arjuna datang. Arjuna ingin bertanya dukuh yang dilihatnya itu, kemudian menggamit Rara Winihan pada punggungnya. Rara Winihan terperanjat dan terus berlari pulang kembali ke rumahnya. Arjuna menguntitnya.
Setiba di tempat kediamannya, Ki Sagotra sedang duduk. Ia melihat istrinya berlarilari dan menyongsongnya. Dengan tak sadar Rara Winihan memeluk Ki Sagotra dengan erat sambil berteiak-teriak minta agar Sagotra membunuh orang yang mengejarnya. Ki Sagotra membelainya dan berjanji akan menghadapi orang yang tanpa sopan-santun itu. Tidak lama datanglah Arjuna. Rara.Winihan menunjuk Arjuna bahwa itulah orang yang dimaksud. Setelah tanya jawab, Rara Winihan disuruh menanak nasi dan lauk pauknya. Di pendapa Arjuna menuturkan kisah pengembaraannya dan Sagotra menyampaikan rasa terimakasihnya yang besar karena Arjuna telah dapat menciptakan kasih sayang suami-istri yang sejak kawin sampai saat itu belum pernah dirasakannya. 
Kisah selanjutnya, kepada Ajuna dan keluarga Pandawa, Ki Sagotra berjanji : Bilamana terjadi perang besar antara Pandawa lawan Kurawa, ia sanggup membantu dengan biaya dan makan. Setelah Baratayuda meledak, Sagotra pergi ke Kurusetra untuk menetapi janjinya. Tetapi di tengah jalan ia bertemu dengan Kurawa. Akhirnya Sagotra mati dibunuh Dursasana. Kisah lain, Sagiotra yang bersedia menjadi tawur Pandawa, ketika datang ke Kuursestra nyasar ke perkemahan Kurawa. Ia kemudian dipaksa menjadi tawur Kurawa, dan dibunuh oleh Dursasana. Sukma Sagiotra bejanji akan membalas Dursasana.

SAHADEWA

10.28 Add Comment

SAHADEWA atau Sadewa yang dalam pedalangan Jawa disebut pula dengan nama Tangsen (=buah dari tumbuh–tumbuhan yang daunnya dapat dipergunakan dan dipakai untuk obat) adalah putra ke-lima/bungsu Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari negara Mandaraka. Ia lahir kembar bersama kakanya, Nakula. Sadewa juga mempunyai tiga orang saudara satu ayah, putra Prabu Pandu dengan Dewi Kunti, dari negara Mandura, bernama; Puntadewa, Bima/Werkundara dan Arjuna.
Sadewa adalah titisan Bathara Aswin, Dewa Tabib. Ia sangat mahir dalam ilmu kasidan (Jawa)/seorang mistikus. Mahir menunggang kuda dan mahir menggunakan senjata panah dan lembing. Selain sangat sakti, Sadewa juga memiliki Aji Purnamajati pemberian Ditya Sapulebu, Senapati negara Mretani yang berkhasiat; dapat mengerti dan mengingat dengan jelas pada semua peristiwa. Sadewa mempunyai watak jujur, setia, taat, belas kasih, tahu membalas guna dan dapat menyimpan rahasia. Ia tinggal di kesatrian Bawenatalun/Bumiretawu, wilayah negara Amarta. Sahadewa menikah dengan Dewi Srengginiwati, adik Dewi Srengganawati (Isteri Nakula), putri Resi Badawanganala, kura-kura raksasa yang tinggal di sungai/narmada Wailu (menurut Purwacarita, Badawanangala dikenal sebagai raja negara Gisiksamodra/Ekapratala). Dari perkawinan tersebut ia memperoleh seorang putra bernama Bambang Widapaksa/ Sidapaksa). 
Setelah selesai perang Bharatayuda, Sedewa menjadi patih negara Astina mendampingi Prabu Kalimataya/Prabu Yudhistrira. Akhir riwayatnya di ceritakan, Sahadewa mati moksa bersama ke empat saudaranya.

SADANA

10.23 Add Comment

RADEN SADANA adalah putra ke-dua dari empat bersaudara putra Prabu Sri Mahapunggung, raja negara Medangkamulan dengan Dewi Danawati. Prabu Sri Mahapunggung adalah nama gelar Bathara Srigati, putra Sanghyang Wisnu dengan Dewi Sri Sekar/Sri Widowati yang turun ke Arcapada untuk menjaga kelestarian dunia. Tiga saudara kandungnya yang lain adfalah, Dewi Sri, Wandu dan Oya.
Raden Sadana berwajah sangat tampan, dan memiliki sifat perwatakan: murah hati, baik budi, sabar dan bijaksana. Bersama kakaknya, Dewi Sri, ia dikenal sebagai Dewa lambang kemakmuran hasil bumi. Sadana dikenal sebagai Dewa umbi-umbian, kentang, sayur-sayuran dan buah-buhanan, sedangkan Dewi Sri sebagai Dewa Padi. Oleh karena itu mereka tidak pernah dipisahkan.
Dalam  lakon Sri Sadana diceritakan,  bahwa Sadana meloloskan diri pergi dari  negara Medangkamulan karena dimarahi oleh ayahnya. Dewi Sri setelah mengetahui kepergian adiknya, lalu pergi mencarinya. Setelah melalui berbagai rintangan dan pengalaman pahit karena dalam perjalanan bertemu dengan raksasa
Kalagumarang/Karungkala yang terus menerus mengejarnya. Setelah selamat dari nafsu jahat Karungkala, akhirnya Dewi Sri dapat bertemu kembali dengan Sadana sebagai Dewa Hasil Bumi, Sadana dan kakaknya, Dewi Sri diyakini hidup sampai akhir jaman, sebab mempunyai tugas memberikan kemakmuran kepada masyarakat. 

RUPAKENCA

10.17 Add Comment

RUPAKENCA atau Upakenca (Mahabharta) adalah putra angkat Resi Palasara, dari padepokan Retawu, dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basukesti raja negara Wirata. Ia tercipta dari kemudi perahu yang pecah terbentur batu besar, yang digunakan Resi Palasara dan Dewi Durgandini menyeberangi sungai Gangga. Rupakenca terjadi berbarengan dengan saudaranya yang lain, bernama; Rajamala, Kencaka/Kencakarupa, Setatama, Gandawanadan Dewi Ni Yutisnawati/Rekatawati.
Rupakenca juga mempunyai tiga orang saudara angkat lainnya, bernama; Bagawan Abiyasa, putra Resi Palasara dengan Dewi Durgandini, Citragada dan Wicitrawirya, keduanya putra Dewi
Durgandini dengan Prabu Santanu, raja negara Astina. Rupakenca berwatak tinggi hati, sombong, keras kepala dan mau menangnya sendiri.
Sangat sakti dan mahir dalam olah keprajuritan mempergunakan senjata gada dan lembing.
Akhir riwayatnya diceritakan, Rupakenca tewas dalam peperangan melawan Bilawa/Bima karena bersama saudaranya Kencakarupa, Setatama dan Gandawana melakukan pemberontakan untuk mengulingkan kekuasaan raja Wirata, Prabu Matswapati.

RUKMINI

10.12 Add Comment


DEWI RUKMINI adalah putri sulung Prabu Bismaka / Arya Prabu Rukma, raja negara Kumbina dengan permaisuri Dewi Rumbini. Ia mempunyai adik kandung bernama Arya Rukmana dan saudara lain ibu bernama Dewi Rarasati/Dewi Larasati putri Arya Prabu Rukma dengan Ken Sagupi seorang swarawati keraton Mandura.
Dewi Rukmini menikah dengan saudara sepupunya, Narayana, putra Prabu Basudewa raja negara Mandura dengan permaisuri Dewi Mahendra/Maerah (Jawa). Setelah Narayana berhasil merebut negara Dwarawati dari kekuasaan Prabu Narasinga, dan menobatkan diri sebagai raja Dwarawati bergelar Prabu Sri Bathara Kresna, Dewi Rukmini diangkat menjadi permaisuri. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh 3 (tiga) orang putra masing-masing
bernama: Saranadewa (berwujud raksasa), Partadewa dan Dewi Titisari/Sitisari, yang setelah dewasa menjadi isteri Bambang Irawan, putra Arjuna dengan Dewi Ulupi/Palupi.
Dewi Rukmini berwatak : penuh belas kasih, sabar, setia dan jatmika (selalu dengan sopan santun). Ia meningal dalam usia lanjut. Setelah Prabu Kresna mati moksa, ia bersama isteri Prabu Kresna yang lain, terjun ke dalam Pancaka (api pembakaran jenazah), bela pati menyusul suaminya kembali ke Nirwana.

RUKMARATA

10.08 Add Comment

BAMBANG RUKMARATA adalah putra bungsu Prabu Salya, raja negara Mandaraka dengan Permaisuri Dewi Pujawati/Setyawati, putri tunggal Bagawan Bagaspati dari pertapaan Argabelah. Ia mempunyai empat orang saudara kandung, yaitu; Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati dan Arya Burisrawa.
Rukmarata mempunyai sifat dan perwatakan; halus, tenang, cerdik pandai, hatinya keras dan sedikit suka usil. Ia tewas di hantam gada Kyai Pecatnyawa oleh Resi Seta, putra Prabu Matswapati dari negara Wirata, pada awal perang Bharatayuda akibat dari keusilannya, memanah Resi Seta dari luar garis pertempuran.

RUKMAKA dan RUKMAKALA

10.06 Add Comment


RUKMAKA dan RUKMAKALA adalah raksasa penjelamaan Bathara Indra dan Bathara Bayu. Kedua raksasa ini hanya tampil dalam lakon ―De waruc i‖ yait u k is ah t ent ang perjuangan B im a dalam upaya mencari Tirta Amrta (air kehidiupan) atau Prawitasari atas perintah gurunya, Resi Drona.
Rukmaka dan Rukmakala bertempat tinggal dii gunung Reksamuka dengan maksud menghadanh Bima untuk memberiitahukan, bahwa Tirta Amrta yang ditunjukkan oleh Resi Drona tidak berada di gunung Reksamuka. Bima yang merasa dihalang-halangi usahanya menjad marah, maka terjadilah peperangan melawan kedua raksasa tersebut. Rukmaka dan Rukmakala baru bisa dikalahkan Bima setelah kepala mereka saling dibenturkan atau diadu kumba. Matilah kedua raksasa itu dan jasadnya kembali menjelma sebagai Bathara Indra dan Bathara Bayu.  Kepada Bima, kedua dewa itu kemudian memberikan fatwa-fatwa dan petunjukpetunjuk mengenai kebenaran yang sangat berguna bagi Bima. Kepada Bima kedua dewa itu juga menjelaskan bahwa perintah Resi Drona adalah tidak menyesatkan karena sesungguhnya Tirta Amta tidak ada di dunia. 
RUDRA

RUDRA

10.03 Add Comment
SANGHYANG RUDRA adalah putra ketiga Sanghyang Tunggal dengan Dewi Dremani. Ia mempunyai dua orang kakak kandung masing-masing bernama ; Bathari Darmastuti dan Bathara Dewanjali. Sanghyang Rudra juga mempunyai tiga orang saudara seayah lain ibu, putra Sanghyang Tunggal dengan Dewi Rekatawati, masing - masing bernama : Sanghyang Antaga, Sanghyang Ismaya dan Sanghyang Manikmaya.
Sanghyang Rudra mendapat julukan sebagai Dewa Angkara karena sifat dan perwatakannya yang keras hati dan cepat marah. Karena sifat dan perwatakannya itulah Sanghyang Rudra sering turun ke Arcapada, menjelma sebagai raksasa dan melakukan perkawinan gandarwa dengan para raseksi yang kemudian melahirkan para raksasa sakti karena mendapat ilmu kesaktian darinya. Karena itulah dikalangan golongan raksasa, Sanghyang Rudra dianggap sebagai dewa kebajikan, karena kepada raksasa yang bertapa memujanya Sanghyang Rudra tidak segan-segan memberikan berbagai ilmu kesaktian dan senjata pamungkas.
Untuk melampiaskan nafsu angkaranya, beberapa kali Sanghyang Rudra turun ke arcpada menitis pada raja raksasa. Pada jaman Lokapala ia pernah menitis pada Prabu Hiranyakasipu, raja Alengka dan pada Saksadewa, putra Rahwana. Pada jaman Mahabharata, Sanghyang Rudra pernah menitis pada Prabu Nilarudraka, raja raksasa negara Tanjung Parang yang menyerang kahyangan dan akhirnya tewas dalam peperangan melawan Ganesa, manusia berkepala gajah, putra Bhatara Guru dengan Dewi Uma. 
RETNA KASIMPAR

RETNA KASIMPAR

10.02 Add Comment
DEWI RETNA KASIMPAR adalah putri Prabu Jayaindra, raja negara Tasikmadu dengan permaisuri Dewi Retnawati. Ia mempunyai saudara lain ibu bernama Dewi Retnajuwita, putri prabu Jayaindra dengan Dewi Ceklatoma.
Dewi Retna Kasimpar merupakan satu-satunya wanita di dunia yang memiliki gajah putih dan sekaligus menjadi pawangnya. Gajah putih berpawang wanita/putri ini pernah menjadi persyaratan Dewi Banowati, putri ketiga Prabu Salya dengan Dewi Pujawati/Setyawati dari negara Mandaraka, untuk dapat menerima pinangan Prabu Duryudana, raja negara Astina. Arjuna yang dimintai bantuan oleh keluarga kurawa, berhasil mendapatkan Dewi Retna Kasimpar dan gajah putihnya, setelah lebih dulu mengalahkan Prabu Kurandageni, raja negara Tirtakandasan yang ingin memperistri Dewi Retna Kasimpar.
Dewi Retna Kasimpar kemudian menjadi isteri Arjuna. Dari perkawinan tersebut ia tidak mempunyai putra.

RESI PADMANABA

09.43 Add Comment

Resi Padmanaba adalah titisan dari Wisnu Anjali. Wisnu Anjali adalah kerabat Sanghyang Wisnu yang berkewajiban membina kesejahteraan di dalam lingkungan para pendeta. Ia lebih banyak tinggal di arcapada, menjelma sebagai brahmana atau satria mendamping penjelmaan Sanghyang Wisnu dalam melaksanakan tugas menjaga ketentaraman dan kesejahteraan dunia. Pada jaman Lokapala (sebelum jaman Ramayana), Wisnu Anjali menitis pada Resi Supadma, ayah Resi Wisrawa atau kakek Rahwana di pertapaan Girijembatan. Tugasnya memberi ajaran kebajikan di kalangan para raksasa yang waktu itu menjadi penduduk terbesar di wilayah Lokapala dan Alengka. Pada jaman Ramayana, Wisnu Anjali menjelma sebagai Resi Sutikna di pertapaan Kutarunggu/Citrakuta untuk menyampaikan ajaran ilmu Asthabrata yang berisikan delapan ajaran kepemimpinan yang bersumber dari derlapan unsur alam kepada Ramawijaya. Ia kemudian manuksma dan bersatu dengan Arya Wibisana, putra Bagawan Wisrawa dengan Dewi Sukesi, dan saudara muda Prabu Rahwana, raja Alengka. 
Resi Padmanaba dari pertapaan Untarayana menjadi guru Arjuna dan Narayana/Sri Kresna. Setelah memeberikan bunga Wijayakusuma dan senjata Cakra kepada Narayana, Resi Padmanaba kemudian manukswa dan bersatu dengan diri Sri Kresna. Beberapa tahun kemudian, Wisnu Anjali sejiwa dan manuksma di dalam diri Resi Kesawasidi di gunung Kutarunggu, untuk memberikan wejangan ajaran ilmu Asthabrata kepada Arjuna.

RENUKA

09.36 Add Comment


DEWI RENUKA adalah putri Prabu Prasnajid. Ia menikah dengan Prabu Jamadagni, raja negara Kanyakawaya, putra brahmana Ricika dengan Dewi Setyawati. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh lima orang putra lelaki, dan putra bungsunya bernama Ramaparasu.
Ketika Prabu Jamadagni memutuskan untuk hidup sebagai brahmana, Dewi Renuka dan kelima putranya ikut boyong ke pertapaan Dewasana. Mereka hidup dalam kebahagiaan sampai suatu peristiwa sedih melanda kehidupan mereka. Suatu ketika Dewi Renuka tergiur oleh ketampanan Prabu Citarata dan mereka melakukan perkawinan gandarwa (perselingkuhan seksual). Perbuatan terkutuk itu diketahui Resi Jamadagni, yang kemudian menyuruh Ramaparasu untuk membunuh Dewi Renuka, sebagai upaya penebusan dosa. Tapi
kemudian Dewi Renuka dihidupkan kembali oleh Resi Jamadagni atas permintaan Ramaparasu. Dewi Renuka kembali hidup bahagia bersama suami dan kelima putranya sampai suatu malapetaka menimpa kebahagiaan mereka. Pertapaan Dewasana diserbu balatentara Prabu Hehaya, dan Resi Jamadagni gugur dalam peperangan. Kesedihan Dewi Renuka pun semakin bertambah, ketika Ramaparasu pergi meninggalkan pertapaan Dewasana, menggembara untuk melaksanakan sumpahnya yang akan membunuh semua satria yang dijumpainya. Akhir riwayat Dewi Renuka diceritakan, ia meninggal dalam kesedihan setelah satu persatu dari ke empat putranya meninggal dunia.
REKATAWATI

REKATAWATI

09.32 Add Comment
DEWI REKATAWATI dikenal pula dengan nama Dewi Rakti atau Dewi Wirandi. Ia adalah putri Prabu Yuyut/Resi Rekatama, berwujud ketam/yuyu, raja negara Samodralaya. Oleh Sanghyang Wenang, Dewi Rekatawati dinikahkan dengan Sanghyang Tunggal putra Sanghyang Wenang dengan Dewi Sahoti.
Karena Sanghyang Tunggal berwujud "akyan" (makluk halus) maka yang lahir dari kandungannya berwujud sebutir telur, terbang melayang-layang yang setelah ditangkap oleh Sanghyang Tunggal pecah berubah wujud menjadi tiga orang anak kembar. Sama-sama tampan, cakap dan memancarkan cahaya keagungan. Oleh Sanghyang Tunggal ketiga putranya tersebut masing-masing diberi nama : Sanghyang Tejamaya/Antaga (terjadi dari kulit telur), Sanghyang Ismaya (terjadi dari putih telur) dan Sanghyang Manikmaya (terjadi dari kuning telur).
Karena berwujud badan rokhani, hidup Dewi Rekatawati bersifat abadi. Ia bersemayam di kahyangan Alangalangkumitir.
RAWATMAJA

RAWATMAJA

09.31 Add Comment
RESI RAWATMAJA adalah brahmana tua dari pertapaan Puncakmolah yang terletak di hutan Dandaka. Ia bersahabat baik dengan Garuda Sempati, putra Resi Bisrawa.
Resi Rawatmaja adalah brahmana wadat/tidak bersentuhan dengan lain jenis. Tapi untuk melaksanakan dharma, ia bersedia melakasanakan perintah Bhatara Narada untuk memperistri Dewi Kusalya, putri Prabu Banaputra raja negara Ayodya, yang sedang menderita penyakit lumpuh. Perkawinannya dengan Dewi Kusalya hanyalah sebagai perantara untuk dapat mempertemukan Dewi Kusalya dengan Dasarata. Oleh Dewata, Dasarata yang saat itu sedang berguru pada Resi Yogiswara di pertapaan Yogisrama telah ditetapkan menjadi suami yang sesungguhnya dari Dewi Kusalya.
Dengan air mukjizat Mayamahadi pemberian Bathara Narada, Resi Rawatmaja berhasil menyembuhkan penyakit Dewi Kusalya dan berhak menjadi suaminya sesuai bunyi sayembara. Tapi belum usai pesta perkawinan, negara Ayodya telah diserang Prabu Dasamuka, raja negara Alengka. Resi Rawatmaja yang berusaha melindungi Dewi Kusalya, dan membawanya lari ke pertapaan Puncakmolah, tewas dalam pertempuran melawan Prabu Dasamuka. Namun sebelum menemui ajalnya. Resi Rawatmaja masih sempat memberitahu Dewi Kusalya, bahwa suami yang sesungguhnya benama Dasarata dan kini berada di pertapaan Yogisrama menjadi murid Resi Yogiswara.

RATRI

09.29 Add Comment

DEWI RATRI adalah putri Prabu Yudhistira, raja jin negara Mertani dengan permaisuri Dewi Rahina, putri Prabu Kumbala dengan Dewi Sumirat dari negara Madukara.
Ketika negara Mertani ditaklukkan oleh keluarga Pandawa, putra-putra Prabu Pandu, raja Astina dengan Dewi Kunti dan Dewi Madrim, Prabu Yudhisira kemudian manuksma, manunggal dalam tubuh Puntadewa, sulung Pandawa. Sementara itu adik Prabu Yudistra, Arya Dananjaya yang menguasai negera Madukara manunggal dalam diri Arjuna. Sebelum meninggal, Arya Dananjaya berpesan, agar Arjuna mengawini Dewi Ratri, karena sesunguhnya Dewi Ratri yang memiliki hak waris atas negara Madukara. Amanat itu dilaksanakan oleh Arjuna. Setelah negara menjadi aman dan negara jin Mertani berubah menjadi negera Amarta, Arjuna kemudian mengawini Dewi Ratri.
Dalam perkawinannya dengan Arjuna, Dewi Ratri memperoleh seorang putra yang bernama, Bambang Wijanarka. 

RATIH

09.27 Add Comment

DEWI RATIH atau Dewi Kamaratih, adalah putri Bathara Soma, putra Sanghyang Pancaresi yang berarti keturunan Sanghyang Wening, adik Sanghyang Wenang. Dewi Ratih menikah dengan Bathara Kamajaya, putra kesembilan Sanghyang Ismaya dengan Dewi Senggani. Ia bertempat tinggal di Kahyangan Cakrakembang.
Dewi Ratih berwajah sangat cantik, memiliki sifat dan perwatakan; sangat setia dan cinta kasih, murah hati, baik budi, sabar dan sangat berbakti terhadap suami. Bersama suaminya Bathara Kamajaya, suami-istri tersebut merupakan lambang kerukunan suami-istri di jagad raya. Karena kerukunannya dan cinta kasihnya satu dengan yang lain.
Dewi Ratih pernah ditugaskan oleh Sanghyang Manikmaya untuk menurunkan Wahyu Hidayat kepada Dewi Utari, putra bungsu Prabu Matswapati raja negara Wirata dengan permaisuri Dewi Ni Yutisnawati/ Setyawati. Wahyu Hidayat diturunkan sebagai pasangan Wahyu Cakraningrat yang diturunkan Bathara Kamajaya kepada Raden Abimanyu/Angkawijaya, putra Arjuna dengan Dewi Sumbadra.
Sebagaimana halnya para dewa lainnya, hidup Dewi Ratih pun bersifat abadi, tidak mengenal kematian.
Syekh Siti Jenar

Syekh Siti Jenar

09.27 Add Comment
Syekh Siti Jenar (juga dikenal dalam banyak nama lain, antara lain Sitibrit, Lemahbang, dan
Lemah Abang) adalah seorang tokoh yang dianggap Sufi dan juga salah satu penyebar agama
Islam di Pulau Jawa. Tidak ada yang mengetahui secara pasti asal-usulnya. Di masyarakat
terdapat banyak varian cerita mengenai asal-usul Syekh Siti Jenar.

Sebagian umat Islam menganggapnya sesat karena ajarannya yang terkenal, yaitu Manunggaling
Kawula Gusti. Akan tetapi sebagian yang lain menganggap bahwa Syekh Siti Jenar adalah
intelektual yang sudah mendapatkan esensi Islam itu sendiri. Ajaran – ajarannya tertuang dalam
pupuh, yaitu karya sastra yang dibuatnya. Meskipun demikian, ajaran yang sangat mulia dari
Syekh Siti Jenar adalah budi pekerti.
Syekh Siti Jenar mengembangkan ajaran cara hidup sufi yang dinilai bertentangan dengan
ajaran Walisongo. Pertentangan praktek sufi Syekh Siti Jenar denganWalis ongo terletak pada
penekanan aspek formal ketentuan syariah yang dilakukan olehWalis on go.
a. Konsep dan Ajaran

Ajaran Syekh Siti Jenar yang paling kontroversial terkait dengan konsepnya tentang hidup dan
mati, Tuhan dan kebebasan, serta tempat berlakunya syariat tersebut. Syekh Siti Jenar
memandang bahwa kehidupan manusia di dunia ini disebut sebagai kematian. Sebaliknya, yaitu
apa yang disebut umum sebagai kematian justru disebut sebagai awal dari kehidupan yang hakiki
dan abadi.

Konsekuensinya, ia tidak dapat dikenai hukum yang bersifat keduniawian (hukum negara dan
lainnnya), tidak termasuk didalamnya hukum syariat peribadatan sebagaimana ketentuan syariah.
Dan menurut ulama pada masa itu yang memahami inti ajaran Siti Jenar bahwa manusia di dunia
ini tidak harus memenuhi rukun Islam yang lima, yaitu: syahadat, shalat, puasa, zakat dan haji.
Baginya, syariah itu baru berlaku sesudah manusia menjalani kehidupan paska kematian. Syekh
Siti Jenar juga berpendapat bahwa Allah itu ada dalam dirinya, yaitu di dalam budi. Pemahaman
inilah yang dipropagandakan oleh para ulama pada masa itu. Mirip dengan konsep Al-Hallaj
(tokoh sufi Islam yang dihukum mati pada awal sejarah perkembangan Islam sekitar abad ke-9
Masehi) tentang Hulul yang berkaitan dengan kesamaan sifat manusia dan Tuhan. Dimana
Pemahaman ketauhidan harus dilewati melalui 4 tahapan ; 1. Syariat (dengan menjalankan
hukum-hukum agama spt sholat, zakat dll); 2. Tarekat, dengan melakukan amalan-amalan spt
wirid, dzikir dalam waktu dan hitungan tertentu; 3. Hakekat, dimana hakekat dari manusia dan
kesejatian hidup akan ditemukan; dan 4. Ma’rifat, kecintaan kepada Allah dengan makna seluas-
luasnya. Bukan berarti bahwa setelah memasuki tahapan-tahapan tersebut maka tahapan
dibawahnya ditiadakan. Pemahaman inilah yang kurang bisa dimengerti oleh para ulama pada
masa itu tentang ilmu tasawuf yang disampaikan oleh Syekh Siti Jenar. Ilmu yang baru bisa
dipahami setelah melewati ratusan tahun pasca wafatnya sang Syekh. Para ulama
mengkhawatirkan adanya kesalahpahaman dalam menerima ajaran yang disampaikan oleh Syekh
Siti Jenar kepada masyarakat awam dimana pada masa itu ajaran Islam yang harus disampaikan
adalah pada tingkatan ’syariat’. Sedangkan ajaran Siti Jenar sudah memasuki tahap ‘hakekat’ dan
bahkan ‘ma’rifat’kepada Allah (kecintaan dan pengetahuan yang mendalam kepada ALLAH).

Oleh karenanya, ajaran yang disampaikan oleh Siti Jenar hanya dapat dibendung dengan kata
‘SESAT’.

Dalam pupuhnya, Syekh Siti Jenar merasa malu apabila harus berdebat masalah agama.
Alasannya sederhana, yaitu dalam agama apapun, setiap pemeluk sebenarnya menyembah zat
Yang Maha Kuasa. Hanya saja masing – masing menyembah dengan menyebut nama yang
berbeda – beda dan menjalankan ajaran dengan cara yang belum tentu sama. Oleh karena itu,
masing – masing pemeluk tidak perlu saling berdebat untuk mendapat pengakuan bahwa
agamanya yang paling benar.
Syekh Siti Jenar juga mengajarkan agar seseorang dapat lebih mengutamakan prinsip ikhlas
dalam menjalankan ibadah. Orang yang beribadah dengan mengharapkan surga atau pahala
berarti belum bisa disebut ikhlas.
b.Manunggaling Kawula Gusti

Dalam ajarannya ini, pendukungnya berpendapat bahwa Syekh Siti Jenar tidak pernah
menyebut dirinya sebagai Tuhan. Manunggaling Kawula Gusti dianggap bukan berarti
bercampurnya Tuhan dengan Makhluknya, melainkan bahwa Sang Pencipta adalah tempat
kembali semua makhluk. Dan dengan kembali kepada Tuhannya, manusia telah menjadi sangat
dekat dengan Tuhannya.

Dan dalam ajarannya, ‘Manunggaling Kawula Gusti’ adalah bahwa di dalam diri manusia
terdapat ruh yang berasal dari ruh Tuhan sesuai dengan ayat Al Qur’an yang menerangkan
tentang penciptaan manusia (“Ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku
akan menciptakan manusia dari tanah. Maka apabila telah Kusempurnakan kejadiannya dan
Kutiupkan kepadanya roh Ku; maka hendaklah kamu tersungkur dengan bersujud kepadanya
(Shaad; 71-72)”)>. Dengan demikian ruh manusia akan menyatu dengan ruh Tuhan dikala
penyembahan terhadap Tuhan terjadi.

Perbedaan penafsiran ayat Al Qur’an dari para murid Syekh Siti inilah yang menimbulkan
polemik bahwa di dalam tubuh manusia bersemayam ruh Tuhan, yaitu polemik paham
‘Manunggaling Kawula Gusti’.
c. Pengertian Zadhab

Dalam kondisi manusia modern seperti saat ini sering temui manusia yang mengalami hal ini terutama dalam agama Islam yang sering disebut zadhab atau kegilaan berlebihan terhadap Illa yang maha Agung atau Allah.

Mereka belajar tentang bagaimana Allah bekerja, sehingga ketika keinginannya sudah lebur
terhadap kehendak Allah, maka yang ada dalam pikirannya hanya Allah, Allah, Allah dan
Allah…. disekelilingnya tidak tampak manusia lain tapi hanya Allah yang berkehendak, Setiap
Kejadian adalah maksud Allah terhadap Hamba ini…. dan inilah yang dibahayakan karena
apabila tidak ada GURU yang Mursyid yang berpedoman pada AlQuran dan Hadits maka hamba
ini akan keluar dari semua aturan yang telah ditetapkan Allah untuk manusia.Karena hamba ini akan gampang terpengaruh syaitan, semakin tinggi tingkat keimanannya maka semakin tinggi juga Syaitan menjerumuskannya.Seperti contohnya Lia Eden dll… mereka adalah hamba yang ingin dekat dengan Allah tanpa pembimbing yang telah melewati masa ini, karena apabila telah melewati masa ini maka hamba tersebut harus turun agar bisa mengajarkan yang HAK kepada manusia lain seperti juga Rasullah pun telah melewati masa ini dan apabila manusia tidak mau turun tingkatan maka hamba ini akan menjadi seprti nabi Isa AS.Maka Nabi ISA diangkat Allah beserta jasadnya. Seperti juga Syekh Siti Jenar yang kematiannya menjadi kontroversi.Dalam masyarakat jawa kematian ini disebut “MUKSO” ruh beserta jasadnya diangkat Allah.
d. Hamamayu Hayuning Bawana

Prinsip ini berarti memakmurkan bumi. Ini mirip dengan pesan utama Islam, yaitu rahmatan lil
alamin. Seorang dianggap muslim, salah satunya apabila dia bisa memberikan manfaat bagi
lingkungannya dan bukannya menciptakan kerusakan di bumi.
e. Kontroversi

Kontroversi yang lebih hebat terjadi di sekitar kematian Syekh Siti Jenar. Ajarannya yang amat
kontroversial itu telah membuat gelisah para pejabat kerajaan Demak Bintoro. Di sisi kekuasaan,
Kerajaan Demak khawatir ajaran ini akan berujung pada pemberontakan mengingat salah satu
murid Syekh Siti Jenar, Ki Ageng Pengging atau Ki Kebokenanga adalah keturunan elite
Majapahit (sama seperti Raden Patah) dan mengakibatkan konflik di antara keduanya.

Dari sisi agama Islam, Walisongo yang menopang kekuasaan Demak Bintoro, khawatir ajaran ini
akan terus berkembang sehingga menyebarkan kesesatan di kalangan umat. Kegelisahan ini
membuat mereka merencanakan satu tindakan bagi Syekh Siti Jenar yaitu harus segera
menghadap Demak Bintoro. Pengiriman utusan Syekh Dumbo dan Pangeran Bayat ternyata tak
cukup untuk dapat membuat Siti Jenar memenuhi panggilan Sri Narendra Raja Demak Bintoro
untuk menghadap ke Kerajaan Demak. Hingga konon akhirnya para Walisongo sendiri yang
akhirnya datang ke Desa Krendhasawa di mana perguruan Siti Jenar berada.[rujukan?]

Para Wali dan pihak kerajaan sepakat untuk menjatuhkan hukuman mati bagi Syekh Siti Jenar dengan tuduhan telah membangkang kepada raja. Maka berangkatlah lima wali yang diusulkan oleh Syekh Maulana Maghribi ke Desa Krendhasawa. Kelima wali itu adalah Sunan Bonang, Sunan Kalijaga, Pangeran Modang, Sunan Kudus, dan Sunan Geseng.
Sesampainya di sana, terjadi perdebatan dan adu ilmu antara kelima wali tersebut denganSiti
Jenar. Menurut Siti Jenar, kelima wali tersebut tidak usah repot-repot ingin membunuh Siti
Jenar. Karena beliau dapat meminum tirtamarta (air kehidupan) sendiri. Ia dapat menjelang
kehidupan yang hakiki jika memang ia dan budinya menghendaki.

Tak lama, terbujurlah jenazah Siti Jenar di hadapan kelima wali. Ketika hal ini diketahui oleh
murid-muridnya, serentak keempat muridnya yang benar-benar pandai yaitu Ki Bisono, Ki
Donoboyo, Ki Chantulo dan Ki Pringgoboyo pun mengakhiri “kematian”-nya dengan cara yang
misterius seperti yang dilakukan oleh gurunya di hadapan para wali.

f. Kisah pada saat pasca kematian

Terdapat kisah yang menyebutkan bahwa ketika jenazah Siti Jenar disemayamkan di Masjid
Demak, menjelang salat Isya, semerbak beribu bunga dan cahaya kilau kemilau memancar dari
jenazah Siti Jenar.
Jenazah Siti Jenar sendiri dikuburkan di bawah Masjid Demak oleh para wali. Pendapat lain
mengatakan, ia dimakamkan di Masjid Mantingan, Jepara, dengan nama lain.

Setelah tersiar kabar kematian Syekh Siti Jenar, banyak muridnya yang mengikuti jejak gurunya untuk menuju kehidupan yang hakiki. Di antaranya yang terceritakan adalah Kiai Lonthang dari Semarang Ki Kebokenanga dan Ki Ageng Tingkir.

RARASATI

09.24 Add Comment

DEWI RARASATI atau Dewi Larasati, konon adalah putri Arya Prabu Rukma yang setelah naik tahta negara Kumbina bergelar Prabu Bismaka, dengan Ken Sagupi, seorang swarawati keraton Mandura. Setelah Ken Sagupi dikawinkan dengan Antagopa, seorang gembala dan tinggal di Kebuyutan Widarakanda/Widarakandang, Dewi Rarasati dianggap sebagai putri Ken Sagupi dengan Antagopa.
Dari garis keturunan ayahnya, Arya Prabu Rukma, Dewi Rarasati mempunyai seorang saudara bernama Dewi Rukmini (istri Prabu Kresna), putri Arya Prabu Rukma.dengan permaisuri Dewi Rumbini. Sedangkan dari garis keturunan ibuny, Ken Sagupi, ia mempunyai tiga orang saudara, yaitu : Arya Udawa, putra Ken Sagupi dengan Arya Basudewa, dan Arya Pragota serta Arya Adimanggala, keduanya putra Ken Sagupi dengan Arya Ugrasena.
Dewi Rarasati berwatak setia, patuh dan berbakti. Ia memiliki tabiat senang menyenangkan hati orang lain, sabar, sangat menginsyafi, mengerti dan menguasai dirinya. Selain pandai dalam mengurus rumah tangga. Dewi Rarasati juga pandai berolah keparajuritan. Ia mahir menggunakan senjata panah dan keris. Dewi Rarasati menikah dengan Arjuna dan menjadi isterinya yang pertama. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra bernama; Bambang Sumitra dan Bratalaras. Ia sangat dekat hubungannya dengan Dewi Sumbadra, istri pertama Arjuna, karena semasa kecil hidup bersama di Widarakandang. 

RAMAWIJAYA

09.22 Add Comment

RAMAWIJAYA dikenal pula dengan nama Ramayana, Ramaragawa, Ramacandra, Ramabadra, Rawadewa dan Raguputra. Ia merupakan putra tunggal Prabu Dasarata, raja negara Ayodya dengan permaisuri Dewi Kusalya. Ramawijaya mempunyai empat orang saudara seayah lain ibu masing-masing bernama ; Leksmana/Leksmanawidagda dari permaisuri Dewi Sumitra, Barata, Satrugna dan Dewi Kawakwa dari permaisuri Dewi Kekayi.
Rama adalah titisan Dewa Wisnu yang bertugas menciptakan kesejahteraan dunia. Ia berjuang bersama adiknya, Leksmana. Rama menikah dengan Dewi Sinta, titisan Bathari Sri Widowati. putri Prabu Janaka raja negara Mantili. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh dua orang putra masing-masing bernama; Lawa dan Kusya.
Rama berkedudukan sebagai putra mahkota Ayodya. Tapi ia gagal naik tahta karena Prabu Dasarata terpaksa memenuhi tuntutan Dewi Kekayi yang menghendaki Barata sebagai raja Ayodya. Rama bahkan harus meningggalkan Ayodya, menjalani pengasingan selama 13 tahun. Berbagai dharma satria telah dilaksanakan oleh Ramawijaya. Ia telah mengalahkan dan menyadarkan Ramaparasu yang salah menjalankan dharmanya. Rama juga membunuh Resi Subali, putra Resi Gotamadari dari pertapaan Grastina/Daksinapata karena bersikap angkara murka. Terakhir, Rama berhasil, membunuh Prabu Dasamuka, raja negara Alengka, yang bukan saja menculik Dewi Sinta, tetapi juga telah berbuat angkara murka dan menimbulkan berbagai kesengsaraan umat Ancapada.
Setelah berakhirnya perang Alengka dan 13 tahun hidup dalam pengasingan, Rama kembali ke negara Ayodya. Ia naik tahta negara Ayodya, menggantikan Prabu Barata yang mengundurkan diri. Ramawijaya meninggal dalam usia lanjut dan jenazahnya dimakamkan di gunung Kutarunggu. 
RAMAPARASU

RAMAPARASU

09.17 Add Comment
RAMAPARASU adalah putra bungsu dari lima bersaudara lelaki, putra Prabu Jamadagni raja negara Kanyakawaya yang kemudian hidup sebagai brahmana di pertapaan Dewasana. Ibunya bernama Dewi Renuka, putri Prabu Prasnajid. Ramaparasu adalah seorang brahmancari/tidak kawin, karena sangat menggemari olah kejiwaan. Ia juga menekuni olah kesaktian dan olah keprajuritan hingga menjadi sangat sakti. Ramaparasu berperawakan birawa/gagah perkasa, mempunyai pusaka berwujud busur beserta anak panahnya yang luar biasa besarnya dan bernama Bargawasta (panah Sang Bargawa).
Ketika ayahnya, Resi Jamadagni dibunuh Prabu Hehaya, timbul kebencian Ramaparasu terhadap golongan satria dan bersumpah akan membunuh setiap satria yang dijumpainya. Ia kemudian pergi mengembara. Setiap satria yang dijumpainya ditantangnya mengadu kesaktian. Tak satupun yang berhasil mengalahkannya. Hampir seluruh satria Wangsa Hehaya binasa ditangannya.
Setelah usianya semakin tua, ia ingin muksa. Dicarinya satria penjelmaan Dewa Wisnu, karena hanya dialah yang bisa membunuhnya. Ramaparasu bertemu dan bertanding dengan Prabu Arjunasasrabahu, raja negara Maespati yang diyakini sebagai titisan Dewa Wisnu. Tapi Arjnasasrabahu dapat dikalahkannya. Akhirnya Ramaparasu bertemu dengan Ramawijaya, putra Prabu Dasarata dengan Dewi Kusalya dari negara Ayodya. Ramaparasu kalah bertanding melawan Ramawijaya. Ketika ia minta muksa Ramawijaya menganjurkan untuk kembali bertapa. Ramaparasu kemudian kembali ke petapaan Dewasana, hidup sebagai brahmana bergelar Resi Ramaparasu. Selama hidupnya ia hanya mempunyai tiga orang urid, yaitu; Bisma, Drona dan Karna. 

RAJAMALA

09.16 Add Comment

RAJAMALA adalah putra angkat Resi Palasara, dari padepokan Retawu dengan Dewi Durgandini, putri Prabu Basukesti raja negara Wirata. Ia tercipta dari mala penyakit Dewi Durgandini/Dewi Lara Amis yang tertelan seekor ikan betina. Ia terjadi berbarengan dengan saudaranya yang lain, bernama; Kecaka/Kencakarupa, Upakeca/Rupakenca, Setatama, Gandawana dan Dewi Ni Yutisnawati/Rekatawati.
Rajamala juga mempunyai tiga orang saudara angkat lainnya yaitu : Bagawan Abiyasa, putra Resi Palasara dengan Dewi Durgandini, Citragada dan Wicitrawiya, keduanya putra Dewi Duragandini dengan Prabu Santanu, raja negara Astina. Rajamala berwatak keras hati, berani, ingin selalu menangnya sendiri dan selalu menurutkan kata hati. Ia sangat sakti, tidak bisa mati selama masih terkena air. Menurut ketentuan dewata, hanya ada lima orang satria yang dapat mengalahkan dan membunuh Rajamala, yaitu: Resi Bisma, Adipati Karna, Resi Balarama/Baladewa, Duryudana dan Bima.
Rajamala akhirnya tewas dalam peperangan melawan Bima, yang waktu itu hidup menyamar dinegara Wirata dengan nama Balawa, sebagai tindakan Rajamala yang ingin menjamah Salidri nama samaran Dewi Drupadi.

RADEYA

09.11 Add Comment

PRABU RADEYA adalah raja negara Petapralaya. Di dalam cerita pedalangan Jawa, Prabu Radeya mempunyai anak angkat bernama Basukarna atau Aradeya yang sesungguhnya putra Bathara Surya dengan Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti raja negara Mandura. Basukarna diambil sebagai anak ketika Prabu Radeya masih menjalani bulan madu dengan istrinya, Dewi Nirada, sebagai persyaratan agar segera mempunyai anak sendiri.Sedangkan menurut Mahabharata yang mengambil Basukarna sebagai anak adalah suami-istri Adirata dan Ni Rada, sais kereta kerajaan Astina.
Dari perkawinannya dengan Dewi Nirada, Prabu Radeya memperoleh dua orang putra-putri, masing-masing bernama ; Bambang Suryanirada dan Dewi Suryawati. Tokoh Prabu Radeya hanya ditampilkan dalam lakon "Alap-alapan Surtikanti",
kisah perkawinan Basukarna/Suryaputra dengan Dewi Surtikanti, putri kedua Prabu Salya dengan Dewi Pujawati/Setyawati dari negara Mandaraka.
Dalam peristiwa perang besar Bharatayudha antara keluarga Pandawa dan Kurawa di Tegal Kurusetra, Prabu Radeya berpihak pada keluarga Kurawa. Ia maju ke medan pertempuran memimpin sendiri prajurit negara Petapralaya. Prabu Radeya tewas dalam pertempuran melawan Arjuna.

PURWAGANTI

09.09 Add Comment

BAMBANG PURWAGANTI hanya dikenal dalam cerita pedalangan Jawa. Ia putra Resi Mayangkara/Anoman, kera putih yang menjadi pertapa di pertapaan Kendalisada. Ibunya bernama Dewi Purwati, putri Resi Purwapada dari pertapaan Andonsumawi. Bambang Purwaganti mempunyai saudara seayah lain ibu, putra Dewi Urangrayung, putri Bagawan Minalodra dari pertapaan Kandabumi, bernama Trigangga/Trihangga yang berwujud manara (manusia kera) berbulu putih.
Purwaganti adalah kesatria yang gagah berani, cerdik pandai, tangkas, baik tingkah lakunya dan selalu memegang teguh rasa keperwiraannya. Purwaganti pernah menyelanmatkan keluarga Pandawa/negara Amarta. Pada saat itu Purwaganti yang sedang mencari ayahnya,
Anoman di perjalanan bertemu dengan Prabu Kresna. Ia dijanjikan akan dipertemukan dengan ayahnya apabila bisa membinasakan Patih Dasagriwa dari negara Purwantara yang ingin menaklukkan keluarga Pandawa dan Kurawa atas perintah rajanya, Prabu Dewakusma.
Akhirnya Purwaganti berhasil mengalahkan Dasagriwa, sedangkan Prabu Dewakusuma berhasil dikalahkan Nakula dan badar (kembali kewujud aslinya) sebagai Sahadewa. Atas jasa Prabu Kresna, Purwaganti kemudian dapat bertemu dengan ayahnya, Anoman. 
Dari perkawinannya dengan Prabu Niwatakawaca, Dewi Prabasini mempunyai dua orang putra masing-masing bernama : Arya Nilarudraka, yang setelah dewasa menjadi raja negara Tegalparang dan Dewi Mustakaweni, yang menjadi istri Bambang Prabakusuma (Priyambada), putra Arjuna dengan Dewi Dewi Supraba. Setelah kematian Niwatakawaca, Dewi Prabasini kembali ke Suralaya, hidup sebagai bidadari.
PURU

PURU

09.04 Add Comment
PURU adalah putra bungsu dari tiga bersaudara putra Prabu Yayati, raja negara Astina dari istri Dewi Sarmista, putri raja raksasa Prabu Wisaparwa. Dua saudaranya yang lain adalah ; Druhyu dan Anu. Puru juga mempunyai dua orang saudara lain ibu, putra Prabu Yayati dengan permaisuri Dewi Dewayani, putri Bagawan Sukra, yaitu ; Yadu dan Turwasu.
Puru mendapat warisan hak atas tahta kerajaan astina karena kepatuhannya, kecintaan dan kesetiaannya terhadap ayahnya. Tatkala Prabu Yayati terkena kutukan Bagawan Sukra, mertuanya yang karena mengumbar hawa nafsu, menjadi lelaki jompo yang renta, dengan iklas ia menyerahkan kemudaannya demi kebahagiaan ayahnya. Masa muda Puru ditukar dengan kerentaan Prabu Yayati. Puru berubah menjadi lelaki jompo tua renta, sedang Prabu Yayati berubah menjadi pemuda perkasa.
Seribu tahun kemudian sesuai janjinya, Prabu Yayati menyerahkan kembali masa kemudaan Puru. Puru menjadi muda kembali dan dinobatkan menjadi raja negara Astina, sedangkan Prabu Yayati hidup sebagai brahmana.
Prabu Puru kawin dengan Dewi Kosalya, seorang hapsari/bidadari dari Suralaya, dan memperoleh seorang putra yang diberi nama Janamejaya, yang setelah dewasa menggantikan kedudukannya sebagai raja Astina.
PUROCANA

PUROCANA

07.13 Add Comment
PUROCANA adalah patih Mangkubumi negara Astina di bawah pemerintahan prabu Pandudewanata. Dengan demikian kekuasaannya di bawah patih utama, Arya Gamdamana, putra Prabu Gandabayu dengan Dewi Gandarini dari negara Pancala.
Selain ahli dalam tata pemerintahan dan kenegaraan, Purocana juga ahli dalam tata bangunan. Ia seorang arsitek ulung. Sayangnya ia berwatak lilck dan culas, serta berjiwa penjilat. Purocana ikut membantu Arya Sakuni merebut kedudukan patih negara Astina dengan mencelakakan Arya Gandamana. Setelah Drestarasta menjadi raja negara Astina menggantikan Prabu Pandu, Purocana tetap menjabat sebagai patih Manmgkubumi dan menjadi orang keprcayaan Patih Sakuni.
Atas perintah Arya Sakuni, Purocana menjadi perencana dan palaksana pembangunan "Rumah Damar" di hutan Wanayasa untuk membiunasakan keluarga Pandawa. Akhirnya Purocana ikut mati terbakar dalam peristiwa kebakaran "Rumah Damar" yang dibuatnya sendiri. Sedangkan keluarga Pandawa selamat berkat terowongan yang dibuat Yamawidura.

PUNTADEWA

07.10 Add Comment

PUNTADEWA adalah putra sulung Prabu Pandudewanata, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Kunti, putri Prabu Basukunti dengan Dewi Dayita dari negara Mandura. Ia mempunyai dua orang adik kandung masingmasing bernama ; Bima/Werkudara dan Arjuna, dan dua orang adik kembar lain ibu, bernama Nakula/Pinten dan Sahadewa/Tansen, putra Prabu Pandu dengan Dewi Madrim, putri Prabu Mandrapati dari negara Mandaraka.
Puntadewa adalah titisan Bathara Darma. Ia mempunyai watak; sabar, ikhlas, percaya atas kekuasaan Tuhan, tekun dalam agamanya, tahu membalas guna dan selalu bertindak adil dan jujur. Ia juga terkenal pandai bermain catur. Setelah Pandawa berhasil membangun negara Amarta di hutan Mertani, Puntadewa dinobatkan sebagai raja negara Amarta bergelar Prabu
Darmakusuma. Ia juga bergelar Prabu Yudhistira karena dalam tubuhnya menunggal arwah Prabu Yudhistira, raja jin negara Mertani.
Prabu Puntadewa menikah dengan Dewi Drupadi, putri Prabu Drupada dengan Dewi Gandawati dari negara Pancala, dan mempunyai seorang putra bernama Pancawala. Prabu Puntadewa mempunyai pusaka kerajaan berwujud payung bernama Kyai Tunggulnaga dan sebuah tombak bernama Kyai Karawelang.
Dalam perang Bharatayuda, Prabu Puntadewa tampil sebagai senapati perang Pandawa, dan berhasil menewaskan Prabu Salya, raja negara Mandaraka. Sesudah berakhirnya perang Bharatayuda, Prabu Puntadewa menjadi raja negara Astina bergelar Prabu Karimataya / Kalimataya. Setelah menobatkan Parikesit, putra Abimanyu dengan Dewi Utari sebagai raja negara Astina, Prabu Puntadewa memimpin perjalanan moksa para Pandawa yang diikuti Dewi Drupadi.

PULASTA

06.33 Add Comment

RESI PULASTA adalah putra Resi Wasista, keturunan Bathara Sambodana, putra Bathara Sambu. Ayahnya, Resi Wasista merupakan kakak kandung Prabu Danurdana, raja negara Lokapala. Resi Pulasta menikah dengan Dewi Padmarini, seorang hapsari dan mempunyai seorang putra bernama Supadma/Resi Supadma yang menjadi brahmana di pertapaan Hargajembatan.
Resi Supadma sangat tekun bertapa sehingga menjadi sangat sakti. Memiliki sifat dan perwatakan ; jujur, arif bijaksana dan suka melucu. Ia merupakan makluk yang dicintai Dewata, karenanya setelah usianya lanjut , Resi Pulasta diangkat derajatnya menjadi dewa bergelar Bathara Pulasta.
Resi Pulasta pernah menolong Prabu Dasamuka, raja negara Alengka yang masih cucu buyutnya dari siksaan Prabu Arjunasasra, raja negara Maespati. Ia menukar kebebasan Prabu Dasamuka dengan kesaktiannya menghidupkan kembali para senapati perang dan prajurit Maespati yang tewas dalam peperangan melawan prajurit Alengka. Pada saat berlangsungnya perang Alengka, Resi Pulasta turun dari kahyangan menemui Kumbakarna yang akan maju ke medan peperangan membela tanah leluhurnya dari serangan Prabu Rama dan laskar keranya. Kepada Kumbakarna, Resi Pulasta memberikan wejangan tentang darma bagi seorang satria.

PUJAWATI

06.28 Add Comment

DEWI PUJAWATI adalah putri tunggal Bagawan Bagaspati brahmana raksasa dari pertapaan Argabelah, dengan Dewi Darmastuti, seorang hapsari/bidadari. Ia menikah dengan Narasoma/Prabu Salya, putra sulung Prabu Mandrapati dengan Dewi Tejawati dari negara Mandaraka.
Perkawinan Dewi Pujawati dengan Narasoma/Prabu Salya dikarunia lima orang putra, masing-masing bernama; Dewi Erawati, Dewi Surtikanti, Dewi Banowati, Arya Burisrawa dan Bambang Rukmarata. Dewi Pujawati berwatak; jujur, setia, sabar, penuh belas kasih dan sangat berbakti terhadap suami. Karena kesetiaanya terhadap suaminya itulah maka oleh Prabu Salya namanya diganti menjadi Dewi Setyawati.
Akhir riwayatnya diceritakan, Dewi Pujawati/Setyawati mati bunuh diri, ikut bela pati sebagai rasa cinta dan baktinya terhadap suamiya, Prabu Salya yang gugur di medan perang Bharatayuda.

PREGIWATI

06.21 Add Comment

ENDANG PREGIWATI adalah putri Arjuna, putra Prabu Pandu raja negara Astina dari permaisuri Dewi Kunti, dengan Dewi Manuhara, putri Bagawan Sidik Wacana dari pertapaan Andong Sumiwi. Ia mempunyai saudara kandung yang merupakan kakak kembarnya bernama Endang Pregiwa. Pregiwati juga mempunyai 12 orang saudara lain ibu, bernama; Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wilugangga, Prabakusuma, Wijanarka, Antakadewa dan Bambang Sumbada.
Sejak kecil Endang Pregiwati dan kakaknya, Pregiwa tinggal di pertapaan Andong Sumiwi bersama ibu dan kakeknya. Baru setelah remaja ia dan Pregiwa pergi ke Madukara untuk menemui ayahnya, Arjuna.
Pregiwati memiliki sifat dan perwatakan; setia, jujur, sabar dan jatmika (selalu dengan sopan santun), menarik hati/merakati dan mudah tersinggung. Pregiwati menikah dengan Raden Pancawala, putra Prabu Puntadewa, raja negara Amarta dengan Dewi Drupadi yang berarti masih saudara sepupu sendiri.

PREGIWA

06.18 Add Comment

ENDANG PREGIWA is the daughter of Arjuna, one of Pandawa with Dewi Manuhara  the daughter of Bagawan Sidik Wacana from asceticism of Andong Sumiwi  Endang Pregiwa has a sister namely Endang Pregiwati, they were twice. Pregiwa also has 14 (fourteen) half brothers they were:  Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Bambang Irawan, Kumaladewa, Kumalasakti, Wilugangga, Prabakusuma, Wijanarka, antakadewa and Bambang Sumbada.
Since she was baby, Pregiwa and Pregiwati were lives in asceticism of Andong Sumiwi with mother and their grandfather. When they were adult, Pregiwa and Pregiwati were living the asceticism to gone to Manduraka to look for their father, Arjuna.
Pregiwa has characters loyal, patience, nice and good behavior. Pregiwa was married with Raden Gatotkaca, the king of Pringgondani  as the son of Bima and Dewi Arimbi   it means her own cousin. From that marriage, she got a son namely Arya Sasikirana.

PRATIWI

06.13 Add Comment

DEWI PRATIWI adalah putri Prabu Nagaraja, raja di kerajaan Sumur Jalatunda. Ia mempunyai adik kandung bernama Bambang Pratiwanggana. Dewi Pratiwi sesungguhnya istri Bathara Wisnu, Dewa keadilan dan kesejahteraan.
Ketika Bathara Wisnu turun ke Mancapda dan menitis pada Narayana/Prabu Kresna. Dewi Pratiwi ikut menjadi isteri Prabu Kresna. Kedua putranya, yaitu : Bambang Sitija dan Dewi Siti Sundari, juga ikut turun sebagai putra Prabu Kresna. Bambang Sitija menjadi raja di negara Surateleng dan bergelar Prabu Bomanarakasura. Sedangkan Dewi Siti Sundari menjadi isteri Abimanyu atau Angkawijaya, putra Arjuna dengan Dewi Sumbadra.
Dewi Pratiwi berwatak setia, jujur, penuh belas kasih, dan sangat berbakti. Ia sangat sakti dan
memiliki pusaka Cangkok Wijayamulya, yang kemudian diberikan kepada putranya, Sitija.
PRATIPEYA

PRATIPEYA

06.05 Add Comment
PRABU PRATIPEYA adaklah raja negara Swandapura. Ia berperawakan sedang, berpenampilan tegap dan gagah. Prabu Pratipeya sangat sakti. Memiliki sifat dan perwatakan ; pemberani, keras hati dan selalu menurutkan kata hati.Ia juga mahir dalam olah keprajuritan, khsusunya mempergunakan senjata panah.
Prabu Pratipeya masih keturunan Prabu Kalaruci, raja negara Paranggubarja. Prabu Kalaruci tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandu, ayah keluarga Pandawa, dalam memperebutkan Dewi Wersini, bidadari Suralaya keturunan Sanghyang Pancaresi yang telah dijodohkan dengan Arya Ugrasena, putra Prabu Basukunti, raja Mandura.
Karena dendamnya terhadap keluarga Pandawa, ketika pecah perang Bharatayuda, Prabu Pratipeya membela keluarga Kurawa. Ia terjun ke medan perang setelah gugurnya Resi Bisma. Bersama dengan Prabu Sumarma, raja negara Trigardapura, secara curang ia menyerang kubu pertahanan keluarga Pandawa di Randuwatangan. Akhirnya Prabu Pratipeya tewas dalam peperangan melawan Arjuna oleh panah Hrudadali.

PRATIPA

06.04 Add Comment

PRATIPA adalah putra Prabu Bhimasena, raja negara Astina dengan Dewi Kumari. Ia merupakan keturunan ke-33 Bathara Darma, dan menjadi raja ke-24 negara Astina.
Prabu Pratipa kawin dengan Dewi Sumanda. Ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Santanu, yang diyakini sebagai titisan/reinkarnasi Bathara Mahabhima yang karena kutukan Bathara Brahma menjelma menjadi manusia.
Merasa usianya sudah lanjut, Prabu Pratipa menyerahkan tahta kerajaan Astina kepada Santanu. Ia kemudian hidup sebagai brahmana sampai akhir hayatnya. Namun demikian ia telah memenuhi janjinya, menikahkan putranya, Santanu dengan Dewi Gangga/Dewi Jahnawi,
wanita yang ditemuinya tatkala ia bertapa di Sungai Gangga.
PRATALAMARIYAM

PRATALAMARIYAM

06.01 Add Comment
PRATALAMARIYAM dalam cerita pedalangan Jawa dikenal pula dengan nama Bukbis. Ia putra Prabu Dasamuka, raja negara Alengka dengan Dewi Urangrayung putri Bagawan Minalodra dari negara Kandabumi. Pratalamariyam mempunyai mempunyai beberapa orang saudara seayah lain ibu masing-masing bernama : Indrajid/Megananda, dari ibu Dewi Tari, Trisirah, Trimuka dari ibu Dewi Wisandi,Yaksadewa dan Trimurda.Ia juga mempunyai saudara se ibu lain ayah bernama Trihangga/Trigangga, putra Dewi Urangayung dengan Anoman.
Pratalamariyam sangat sakti. Ia memiliki pusaka bernama Topengwaja, yang berkesaktian; siapa saja yang dipandang dengan mata topeng itu akan terbakar hangus. Pada waktu pecah perang Alengka, atas perintah Prabu Dasamuka, Pratalamariyam dengan dibantu Trihangga berhasil menculik Prabu Rama dan Laksamana yang di masukkan ke dalam Kendaga dan diberikan kepada Prabu Dasamuka. Kendaga berisi Prabu Rama dan Laksamana kemudian direbut kembali oleh Trihangga setelah Trihangga mengetahui bahwa ia putra kandung Anoman.
Perang seru terjadi antara Pratalamariyam dengan Trihangga. Akhirnya atas petunjuk Arya Wibisana, Anoman dapat membinasakan Pratalamariyam dengan menggunakan senjata kaca Raksa. Tubuh Pratalamariyam hangus terbakar oleh pantulan pandangan mata Topengwaja, pusakanya sendiri.
PRAMUSINTA

PRAMUSINTA

06.01 Add Comment
BAMBANG PRAMUSINTA adalah putra Nakula, salah satu dari lima satria Pandawa, putra Prabu Pandu, raja negara Astina dari permaisri Dewi Madrim, putri negara Manadaraka (adik Prabu Salya/Narasoma). Ibunya bernama Dewi Suyati, putri Prabu Kridakerata, raja negara Awuawulangit. Bambang Pramusinta mempunyai seorang adik kandung benama Dewi Pramuwati. Ia juga mempunyai saudara seayah lain ibu, putri Dewi Srengganawati dari negara Gisiksamodra/Ekapratala bernama Dewi Sritanjung.
Pramusinta mempunyai sifat dan perwatakan: pemberani, jujur, setia, taat, belas kasih dan selalu memegang teguh keperwiraannya. Sejak kecil ia dan adiknya, Dewi Pramuwati tinggal di negara Awuawulangit dalam asuhan kekeknya, Prabu Kridakerata. Pranusinta tidak ikut teuun ke medan perang Bharatayuda, karena ketika terjadi perang Kurusetra tersebut, ia masih kecil dan belum layak terjun ke medan peperangan.
Setelah berakhirnya perang Bharatayuda, Pramusinta banyak mewakili tugas ayahnya, Prabu Nakula sebagai raja negara Mandaraka. Hal ini karena Nakula, lebih banyak tinggal di negara Astina, karena kedudukannya sebagai patih Prabu Kalimataya/Yudhistira. Setelah Prabu Nakula mati moksa bersama pinisepuh Pandawa lainnya, Bambang Pramusinta dinobatkan sebagai raja negara Mandaraka. 
Akhir riwayatnya diceritakan, Prabu Pramusinta meninggal dalam usia lanjut, saat mana cerita wayang mulai memasuki Jaman Madya.
PRAMUJABAHU

PRAMUJABAHU

06.00 Add Comment
PRAMUJABAHU dikenal pula dengan nama Kapi Sarpacita. adalah salah seorang senapati wadya wanara/kera kerajaan Kiskenda, balatentara Prabu Sugriwa, yang membantu Sri Rama menyerang dan menggempur Negara Alengka.
Di dalam lakon Rama Tambak   dikisahkan,  ketika balatentara wanara/ kera laskar Ramawijaya sedang membuat tanggul untuk jembatan penyeberangan angkatan perangnya ke Alengka, Yuyurumpung, raksasa berkepala gudul yang bertugas menjaga perairan Alengka, mengganggu pembuatan jembatan itu dengan meruntuhkan dasar tanggul. Akibatnya, berkali-kali wadya wanara membangun tanggul, sekian kali pula tanggul runtuh oleh perbuatan Yuyurumpung.
Apa yang diperbuat oleh Yuyurumpung, akhirnya dapat diketahui oleh Pramyjabahu yang sedang melakukan penyelidikan. Perang seru terjadi. Pramujabahu yang terdesak, dalam satu kesempatan dapat melilit tubuh Yuyurumpung dengan ekornya dan menariknya ke dataran. Akhirnya Yuyurumpung mati dalam pertempuran dengan kepala hancur.
PRAMEYA

PRAMEYA

05.57 Add Comment
PRAMEYA atau Kapi Sarpacita (Mahabharata) adalah wanara/kera ahli selam. Ia tercipta dari hasil pemujaan Bathara Waruna. Prameya dapat berbicara dan beradatistiadat seperti manusia Oleh Bathara Waruna, Prameya disuruh mengabdi pada Ramawijaya di Pesanggrahan Maliawan. Ia kemudian menjadi salah satu senapati perang balatentara kera kerajaan Kiskenda di bawah pimpinan Prabu Sugriwa Premeya mempunyai andil yang sangat besar dalam menyelamatkan pembuatan tambak/jembatan penyeberangan di atas laut untuk jalan menyeberang jutaan laskar kera ke negara Alengka. Ia berhasil menyelidiki dan menangkap Yuyurumpung, raksasa berkepala ketam/yuyu, punggawa Prabu Dasamuka yang mendapat tugas mengagalkan pembuatan tambak. Dengan ekornya, Prameya berhasil menarik tubuh Yuyurumpung ke daratan. Yuyurumpung akhirnya mati dalam pertempuran melawan Kapimenda.
Setelah berakhirnya perang Alengka, seperti halnya wanara lainnya, Prameya tidak dapat diketahui akhir hidupnya.
PRAJAPATI

PRAJAPATI

05.56 Add Comment
Menurut  kitab Mahabharata, SANGHYANG PRAJAPATI  termasuk satu dari delapan dewa yang lahir Antiga Nahadwipa yang berujud sebuah telur ajaib.  Ketujuh dewa lainnya adalah Sanghyang Pitamaha, Sanghyang Sutaguru, Sanghyang Stanu, Sanghyang Manu, Sanghyang Ka, Sanghyang Pracetas atau Sanghyang Parameswara dan Sanghyang Daksa.
Sanghyang Prajapati sangat sakti dan memiliki perwatakan keras hati. Ia juga dikenal sebagai dewa perang karena menguasai berbagai ilmu kesaktian serta menguasi berbagai tata gelar perang. Bersama Sanghyang Sutaguru dan Sanghyang Senggana, Sanghyang Prajapati selalu menjadi senapati perang para dewa apabila Suralaya mendapat serbuan dari golongan asura (para raksasa).
Karena kesaktiannya dan sifatnya yang keras hati dan cenderung berangasan, Sanghyang Prajapati sering menjadi tumpuhan pemujaan dan persembahan umat arcapada yang ingin mendapatkan kejayaan dan kemuliaan dalam hidupnya, terutama dari golongan raksasa. Sanghyang Prajapati juga pernah turun ke arcapada menitis pada Prabu Nagapaya, raja rakssa dari negara Kiskenda, yang menyerang Suralaya karena ingin memperistri Dewi Supraba, tapi tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandudewanata dari Astina. 
Sanghyang Prajapati kemudian kembali menitis pada Prabu Kalaruci. Merasa sangat sakti raja raksasa negara Karanggubarja ini datang ke Suralaya untuk meminang Dewi Wersini, seorang bidadari keturunan Sanghyang Pancaresi, yang waktu itu telah diperjodohkan dengan Arya Ugrasena, putra ke-empat Prabu Basukunti, dari negara Mandura, namun akhirnya tewas dalam peperangan melawan Prabu Pandudewanata.

PRAHASTA

05.52 Add Comment

PRAHASTA adalah putra Prabu Sumali, raja raksasa negara Alengka dengan Dewi Desidara. Ia mempunyai kakak kandung bernama Dewi Sukesi yang menjadi istri Resi Wisrawa dari pertapaan Girijembatan, wilayah negara Lokapala.
Prahasta berwatak; jujur, setia dan penuh pengabdian. Ia sesungguhnya putra mahkota negara Alengka. Tetapi karena ia takut dengan kesaktian yang dimiliki Rahwana, putra Dewi Sukesi dengan Resi Wisrawa, Prahasta merelakan tahta negara Alengka oleh ayahnya diberikan kepada Rahwana dan dia bersedia menduduki jabatan patih.
Ketika pecah perang Alengka, Prahasta maju sebagai senapati perang setelah gugurnya Dewi Sarpakenaka. Tak terhitung jumlah balatentara kera Prabu Rama yang mati oleh keganasan Prahasta. Anila patih negara Kiskenda akhirnya maju menghadapi keperkasaan Prahasta, dengan siasat perang menghindar, mundur dan balas menyerang. Prahasta terus mengejar Anila, hingga pertempuran sampai di tepi hutan.
Anila yang hampir terjebak tiba-tiba melihat sebuah patung batu. Dengan mengerahkan seluruh tenaganya patung itu diangkatnya dan dihantamkan ke kepala Prahasta. Prahasta tewas seketika dengan kepala hancur bersamaan dengan pecahnya tugu tersebut. Kiranya tugu itu adalah penjelmaan Dewi Indradi, ibu dari Dewi Anjani, Subali dan Sugriwa yang terkena kutuk Resi Gotama, suaminya sendiri.

PRAGOTA

05.48 Add Comment

ARYA PRAGOTA konon adalah putra Arya Ugrasena yang setelah naik tahta negara Lesanpura bergelar Prabu Setyajid, dengan Ken Sagupi, seorang swarawati Keraton Mandura. Setelah Ken Sagupi dikawinkan dengan Antagopa, seorang gembala dan tinggal di kabuyutan Widarakanda/Widarakandang, Arya Pragota dianggap sebagai putra Ken Sagupi dengan Antagopa.
Arya Pragota mempunyai adik kandung bernama Arya Adimanggala yang menjadi patih Adipati Karna di negara Awangga. Selain itu dari garis keturunan Arya Ugrasena, ia mempunyai dua orang saudara bernama; Dewi Setyaboma (istri Prabu Kresna) dan Arya Setyaki. Sedangkan dari garis keturunan ibunya, Ken Sagupi, selain Arya Adimanggala ia mempunyai dua orang saudara, yaitu; Arya Udawa, putra Ken Sagupi dengan Prabu Basudewa, dan Dewi Rarasati/Larasati, putri Ken Sagupi dengan Arya Prabu Rukma.
Arya Pragota mempunyai perawakan tinggi besar dan gagah. Suaranya lantang, senang bergurau, kalau bicara disudahi dengan gelak tawa yang berderai. Ia menjadi patih negara Mandura mendampingi Prabu Baladewa.
Akhir riwayatnya diceritakan; Arya Pragota tewas dalam peristiwa perang gada antara keluarga sendiri Trah Yadawa, Wresni dan Andaka, setelah selesainya perang Bharatayuda.
PRACONA

PRACONA

05.47 Add Comment
PRABU PRACONA adalah raja raksasa dari negara Tasikwaja, atau sering pula disebut negara Gilingwesi. Konon ia masih keturunan Prabu Jonggirupaksa raja negara Jonggarba. Ia sangat sakti, berwatak angkara murka, bengis dan selalu ingin benarnya sendiri.
Prabu Pracona ingin mempunyai isteri seorang bidadari. Ia kemudian mengutus patihnya, Detya Sakipu pergi ke Suralaya meminang/melamar Dewi Gagarmayang. Karena lamarannya ditolak Bathara Guru, Prabu Pracona dan Sakipu mengamuk di Suralaya, mengalahkan semua para Dewa.
Atas keputusan Bathara Guru, Bambang Tetuka/Gatotkaca, putra Dewi Arimbi dari negara Pringgandani dengan Bima/Werkudara yang waktu itu belum berumur sepekan, dipinjam ke Suralaya sebagai jago kadewatan melawan Prabu Pracona dan Kasipu.
Prabu Pracona dan Patih Sakipu akhirnya tewas dalam peperangan melawan Bambang Tetuka yang sebelunya telah dimasukan kedalam kawah Candradimuka, diaduk dengan segala macam senjata milik para Dewa.

PRABAWA

05.45 Add Comment

ARYA PRABAWA adalah putra patih Saragupita, mangkubumi negara Mandura pada masa pemerintahan Prabu Basudewa. Menurut pedalangan (Jawa) Arya Prabawa disebutkan sebabagi adik Patih Pragota. Sedangkan menurut Mahabhrata, Arya Pragota adalah putra Ken Sagupi dengan Arya Ugrasena/Prabu Setyajid, raja negara Lesanpura.
Arya Prabawa mempunyai perawakan tinggi besar dan gagah. Ia sangat ahli dalam ilmu pemerintahan dan ketetanegaraan. Ketika ayahnya meninggal, Arya Prabawa diangkat sebagai patih dalam/urusan pemerintahan negara Mandura dalam masa pemerintahan Prabu Baladewa. Ia mendampingi Arya Pragota yang menjabat sebagai patih luar. Sesudah berakhirnya perang Bhratayuda, oleh Prabu Baladewa, Arya Prabawa diberi wewenang penuh mengendalika roda pemeintahan negara Mandura. Hal ini karena Prabu Baladewa yang telah bergelar Resi Balarama, lebih banyak tinggal di negara Astina sebagai pengasuh dan penasehat utama Prabu Parikesit.
Akhir riwayat Arya Prabawa diceritakan; Ia ikut tewas dalam peristiwa perang gada sesama wangsa Yadawa, yang menewaskan seluruh keluarga wangsa Yadawa, Andaka dan Wresni, anak keturunan Pabu Yadu, pendiri negara Mandura dan cikalbakal wangsa Yadawa.

PRABASINI

05.41 Add Comment

DEWI PRABASINI adalah bidadari keturunan Sanghyang Triyarta. Ia mempunyai saudara kembar yang bernama Dewi Gagarmayang yang dipilih oleh Bathara Guru masuk dalam kelompok Bidadari Upacara Suralaya yang terdiri dari tujuih bidadari.
Dewi Prabasini pernah turun ke arcapada dan menjadi istri Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manikmantaka. Perjodohan ini terjadi ketika Arya Nirbita, raksasa keturunan dari Prabu Pracona raja negara Gowabarong yang tewas dalam peperangan melawan Bambang Tutuka/Gatotkaca di Suralaya , berhasil menjadi raja di Negara Manikmantaka bergelar Prabu Niwatakawaca, datang ke Suralaya minta dijodohkan dengan Dewi Gagarmayang. Karena para dewa merasa takut menghadapi Niwatakaca yang sangat sakti setelah memiliki Aji Gineng Sukaweda, sedangkan bidadari upacara tidak dipekenankan hidup di arcapada, Bathara Guru kemudian melakukan penipuan, menyerahkan Dewi Prabasini yang wajah dari bentuk tubuhnya persis sama dengan Dewi Gagarmayang, saudara kembarnya, kepada Niwatakawaca. Beberapa tahun kemudian, ketika Niwatakawaca menyadari bahwa yang diperistri bukan Dewi Gagamayang tetapi Dewi Prabasini, saudara kembarnya, ia kembali lagi ke Suralaya untuk meminang Dewi Supraba. Namun pinangannya itu ditolak Batahara Guru, dan Niwatakawaca akhirnya tewas dalam peperangan melawan Arjuna.

PRABAKUSUMA

05.38 Add Comment

BAMBANG PRABAKUSUMA di dalam pedalangan Jawa disebut dengan nama Bambang Priyambada. Ia adalah putra Arjuna, satria Pandawa putra Prabu Pandu, raja negara Astina dengan permaisuri Dewi Kunti, dengan Dewi Supraba, putri Bathara Indra. Prabakusuma lahir di Kahyangan Kainderan saat Arjuna menjadi raja di Suralaya bergelar Prabu Kariti sebagai anugerah Sanghyang Jagadnata/Sanghyang Manikmaya atas jasanya membunuh Prabu Niwatakawaca, raja raksasa dari negara Manikmantaka.
Prabakusuma mempunyai sifat dan perwatakan; halus, tenang, jatmika, baik tingkah lakunya, besar tanggung jawabnya, juga ahli dalam ilmu pengobatan. Ia mempunyai 13 orang saudara lain ibu, yaitu; Abimanyu, Sumitra, Bratalaras, Kumaladewa, Kumalasakti, Wisanggeni, Wilugangga, Bambang Irawan, Endang Pregiwa, Endang Pregiwati, Wijarnaka, Antakawulan dan Bambang Sumbada. Prabakusuma pernah menjadi penyelamat keluarga Pandawa. Ia berhasil merebut kembali pusaka Jamus Kalimasada dari tangan si pencuri, Dewi Mustakaweni, putri Prabu Niwatakawaca dari negara Manikmantaka, Dewi Mustakaweni kemudian menjadi istri Prabakusuma.
Akhir riwayatnya diceritakan, Prabakusuma gugur pada awal perang Bharatayuda bersama-sama dengan Sumitra, Wilugangga, Wijanarka dan Antakadewa saat melawan Resi Bisma.

PRABAKESA

05.34 Add Comment

ARYA PRABAKESA atau Prabakeswa (Mahabharata) adalah putra ke-empat Prabu Arimbaka, raja raksasa negara Pringgandani dengan Dewi Hadimba. Ia mempunyai tujuh saudara kandung, bernama; Arimba/Hidimba. Dewi Arimbi, Brajadenta, Brajamusti, Brajalamatan, Brajawikalpa dan Kalabendana.
Prabakesa mempunyai sifat dan perwatakan; jujur, setia, berbakti dan teguh dalam pendirian. Ia dan adik bungsunya, Arya Kalabendana menentang rencana pemberontakan Brajadenta dan tiga saudaranya yang akan merebut kekuasaan dan tahta kerajaan Pringgandani dari tangan Dewi Arimbi.
Ketika Gatotkaca naik tahta menjadi raja Pringgandani mengantikan ibunya, Dewi Arimbi, Prabakesa diangkat menjadi patih negara Pringgandani. Akhir riwayatnya diceritakan, gugur dalam perang Bharatayuda bersama–sama Gatotkaca melawan Adipati Karna, raja negara Awangga.

PETRUK

05.30 Add Comment

PETRUK dikenal pula dengan nama Dawala, Kantongbolong, Dublajaya dan Pentungpinanggul. Petruk lazim disebut sebagai anak Semar, masuk dalam golongan panakawan. Sebelumnya ia benama Bambang Pecrukpanyukilan, ,putra Bagawan Salantara dari padepokan Kembangsore. Ia sangat gemar bersendagurau, baik dengan ucapan maupun tingkah laku dan senang berkelai.
Bamban Pecrukpanyukilan pergi berkelana untuk menguji kesaktian. Di tengah jalan ia bertemu dengan Bambang Sukskati , putra Resi Sukskadi dari padepokan Blubluktba, yang pergi dari padepokannya di atas bukit untuk mencoba kekebalannya. Karena mempunyai maksud yang sama, maka terjadilah perang tanding. Mereka berkelai sangat lama, berhantam, bergumul, tarikmenarik, tendang-menendang, injak-menginjak,
hingga tubuhnya menjadi penuh cacad dan beda sama sekali dari wujud aslinya yang tampan. Perkelaian mereka berhenti setelah dilerai oleh Sanghyang Ismaya/Semar dan Bagong. 
Setelah diberi fatwa dan nasehat, Bambang Sukskati dan Bambang Pecrukpanyukilan menyerahkan diri dan berguru kepada Semar, dan mengabdi kepada Sanghyang Ismaya. Karena perubahan wujud tersebut, mereka masing-masing beganti nama, Bambang Sukskati menjadi Nala Gareng, sedangkan Bambang Pecrukpanyukilan menjadi Petruk.
Petruk menikah dengan Dewi Ambarawati, putri Prabu Ambararaya, raja Negara Pandansurat yang didapatnya dengan melauli perang tanding mengalahkan para pelamar lainnya, diantaranya : Kalagumarang, Prabu Kalawahana, raja raksasa di Gowa Siluman. Perkawinannya berlangsung di pertapaan Girisarangan, salah satu dari puncak gunung Saptaarga, dengan Resi Parikenan bertindak sebagai pemangku perkawinan. Petruk berumur sangat panjang. Ia hidup sampai jaman Madya.
PARTAWIJAYA

PARTAWIJAYA

05.26 Add Comment
PRABU PARTAWIJAYA adalah raja negara Tabelasuket. Permaisurinya bernama Dewi Pratini. Dari perkawinan tersebut ia memperoleh serang putri tunggal yang diberi nama Dewi Sati.
Karena kecintaannya terhadap putri tunggalnya, Prabu Partawijaya pergi meninggalkan negara Tabelasuket, berkelana mencari seorang satria yang bentuk dan perawakannya sesuai dengan gambaan mimpi Dewi Sati, karena satria itulah yang oleh Dewa telah dijodohkan dengan putrinya. Prabu Partawijaya akhirnya dapat bertemu dengan Bambang Sakri, putra Resi Sakutrem dengan Dewi Nilawati dari pertapaan Retawu yang saat itu sedang berkelana di tengah hutan. Dalam suatu peperangan, Pabru Partawijaya berhasl mengalahkan Bambang Sakri dan memboyongnya ke negara Tabelasuket untuk dijodohkan dengan Dewi Sati. Dari perkawinan itu lahir seorang putra yang diberi nama Palasara. 
Dalam masa pemerintahannya, negara Tabelasuket pernah terserang pagebluk .Rakyatnya dilanda berbagai macam penyakit, kekeringan yang berkepanjangan yang mengakibatkan kekurangan pangan dan timbulnya bahaya kelaparan. Untuk mengatasinya, Prabu Patawijaya bermaksud pergi ke pertapaan Retawu meminta pertolongan Resi Manumayasa. Namun perjalannya nyasar ke padepokan Resi Dwapara seorang guru besar di Atasangin, yang bersedia menolongnya dengan syarat Prabu Partawijaya dapat membunuh Resi Manumayasa. Prabu Partawijaya kemudian menyerang padepokan Retawu, tapi dapat dikalahkan oleh Resi Sakutrem. Karena peristiwa itulah ia akhirnya dapat bertemu dan bekenalan dengan ayah dari menantunya sendiri, Bambang Sakri.

PARIKESIT

02.37 Add Comment

PARIKESIT adalah putra Abimanyu/Angkawijaya satria Plangkawati dengan permaisuri Dewi Utari, putri Prabu Matswapti dengan Dewi Ni Yustinawati dari negara Wirata. Ia seorang anak yatim, karena ketika ayahnya gugur di medan perang Bharatayuda, ia masih dalam kandungan ibunya. Parikesit lahir di istana Astina setelah keluarga Pandawa boyong dari Amarta ke Astina.
Parikesit naik tahta negara Astina menggantikan kakeknya Prabu Karimataya, nama gelar Prabu Yudhistira setelah menjadi raja negara Astina. Ia berwatak bijaksana, jujur dan adil.
Prabu Parikesit mempunyai 5 (lima) orang permasuri dan 8 (delapan) orang putra,
yaitu ; 1. Dewi Puyangan, berputra ; Ramayana dan Pramasata 2. Dewi Gentang, berputra ; Dewi Tamioyi 3. Dewi Satapi/Dewi Tapen, berputra ; Yudayana dan Dewi Pramasti 4. Dewi Impun, berputra ; Dewi Niyedi 5. Dewi Dangan, berputra ; Ramaprawa dan Basanta.
Dalam kitab Adiparwa, akhir riwayatnya diceritakan : Prabu Parikesit meninggal karena digigit Naga Taksaka sesuai dengan kutukan Brahmana Granggi yang merasa sakit hati karena Prabu Parikesit telah mengkalungkan bangkai ular hitam di leher ayahnya. Bagawan Sarmiti.

PARIKENAN

02.26 Add Comment

BATHARA PARIKENAN atau Bambang Parikenan adalah putra Bathara Brahmanaresi/Bremani (pedalangan jawa) dengan Dewi Srihuna/Srihunon, putri Sanghyang Wisnu dengan permaisuri Dewi Sripujayanti. Ia mempunyai dua orang saudara seibu lain ayah, putra Dewi Srihuna dengan Bathara Brahmanasadewa/Brahmanaraja, kakak kandung Bathara Brahmanaresi, masing-masing bernama ; Dewi Srini dan Dewi Satapi.
Sejak kecil Bambang Parikenan tinggal di kahyangan Untarasagara dalam asuhan Sanghyang Wisnu dan Dewi Sripujayanti, karena ayahnya Bathara Brahmanaresi turun ke Arcapada hidup sebagai brahmana di pertapaan Paremana, pegunungan Saptaarga. Sedangkan ibunya Dewi Srihuna tinggal di kahyangan Daksinageni, kahyangannya Bathara Brahma.  Bambang Parikenan menikah dengan saudara sepupunya sendiri, Dewi Bramaneki, putri Prabu Basurata/Bathara Srinada raja negara Wirata dengan Dewi Bremaniyuta (Bathara Srinada adalah putra Sanghyang Wisnu dengan Dewi Srisekar/Sri Widowati, sedangkan Dewi Bremaniyuta adalah putri Bathara Brahma dengan Dewi Rarasyati). Dari perkawinan tersebut ia memperoleh empat orang putra masing-masing bernama ; Dewi Kanika. Kariyasa/Resi Manumayasa, Resi Manobawa dan Resi Paridarma. Resi Manumayasa kelak turun ke Arcapada membuat pertapaan di puncak Retawu, gunung Saptaarga, menikah dengan Dewi Kaniraras, turun-temurun menurunkan keluarga Pandawa dan Kurawa.