Al-Qur’an Cerita Tentang Nasib Jasad Fir’aun, Realita Membenarkan!!

Al-Qur’an Cerita Tentang Nasib Jasad Fir’aun, Realita Membenarkan!!

11.36 Add Comment
Dr. Morris Bukay* di dalam bukunya ‘al-Qur’an Wa al-‘Ilm al-Hadiits’ (al-Qur’an Dan llmu Modern) mengungkap kesesuaian informasi al-Qur’an mengenai nasib Fir’aun Musa setelah ia tenggelam di laut dan realita di mana itu tercermin dengan masih eksisnya jasad Fir’aun Musa tersebut hingga saat ini. Ini merupakan pertanda kebesaran Allah SWT saat berfirman, (QS.Yunus:92)

Dr. Bukay berkata, “Riwayat versi Taurat mengenai keluarnya bangsa Yahudi bersama Musa AS dari Mesir menguatkan ‘statement’ yang menyatakan bahwa Mineptah, pengganti Ramses II adalah Fir’aun Mesir pada masa nabi Musa AS. Penelitian medis terhadap mumi Mineptah membeberkan kepada kita informasi-informasi berguna lainnya mengenai dugaan sebab kematian fir’aun ini.

Sesungguhnya kitab Taurat menyebutkan, jasad tersebut ditelan laut akan tetapi tidak memberikan rincian mengenai apa yang terjadi terhadapnya setelah itu. Sedangkan al-Qur’an menyebutkan, jasad Fir’aun yang dilaknat itu akan diselamatkan dari air sebagaimana keterangan ayat di atas. Dalam hal ini, pemeriksaan medis terhadap mumi tersebut menunjukkan, jasad tersebut tidak berada lama di dalam air sebab tidak menunjukkan adanya tanda kerusakan total akibat terlalu lama berada di dalam air.**”

Dr. Morris Bukay menyebutkan bahwa dalam sebuah penelitian medis dengan mengambil sampel organ tertentu dari jasad mumi tersebut pada tahun 1975 melalui bantuan Prof Michfl Durigon dan pemeriksaan yang detail dengan menggunakan mikroskop, bagian terkecil dalam organ itu masih dalam kondisi terpelihara secara sempurna. Ini menunjukkan, keterpeliharaan secara sempurna itu tidak mungkin terjadi andaikata jasad tersebut sempat tinggal beberapa lama di dalam air atau bahkan sekali pun berada lama di luar air sebelum terjadi proses pengawetan pertama.

Dr. Bukay juga menyebutkan, diri bersama tim telah melakukan banyak penelitian, di antaranya untuk mengetahui dugaan sebab kematian Fir’an. Penelitian yang dilakukannya berjalan legal karena dibantu direktur laboratorium satelit di Paris, Ceccaldi dan prof Durigan. Objek penelitian dititikberatkan pada salah satu orang di tengkorak kepala.

Mengenai hasilnya, Dr Bukay mengungkapkan, “Dari situ diketahui, bahwa semua penelitian itu sesuai dengan kisah-kisah yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang menyiratkan Fir’aun tewas ketika digulung gelombang…”***

Dr. Bukay menjelaskan sisi kemukjizatan masalah ini. Ia mengatakan, “Di zaman di mana al-Qur’an sampai kepada manusia melalui Muhammad SAW, jasad-jasad para Fir’aun yang diragukan orang di zaman kontemporer ini apakah benar atau tidak ada kaitannya dengan saat keluarnya Musa, sudah lama terpendam di pekuburan lembah raja di Thoba, di pinggir lain dari sungai Nil di depan kota al-Aqshar saat ini.

Pada masa Muhammad SAW segala sesuatu mengenai hal ini masih kabur. Jasad-jasad tersebut belum terungkap kecuali pada penghujung abad ke-19.**** Dengan begitu, jasad Fir’aun Musa yang masih eksis hingga kini dinilai sebagai persaksian materil bagi sebuah jasad yang diawetkan milik seorang yang mengenal nabi Musa AS, menentang permintaannya dan memburunya dalam pelarian serta mati saat pengejaran itu. Lalu Allah menyelamatkan jasadnya dari kerusakan total sehingga menjadi tanda kebesaran-Nya bagi umat manusia sebagaimana yang disebutkan al-Qur’an al-Karim.*****

Informasi sejarah mengenai nasib jasad Fir’aun tidak berada di tangan manusia mana pun ketika al-Qur’an turun atau pun setelah beberapa abad setelah turunnya. Akan tetapi ia dijelaskan di dalam Kitab Allah SWT sebelum lebih dari 1400 tahun lalu.

* Seorang dokter ahli bedah paling masyhur berkewarganegaraan Perancis. Ia masuk Islam setelah mengadakan kajian secara mendalam mengenai al-Qur’an al-Karim dan mukjizat ilmiahnya
** Lihat, buku al-Qur’an Wa al-‘Ilm al-Hadits, Dr Morris Bukay
*** Lihat, buku Kitab al-Qur’an Wa al-‘Ilm al-Mu’ashir, Dr Morris Bukay, terjemah ke bahasa Arab, Dr Muhammad Bashal dan Dr Muhamma Khair al-Biqa’i
**** Diraasah al-Kutub al-Muqaddasah Fii Dhau’i al-Ma’aarif al-Hadiitsah, karya Dr Morris Bukay, hal.269, Darul Ma’arif, cet.IV, 1977 –dengan sedikit perubahan
***** Ibid.,
Al-Sofwah.or.id
Frida T. Maramis : Jalan Kebenaran Kutemukan dalam Islam

Frida T. Maramis : Jalan Kebenaran Kutemukan dalam Islam

11.32 Add Comment
Aku dilahirkan di Kota Manado, 25 mei 1951. Lingkungan keluargaku bukanlah tergolong orang Kristen sekuler. Tetapi mereka boleh dibilang fanatik dengan berbagai prinsip kekristenan. Papaku bernama Ernest Maramis, sedankan papiku bernama Agustina Tanod.

Terus terang saja, aku beragama Kristen lebih disebabkan faktor keturunan. Bukan karena ketaatanku sebagai pengikut Yesus Kristus. Bahkan secara pribadi kuakui, bahwa aku tidak pernah bisa memahami ajaran Kristen secara mendalam.

Yang ku ketahui, hanyalah beriman kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat bagi seluruh manusia, seperti tertulis di kitab Yohanes 14:6 (kata Yesus kepadanya:"Akulah jalan kebenaran dan hidup, Tidak ada seorangpun yang datang jika tidak melalui aku.")
Namun sekali lagi kukatakan, apa arti dan makna sesungguhnya juru selamat di dalam Yesus, hingga kini, kuanggap hanyalah merupakan kisah Fiktif yang tidak akan pernah berubah menjadi nyata.

Masih kuingat, jika pastur membawakan khotbah pada kebaktian misa kudus, bisa dipastikan temanya berkenaan dengan "kasih Kristus" utnuk semua orang. Tetapi buatku, khotbah itu sama sekali tidak menyentuh. Apalagi sampai meresap di dalam hati dan pikiranku.

Bahkan terkadang aku merasa sangat tertekan apabila harus mengikuti kebaktian di gereja. karena acara kegiatan rohani yang sering kurasakan begitu padat, hanya membuat kepalaku pening. Bagaimana tidak ? Aku menyaksikan para kawula mudanya, lebih memanfaatkan pertemuan kebaktian di gereja, tak ubahnya bagaikan tempat "pameran busana".

Hingga aku berkesimpulan, bahwa ajaran agama Kristen tidak mampu mengubah akhlak manusia pada jalan yang lebih baik menuju jalan kebenaran dan hidup. Adapun fakta lain, apabila hari Natal dan Tahun Baru tiba, umat Kristen di seluruh dunia memanfaatkan sebagai kesempatan untuk berpesta pora dan mabuk-mabukan.

Natal yang suci itu, tak ubahnya bagaikan pesta maksiat. Pemandangan seperti itu, bagiku tidak asing lagi. Mungkin ini sudah menjadi tradisi untuk orang-orang kawanua( sebutan penduduk asli Manado), Sungguh aku merasa sedih dan sangat terpukul apabila menyaksikan kenyataan ini.



Tersentuh Suara Adzan

Sejak aku mula meragukan isi yang terkandung dalam Alkitab, bersamaan dengan kondisi seperti ini, aku merasa lebih akrab bersahabat dengan kawan-kawan yang beragama Islam. Tentu saja ada hal yang sangat menyentuh nuraniku. Terutama ketika umat Islam mendengarkan seruan untuk menunaikan ibadah Shalat melaui Adzan di masjid atau pun mushalla.

Entah mengapa, sekalipun aku masih penganut agama kristen, tetapi bila adzan dikumandangkan dengan alunan suara yang indah, maka hati dan jiwa ini, terasa begitu damai dan sejuk.

Penduduk di kota Manado dan Minahasa mayoritas beragama Kristen. Namun, sudah menjadi suatu kebiasaan di daerahku, kalau umat Islam merayakan Idul Fitri, kami umat Kristen memberi ucapan selamat Natal.

Pada kesempatan seperti ini, aku mulai membandingkan perayaan Natal dengan Hari Raya Idul Fitri. Perbedaan jelas sekali. Umat Islam tampak sangat bersahaja, dan aku dapat merasakan bahwa umat Islam memanfaatkan hari yang suci itu sebagai bagian dari ibadah menuju ketakwaan.

Setelah aku menempuh perjalanan batin yang cukuk melelahkan, karena harus menerobos berbagai rintangan dari keluarga besar Maramis. Alhamdulillah, tepat pada hari Jum'at tanggal 24 Maret 1978, kutinggalkan agama anutanku yang lama (Katholik), dan secara ikhlas masuk agama Islam di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta. Pengucapan ikrar dua kalimat Syahadat dibimbing Bapak H. Alamsyah Ratuperwiranegara mantan Menteri agama RI.

Akhrinya aku memilih Islam berkat bimbingan almarhum suamiku Hayatuddin Ahmad Tapitapi yang memang sudah beragama Islam, karena suamiku berasal dari "Ternate", Kini nama Islamku Frida Maramis.

Sekarang aku hidup bersama ketiga putriku. Insya Allah, melalui kesaksianku dalam rubrik Mengapa Aku Pilih Islam, bisa bermanfaat untuk makin memperkuat benteng pertahanan iman dan Islam kita, sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. Al. Maaidah ayat 3, "Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu agama bagimu." [Yusuf Syahbuddin Maramis/Albaz]
Journey to Islam Swaramuslim.net
F.X. Khoe Hok Tiong : Tertarik Kopiah Hitam

F.X. Khoe Hok Tiong : Tertarik Kopiah Hitam

11.29 Add Comment
Kegagalan, disatu sisi memang sangat menyakitkan. Entah gagal dalam pekerjaan, maupun gagal dalam membina rumah tangga. Tetapi di sisi lain, kegagalan terkadang membawa hikmah yang sangat besar dalam perjalanan sejarah hidup seorang anak manusia. Hal ini rupanya dialami Khoe Hok Tiong alias Pudjihato, seorang karyawan swasta di Jakarta.

Saya yang mempunyai nama baptis Fransiscus Xaverius adalah aktivis Gereja Persekutuan Doa Oikumene. Di tempat kerja, saya dipercaya sebagai Sales and Marketing Manager. Tetapi, sekitar tahun 1989, karir saya banyak mengalami kemunduran. Sebagai manajer penjualan dan pemasaran, saya sering dituntut untuk mengambil keputusan strategis. Karena sesuatu hal, keputusan yang saya ambil sering tidak tepat.

Apa sebabnya? Ternyata ketenteraman rumah tangga turut mempengaruhi karir dan produktifitas kerja saya. Saya akui, rumah tangga yang saya bina sejak tahun 1986 dan sudah membuahkan dua orang putra, mengalami goncangan yang sebenarnya kecil dan sepele, bisa menjadi besar. Rumah rasanya seperti neraka.

Karena persoalan rumah tangga itu, kerja pun tidak konsentrasi dan produktivitas pun menurun. Sebagai kompensasi saya sering keluyuran, sekadar mencari ketenangan batin. Gereja yang sekian lama menjadi tempat yang paling damai ternyata tidak mampu menepis kegundahan hati saya. Saya justru menjadi semakin jauh dari gereja.

Karena sama-sama keras, akhirnya kami tidak mampu lagi mempertahankan keutuhan rumah tangga. Meskipun dalam agama Katolik bercerai itu diharamkan, toh akhirnya, dengan terpaksa saya ceraikan istri saya itu, walaupun dengan hati yang amat berat mengingat kedua orang anak kami masih kecil-kecil. Sebagai ayah, saya amat mencintai anak saya. Tetapi apa mau dikata, mungkin ini sudah suratan. Saya serahkan sepenuhnya nasib kedua anak saya kepada Allah. Bulan Januari 1991 kami resmi bercerai. Kedua anak saya dibawa oleh istri saya ke Kutoarjo, Jawa Tengah.



Tertarik Kopiah Hitam

Antara bulan Januari sampai Juni 1991, saya merasa diri saya menjadi orang kafir, karena selama enam bulan itu saya sudah tidak lagi menginjakkan kaki ke gereja. Tetapi selama masa "kekafiran" itu, banyak hal aneh yang saya jumpai. Seperti, ketika pada suatu sore pada bulan Mei 1991, saya berkunjung ke Toko Buku Wali Songo di daerah kwitang, Jakarta Pusat.
Saya heran, begitu banyak orang keluar masuk toko buku tersebut. Ketika saya terus masuk ke dalamnya, saya melihat banyak orang yagn membersihkan diri di kran air. Saya tidak tahu kalau orang-orang tersebut sedang berwudhu untuk menunaikan shalat maghrib. Tidak lama kemudian terdengar suara azan dari bagian atas. Meskipun saya sudah pernah ke sana dua tahun yang lalu, tetapi baru hari itu saya tahun bahwa di toko buku itu ada masjidnya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk bergabung dengan orang-orang tersebut. Saya ikut berwudhu, setelah memeperhatikan beberapa orang mengambil wudhu. Setelah itu, saya pun ikut shalat magrib berjamaah. Sampai sejauh itu, tidak satu pun di antara jamaah yang mengetahui bahwa ada seorang non muslim yang ikut shalat berjamaah bersama mereka.
Peristiwa yang terjadi tanpa rencana dan begitu spontan itu, ternyata membuat kesan yang amat dalam pada jiwa saya. Saya baru memahami betapa luhurnya ajaran Islam itu. "Untuk menghadap Tuhannya orang Islam harus benar-benar dalam keadaan bersih," begitu kata hati saya dalam perenungan di malam hari.

Beberapa hari berikutnya, pandangan mata saya seperti ada yang mengarahkan. Selama beberapa hari, secara kebetulan, saya selalu saja menjumpai masjid di mana pada saat itu bertepatan dengan kumpulan orang yang sedang berwudhu. Semua yang saya lihat itu, terekam jelas di otak. Dan pada malam hari, kembali menjadi bahan renungan.

Pada suatu hari saya melihat seorang memakai kopiah hitam. Sebetulnya ini hal yang biasa. Tetapi, entah mengapa, pada hari itu saya begitu terpesona. "Alangkah agung dan wibawanya orang itu. Saya heran, mengapa tidak semua orang Islam berkopiah. Padahal, alangkah baiknya kalau semua orang Islam memakai kopiah. Biar tampak agung dan berkharisma.

Beberapa hari kemudian, saya kembali menjumpai hal yang sama. Akhirnya, saya bener-benar tertarik dengan kopiah hitam. Singkatnya, ketika saya singgah ke sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, saya pun membeli kopiah hitam, dan saya langsung memakainya. Orang-orang di pusat perbelanjaan itu tampak heran, ada seorang bertampang Tionghoa, dengan penampilan khas seorang eksekutif muda, dan berdasi tetapi memakai kopiah. Dilihat seperti itu, tentu saja membuat saya salah tingkah.

Sejak itu saya selalu berkopiah, kecuali di rumah dan di kantor. Masih malu. Tentang kopiah ini, ada satu peristiwa yang menarik. Ketika saya singgah di pusat perbelanjaan di Jalan Gajah Mada, saya berpapasan dengan seorang gadis cantik. Timbul naluri kelelakian saya untuk menggoda gadis itu. Apalagi saya seorang duda yang kesepian. Tentu amat wajar. Tetapi, ketika saya ingin menghampiri sang gadis, secara refleks tangan saya bergerak menyentuh kopiah yang sedang saya pakai, dan spontan batin saya pun berkata, "aku kan muslim."

Niat menggoda gadis, urung. Tetapi, yang membuat saya kaget bercampur heran, mengapa hati saya dapat berkata "aku muslim" , padahal pada saat itu saya belum lagi bersyahadat. Kejadian yang seperti itu berulang dua kali, di tempat yang berbeda. Malamnya saya tidak dapat tidur. Saya heran memikirkan suara hati saya yang menyatakan diri seorang muslim, padahal saya belum menjadi seorang muslim. Tetapi, saya bersyukur. Dengan kopiah itu, jiwa saya seperti punya kendali. Jalan saya seperti terbimbing ke satu arah yang pasti.



Masuk Islam

Pada suatu senja menjelang isya, ketika saya pulang kerumah di daerah Jatinegara, kebetulan saya melewati sebuah masjid. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba kaki saya melangkah masuk ke halaman masjid. Dan, saya kembali ikut berwudhu dan kemudian shalat bersama jamaah masjid itu.

Malamnya saya kembali merenung tentang keanehan-keanehan yang saya alami. Tetapi, kali ini saya sudah bulat, ingin masuk Islam.

Setelah melewati proses berpikir yang cukup panjang akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi ke sekretariat PITI (Pembina Iman Tauhid Islam) di Masjid Istiqlal, Jakarta. Setelah mendapat informasi, tekad saya tambah mantap.

Ada suatu keanehan yang terjadi setelah saya pulang dari Masjid Istiqlal. Ketika tiba waktu magrib, saya mendengar alunana azan yang amat merdu. Setelah azan selesai, telingat saya seperti mendengar bisikan, "Sembahyanglah kamu." Ketika saya menoleh ke kiri dan kekanan, tidak ada seorangpun di sekitar saya. Saya tidak tahu, dari mana suara gaib itu. Kejadian seperti itu berlangsung tiga kali, pada waktu yang berbeda.

Singkat cerita, pada hari Rabu, 24 Juli 1991, pukul 10.00 WIB, bertempat di sekretariat PITI di Masjid Istiqlal Jakarta, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Allahu Akbar.
Setelah resmi menjadi seorang muslim, saya mendalami Islam di Pondok Pesantren Gentur, Sukabumi, Jawa Barat. Oleh Pak Kiai, nama saya diganti menjadi Abdul Rasyid. Selain mempelajari Al-Quran, saya juga giat berzikir. "Sekarang hati saya benar-benar plong, tanpa beban. Alhandulillah, saya telah menemukan kebahagiaan yang sejati.[Albaz]
Swaramuslim.net
Pengawal Guantanamo Memeluk Islam

Pengawal Guantanamo Memeluk Islam

11.27 Add Comment
Akibat interaksi sehari-hari dengan sejumlah orang Islam, sejumlah pasukan keamanan penjaga tawanan tertuduh ‘teroris’ AS di Guantanamo justru masuk Islam

Sejumlah pasukan AS yang menjaga 660 narapidana Guantanamo yang dianggap terlibat Al-Qaidah dan dicurigai sebagai pasukan Taliban telah memeluk Islan, menurut seorang penengah dari Aljazair seperti dikutip Aljazeera TV.

Hasan Aribi, yang mengepalai negerinya menuju Guantanamo, telah merundingkan pelepasan 18 orang tahanan dari penangkapan di bawah penjagaan dan pengawalan ketat di ujung timur Cuba.

Menurut Hasan, dia mengklaim bahwa orang tahanan yang dibebaskan menceritakan kepadanya bahwa sebagian dari pengawal AS telah memeluk Islam sebagai hasil interaksi sehari-hari dengan narapidana Islam selama dua tahun.

Militer AS menolak berkomentar ketika dihubungi oleh TV Aljazeera pada Selasa, (21/10) kemarin.

Pelepasan Narapidana

Pernyataan Aribi itu disampaikan pada suatu seminar di Mesir baru-baru ini yang kemudian dikuti oleh Islam Online.

Pada seminar di Kairo kala itu, ia mengatakan negosiasi nya, yang berlangsung di Washington sebelum serangan AS ke Iraq telah mengakibatkan pelepasan delapan orang Aljazair dan sepuluh orang tahanan lain.

"Mereka menceritakan kepadaku bahwa pengawal Amerika sangat simpatik dengan mereka dengan banyak membantu membelikan kebutuhan para tahanan dengan uang jajan mereka," ujar Aribi.

Aribi yang ditarik oleh pemerintahan Arab untuk bertindak untuk melakukan pelepasan warganegara mereka di Guantanamo.

Ia mengatakan, 90% tahanan yang dipegang itu semuanya, "tidak ada hubungan apapun dengan al-Qaidah atau Taliban. Mereka bekerjasama dengan para agen pembebasan kemanusiaan dan hanya ditangkap sebagai bagian dari kampanye Amerika melawan terhadap orang yang dicurigai."

Seorang wakil Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) di New York mengatakan ia juga telah mendengar laporan pengawal AS yang masuk Islam di Guantanamo.

Beberapa minggu lalu, AS juga telah menangkap tiga orang muslim dengan tuduhan mata-mata dan terlibat dengan terorisme. Ketiganya adalah Ahmad Mihalba, warganegara AS asal Mesir, pilot angkatan udara Ahmad al-Halabi, dan Kapten (AL) James Yee, seorang pemoba ruhani Islam.

Pihak pejabat militer AS sendiri hingga kini tak ada yang berkomentar atau mengeluarkan pernyataan resmi meskipun ketiganya mengatakan mereka tidak bersalah.

Lembaga Palang Merah Internasional, Jumat lalu (24/10) juga mengeluh pada kebijakan AS yang memperlakukan narapidana Guantanamo. (alJazeerah.net/Hidayatullah)
Subhanallah, Sejumlah Serdadu AS di Irak Menyatakan Diri Masuk Islam

Subhanallah, Sejumlah Serdadu AS di Irak Menyatakan Diri Masuk Islam

11.24 Add Comment
Ternyata gambaran Islam yang dipublikasikan oleh media-media Barat, jauh berbeda sama sekali dari realitas Islam sebenarnya. Setidaknya hal itu diperlihat kan oleh sejumlah prajurit laki-laki dan wanita AS yang bertugas di Irak, ketika mereka menyatakan diri masuk Islam. Lalu mereka menikah dengan orang-orang Islam Irak. Walaupun pernikahan itu ditentang oleh sejumlah warga setempat.

“Para tentara AS itu telah menyadari bahwa ajaran Islam sama sekali berbeda dengan informasi-informasi yang diprogandakan oleh media-media Barat,” lanjut Sheikh Mahmoud.

“Setelah bergaul setiap hari dengan warga Irak serta pengalaman berinteraksi dengan kalangan Muslim dari dekat di negeri yang terkoyak perang ini, banyak serdadu AS yang menyatakan keinginannya masuk Islam,” ujar Sheikh Mahmoud el-Samydaei, anggota Majelis Ulama Islam Irak, pada Islam Online Rabu (13/8/2003).

Ulama Islam itu mengingatkan kembali para perwira AS yang telah masuk Islam agar memelihara agama itu sampai akhir hayat. Sebab orang yang mati tanpa membawa Islam, ujar Sheikh Mahmoud, matinya akan sia-sia. Para muallaf AS itu mendengarkan wejangan tersebut dengan terisak-isak, mengingat banyak masyarakatnya mati tanpa mengetahui sedikitpun tentang Islam.

Seorang perwira AS yang mendatangi Pengadilan Urusan Sipil di distrik el-Karkh, Baghdad pekan ini menyatakan; “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusanNya.”

Perwira AS itu kemudian menikah dengan wanita Irak, dr. Samar Ahmed yang pernah dijumpainya ketika dia bertugas menjaga Medicine City Hospital. Dia memilih Islam, kata perwira AS itu, lantaran keyakinannya yang penuh terhadap kebenaran Islam. “Saya masuk Islam bukan hanya lantaran untuk menikahi wanita Irak,” tukasnya.
Berdasarkan ajaran Islam, seorang pria non-Muslim dilarang menikahi seorang wanita Islam.

Hakim Agama Abd el-Azeim Mohammad Gawad el-Rasafi merestui pernikahan itu. Abd el-Azeim menegaskan bahwa pernikahan itu merupakan peristiwa pertama, seorang wanita Irak menikah dengan serdadu AS yang masuk Islam. Kepada IslamOnline Abd el-Azeim mengatakan, tak satupun agama di dunia, menghalangi pernikahan tersebut. Walaupun begitu sejumlah warga Irak menentang pernikahan antar etnis itu. (stn/iol/eramuslim)
Swaramuslim.net
19 Remaja Mentawai Masuk Islam

19 Remaja Mentawai Masuk Islam

11.20 Add Comment
Dengan penuh kesadaran puluhan remaja Mentawai beralih ke Islam dan menggunakan hijab meninggalkan agama lama mereka Kristen

Imanuel Jatias (16) telah berganti nama. Cukup bermakna nama “hijrah” itu, Muhammad Syukri. Anak lelaki asli Siberut itu memang tak sendiri. Di mesjid Babussalam Ulakarang Kecamatan Padang Utara, usai shalat Jumat kemarin, Imanuel bersama 18 remaja dari Kabupaten Kepulauan Mentawai melafadzkan duakalimah syahadat di hadapan para saksi dan jemaah mesjid.

Dengan penuh kesadaran dan keikhlasan mereka berhijab meninggalkan agama lama yang diwarisi dari orang tua mereka—ada keristen Katolik, ada pula kristen Protestan— dengan masuk dan memeluk agama Islam.

Resminya pensyahadatan memang baru Jumat (18/7). Namun proses penyadaran telah berlansung cukup lama. “Kita memeluk Islam setelah benar-benar menyadari hanya Islam-lah agama yang dijamin Allah Swt kebenarannya,” tutur Imanuel (Muhammad).

Sebagian dari para mualaf itu memang sudah cukup lama belajar di Panti Asuhan Anak-anak Mentawai di Gurun Lawas Padang. Kendati pada awalnya mereka datang hanya untuk belajar, tidak menjadi persoalan bagi pengasuh Panti. Dari lamanya proses pembelajaran itulah akhirnya mereka memutuskan sendiri dan dengan kesadaran sendiri untuk memeluk Islam.

“Tidak ada yang membujuk-bujuk atau memaksa. Kami datang sendiri, dan masuk Islam dengan kesadaran sendiri. Itu pun setelah mendalami benar bahwa memang hanya Islam agama yang kebenarannya telah dijamin Allah Swt,” ungkapnya.

Lapaz pensyahadatan sebanyak 19 remaja (5 putra dan 14 putri) dari Kabupaten Kepulauan Mentawai itu dipimpin Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Padang Utara Syafrizal.

Pesyahadatan ini antara lain disaksikan Ketua Kamar Dagang dan Industri Sumbar H. Bachtiar Khahar, Ketua DPW Partai Keadilan/PK Sejahtera H. Mahyeldi Ansharullah, Ketua Forum Penegakan Syariat Islam H. Irfianda Abidin, Pimpinan Ponpes Modern Ash-Haabul Kahfi , H. Hafiif ‘Abdulhaady, Pimpinan STQ Ust. M.Husnie Thamrin, Direktur Pusat Kajian Setrategis Rahmat Hidayat, Pembantu Rektor III IAIN Imam Bonjol, Pengurus Panti Asuhan Anak Mentawai, Camat Padang Utara dan sejumlah tokoh masyarakat setempat.

H. Irfianda Abidin menyatakan, Forum Penegak Syariat Islam bersama pengasuh PA Gurun Lawas sekedar pelaksana acara dari apa yang sesungguhnya telah “diskenariokan” oleh Allah Swt.

Melihat kenyataan betapa lebih maju dan lebih mampunya orang lain ‘menggarap’ ummat di Kabupetan termuda itu, kata H. Irfianda, tanpa “skenario” Allah sahaja, sangat mustahil pensyahadatan kemarin terjadi.

“Tapi inilah keyakinan kita. Sehebat-hebat skenario dan rencana manusia dengan dukungan fasilitas apapun juga, yang pasti berlaku tetaplah “skenario” Allah Swt semata,” tuturnya.

Dari peristiwa yang terjadi di mesjid Babussalam ba’ada Jumat kemarin, ummat Islam Sumbar juga dapat mengambil hikmahnya.

“Bahwa meskipun tipu daya kaum kuffar dan iblis sangat canggih dan sistematis dalam mendangkalkan aqidah ummat Islam Sumbar namun yang akan berlaku tetap saja “skenario” Allah Swt. Asal saja kita tetap istiqomah dijalan Allah,” tandasnya.

Ust.H. Hafiif ‘Abdulhaady dalam tausyiah pensyadatan menyatakan, kembali ke Islam adalah kembali ke agama yang nyata-nyata telah dijamin Allah Swt kebenarannya. Bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang dijamin kebenarnnya, Allah sendiri yang menyatakan dalam al-Qur’an, bukan kita dan para da’i,” ungkapnya mengutif beberapa ayat.

Yang kembali kepada Islam, kata Ust. Hafiif, Allah jamin kembali kepada fitrah. “Segala keburukan dan ketidak tahuan yang dilakukan sebelum muallaf, Allah gantikan dengan kebaikan-kebaikan,” jelasnya.

Sedangkan Rahmat Hidayat menyatakan, pensyahadatan merupakan gerbang awal untuk mendalami dan menjadi Islam khaffah. “Untuk itu adalah kewajiban kita semua membantu pendidikan para mualaf muda Mentawai ini menjadi generasi Islam yang tangguh,” ungkap mantan aktivis HMI itu.

Senada dengan itu Pengurus PA Anak Mentawai M. Habib mengakui, dari sisi fasilitas dan pendanaan, memang dakwah di Kepulauan Mentawai sangat jauh tertinggal dari yang lain. “Ketika pihak lain telah bermotor boat, perahu sampan pun da’i Islam di sana tidak punya,” jelas Habib. udn Hidayatullah.com
Molly Ingin Menjalani Hidup Sebagai Muslimah

Molly Ingin Menjalani Hidup Sebagai Muslimah

11.15 Add Comment
I love Scotland ... but I love Islam more. I don't want to be a Christian
Molly Campbell, gadis kulit putih asal Skotlandia, mendapati dirinya terperangkap dalam pertempuran hak asuh antarnegara. Niatnya untuk menjalani hidup sebagai seorang Muslimah di negara ayahnya berasal, Pakistan, tak bisa terlaksana.

Rabu (29/11) lalu, Pengadilan Tinggi Lahore, Pakistan, memerintahkan agar gadis berusia 12 tahun itu dikembalikan ke pangkuan ibunya di Skotlandia. ''Molly Campbell akan diserahkan kepada Komisi Tinggi Inggris dalam beberapa hari, untuk kemudian dipulangkan ke Skotlandia,'' ungkap Mian Saqib Nisar, hakim di Pengadilan Tinggi Lahore.

Kedua orang tua Molly memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Ayahnya yang beragama Islam, Sajjad Ahmed Rana, merupakan warga negara Pakistan. Sedangkan ibunya, Louise Campbell, warga Skotlandia, Inggris.

Rana kembali ke kampung halamannya di Pakistan setelah pasangan ini memutuskan cerai pada 2001. Ia meninggalkan Molly bersama ibunya di Stornoway, sebuah kota kecil di wilayah barat Skotlandia.
Agustus lalu, Molly menghilang dari rumah ibunya. Ia kemudian diketahui berada di Pakistan bersama ayahnya. Mengetahui hal tersebut, Lousie mengklaim Molly diculik oleh mantan suaminya dan dibawa paksa ke Pakistan. Ia juga mengklaim Molly dipaksa untuk menjalani perkawinan secara Islam.

Tudingan Louise dibantah Rana yang menyatakan Molly, yang memiliki nama Muslimah Misbah Iram Ahmad Rana, datang ke Pakistan dengan sukarela. Ini karena remaja tersebut sejak dulu memang ingin memeluk Islam. Setibanya di Pakistan, Molly sendiri yang mengatakan dirinya ingin tinggal di Pakistan, dan membantah berada di bawah tekanan untuk menikah.

Perang perebutan hak asuh berlanjut ke meja hijau. Louise, melalui pengadilan setempat, menggugat Rana dengan tuduhan melakukan penculikan. Louise mengirimkan petisi melalui pengacaranya kepada pemerintah Pakistan untuk mengembalikan putrinya.

Dalam persidangan September lalu, Pengadilan Pakistan memenangkan Rana atas gugatan terhadap dirinya. Molly dipersilakan untuk tetap tinggal di Pakistan bersama dengan ayah dan saudara kandungnya, dan melarang pemerintah untuk mengembalikannya ke Skotlandia.

Tidak terima dengan putusan tersebut, Louise mengajukan banding, yang kemudian dimenangkan oleh Pengadilan Tinggi Lahore melalui keputusan yang keluar Rabu lalu. ''Saya merasa terpukul. Saya akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung dalam beberapa hari,'' ungkap Rana. ''Molly merasa sangat kecewa.''

Saksi mengatakan Molly, yang hadir di persidangan mengenakan pakaian Muslim dan penutup kepala, hanya bisa menangis usai pembacaan keputusan. Anggota keluarganya yang lain terlihat menghapus air mata.

Ibu Molly tak hadir di persidangan karena alasan keuangan dan kesehatan. Pengacaranya, Nahida Mehbub Elahi, mengatakan keputusan ini merupakan sebuah tonggak. ''Ini sebuah tonggak karena terdapat sekitar 60 ribu warga Pakistan yang mengawini wanita Inggris dan mungkin akan menghadapi kasus yang sama,'' ujarnya.

''Bagi Molly, ini merupakan kemungkinan terburuk. Dia bilang akan lari lagi dari ibunya,'' kata Rana.

(ap/afp/aru/RioL)
Berita Muallaf Swaramuslim.net
Keith Ellison : Jalan Panjang Sang Mualaf

Keith Ellison : Jalan Panjang Sang Mualaf

11.12 Add Comment
Mengincar kursi yang ditinggalkan Martin Sabo di DPR AS, dalam kampanyenya Keith Ellison mengusung ide tentang perdamaian, layanan kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, serta masa depan yang lebih baik.

Melalui surat terbuka yang dipasangnya di http://www.keithellison.org,/ Ellison juga menyatakan tekadnya untuk mengupayakan penyegeraan penarikan tentara AS dari Irak serta usaha rekonstruksi internasional. ''Dengan dukungan Anda, saya akan mewujudkannya,'' ujar pria berusia 43 tahun itu.

Pemikiran Ellison memang bukan hal baru. Namun, track record-nya yang mengesankan mampu mengantarkan Ellison yang menjadi mualaf selepas lulus SMU ke kursi DPR. Ellison pun mengukir sejarah. Dialah Muslim pertama yang bisa menduduki posisi penting tersebut.

Didukung oleh Minnesota DFL --yang berafiliasi dengan Partai Demokrat-- Elisson juga menjadi keturunan Afro-Amerika pertama dari Minnesota yang menjadi salah satu dari 435 anggota DPR AS. Sebelumnya, sejak 1943 cuma ada tiga orang yang pernah mewakili distrik Minnesota di DPR. Keanggotaan di DPR didapatnya setelah jumlah suara yang didapatnya melampaui kandidat kuat lainnya dari Partai Demokrat.

Mantan senator Ember Reichgott Junge, anggota Dewan Kota Minneapolis Paul Ostrow, dan kepala staf Sabo, Mike Erlandson, rupanya tak begitu mendapat tempat di hati akar rumput. Buktinya, pilihan lebih banyak dijatuhkan kepada Ellison. Ia menang dengan selisih 30 poin.

Sebelum Ellison, sebetulnya sudah banyak Muslim Amerika yang mencoba menduduki posisi serupa. Hanya saja, kurangnya pengalaman di dunia politik, lemahnya kampanye, serta kecurigaan berkelanjutan terhadap Islam, kerap menjegal usaha mereka. Bagi Ellison, sukses diraih setelah menapaki jalan panjang di dunia pelayanan masyarakat.

Sebagai warga pendatang, Ellison, yang pindah dari Detroit ke Minnesota pada 1987, paham benar kehidupan masyarakat Minnesota. Keragaman latar belakang penduduk justru dianggapnya sebagai kekuatan. Pria yang beristrikan guru matematika ini lantas membangun jaringan dengan seluruh lapisan masyarakat, baik yang berada di sekitar tempat tinggalnya, di pusat kota, hingga di lingkar utara.

Ellison memang bukan politikus dadakan di Minnesota. Pria kelahiran 4 Agustus 1963 ini pernah delapan tahun mengudara di radio komunitas, membantu warga Minnesota menyalurkan unek-uneknya. Berkat jasanya pula Minnesota pada 1990-an memiliki Police-Civilian Review Board, dewan yang mencermati hubungan kepolisian dengan masyarakat.

Pada tahun 2002, Ellison terpilih mewakili House District 58B di daerah pemilihan Minnesota. Ini merupakan kawasan bisnis potensial yang demografinya beragam dan dihuni oleh warga rasis. Di Minnesota, Ellison juga tergabung dalam keanggotakan Dewan Keamanan Publik, Komite Kebijakan dan Keuangan, serta Komite Pemilihan dan Hukum Publik.

Sebelum terjun ke dunia politik, Ellison bekerja sebagai pengacara. Ayah dari Amirah, Jeremiah, Elijah, dan Isaiah, itu lantas memanfaatkan pengetahuannya untuk membantu kaum papa yang terjerat masalah hukum. Ia melakukannya di bawah naungan Legal Right Center. Ellison bertindak sebagai executive director di organisasi nirlaba tersebut.

Selagi masih menjadi mahasiswa, Ellison menemukan keyakinan baru. Ellison muda yang dibesarkan di keluarga penganut Katolik Roma lantas mengucapkan syahadat. Ketika itu, usianya masih 19 tahun.

Di bangku kuliah, Ellison kerap menulis kolom di koran kampusnya, Minnesota Daily, dengan nama Keith E Hakim. Salah satu tulisannya yang diterbitkan pada 1989 sempat menjadi kerikil yang memengaruhi perjalanan Ellison menuju kursi DPR. Tulisan tersebut memuat opini Elisson tentang kiprah Louis Farrakhan, tokoh Nation of Islam.

Diterpa masalah tersebut, Ellison menegaskan dirinya tak pernah menjadi anggota Nation of Islam. Namun, ia tidak mengingkari kedekatannya dengan Farrakhan. Ia mengaku terlibat dalam kegiatan Million Man March di Washington DC. ''Di pertengahan 1990-an, selama 18 bulan, saya memang pernah bekerja sama dengan personel Nation of Islam,'' ujarnya.

Ellison mengungkapkan dia bukanlah orang yang anti-Semit. Ia bahkan menolak segala bentuk perlakuan yang bersifat anti-Yahudi. Terlepas dari masa lalunya itu, Ellison malah pernah mendapatkan dukungan dari The American Jewish World, koran lokal Minneapolis.

Ujian buat Ellison tak berhenti di situ. Saingan dari Partai Republik, Alan Fine, menuding Ellison menerima dana kampanye dari pimpinan Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi yang oleh Fine dicap memiliki hubungan erat dengan jaringan teroris. ''Pendiri CAIR, Nihad Awad, adalah kenalan saya. Organisasi ini mengutuk terorisme,'' kata Ellison yang juga sempat dihantam isu penunggakan pajak.

Terlepas dari latar belakang etnis dan agamanya, Ellison merupakan pribadi yang mengesankan. Walikota Minneapolis, RT Rybak, berpendapat demikian. ''Ellison mampu mempersatukan orang. Dia adalah satu dari segelintir orang yang dapat membuat pihak-pihak yang berbeda paham di utara Minneapolis menjadi rukun,'' komentar Rybak.

Mantan jaksa Amerika, B Todd Jones, juga menaruh simpati pada Ellison. Ia berpendapat Ellison yang dikenalnya sejak masih menjadi mahasiswa University of Minnesota Law School mendapat perlakuan yang tidak adil dengan berembusnya isu-isu tersebut. ''Saya bisa memahami ketertarikan Ellison pada Nation of Islam. Yang jelas bukan lantaran anti-Semitisme,'' ucap Jones seperti dikutip Star Tribune.

Setelah berhasil mendapatkan kursi DPR dari 5th District, Ellison kembali menegaskan komitmennya. Sedari awal, ia selalu menekankan program yang diusungnya merupakan perjuangan bersama. ''Secara individu, kami berkomitmen pada diri sendiri untuk membangun dunia yang lebih baik, negara yang lebih baik. Kami akan memulainya dari sini, dari 5th District, mulai dari sekarang,'' tegasnya seperti dilansir http://www.kare11.com/

Sejumlah suporter Muslim berharap Ellison dapat membantu menjembatani jurang antara Muslim dan non-Muslim di AS. Sementara itu, tokoh Islam asal Philadelphia yang selalu mendukung kampanye Ellison, Adeeba Al-Zaman, menilai Ellison bisa berbuat lebih dari sekadar sumbangsih untuk agamanya. ''Yang jelas, saya mendukung dia bukan karena dia orang Islam. Saya bangga pada citra, visi, dan platform Ellison,'' kata Al-Zaman. (RioL)

(reiny dwinanda )
Berita Muallaf Swaramuslim.net
Kathy, Wanita Amerika Yang Dapat Hidayah Melalui al-Qur’an Terjemahan!!

Kathy, Wanita Amerika Yang Dapat Hidayah Melalui al-Qur’an Terjemahan!!

11.07 Add Comment
Setelah tidak mengajar lagi di sekolah-sekolah Amerika, saya bekerja sebagai direktur salah satu sekolh-sekolah Islam yang ada di distrik Washington. Di sana, ada pemandangan yang menggugahku, yaitu prilaku seorang wanita asal Amerika yang bekerja sebagai sekretaris. Ia merupakan contoh wanita yang pemalu, anggun dan bersungguh-sungguh bagi wanita-wanita Muslimah. Lalu saya ceritakan hal itu kepada isteri saya sembari memperbandingkan prilakunya dnegan kebanyakan wanita yang dilahirkan sebagai Muslimah tetapi tidak komitmen terhadap hijab dan etika Islami dalam berinteraksi dengan laki-laki asing

Ketika saya tanyakan kepada isteri saya, ia menceritakan kepada saya kisah keislaman si wanita Amerika yang sungguh aneh. Berikut penuturan wanita Amerika itu seperti yang diceritakannya kepada isteri saya:
Ketika masih belajar di SD, ibuku sering menemani ke perpustakaan umum terdekat. Dan, sudah menjadi tradisi perpustakaan-perpustakaan umum, bahwa ketika terdapat beberapa set buku yang sama, maka minat terhadapnya berkurang.

Atau kalau ada beberapa set buku yang rusak, maka ia tidak dibuang begitu saja tetapi dijual dengan harga obral yang sangat murah. Suatu kali, ketika perpustakaan menawarkan buku-buku seperti ini, aku membeli salah satunya dengan harga 5 atau 10 Cent yang aku ambil dari kocek khususku. Ini aku lakukan karena rasa ingin memiliki buku dan mendapatkan sesuatu yang spesial. Ketika itu, aku belum tahu apa isinya. Aku hanya meletakkannya di perpustakaan khususku di kamar kemudian dimasukkan ke dalam salah satu kardus dengan buku lainnya yang sudah jelek dan terlupakan.

Hari demi hari pun berlalu dan tak terasa aku sudah menamatkan SD, SLTP dan SLTA. Aku beruntung karena diterima kuiah di salah satu fakultas. Dan, adalah sebuah hikmah dan rahasia dari Allah bahwa aku memasuki fakultas Sastra dan memilih spesialisasi di bidang ilmu perbandingan agama di mana lebih memfokuskan pada tiga agama besar; Yahudi, Nashrani dan Islam. Manakala di jurusan tersebut tidak terdapat seorang dosen yang beragama Islam, maka yang kentara dibicarakan adalah gambaran Islam yang sudah tercoreng. Karena itu, aku tidak begitu interes dengannya. Selanjutnya, aku tidak menemui kendala apa pun untuk melewati kurikulum-kurikulum studi sehingga berhasil lulus dan memperoleh gelar sarjana.



Buku Yang Amat Berkesan!

Setelah lulus kuliah, mulailah tahap mencari pekerjaan. Berhubung spesialisasiku termasuk spesialisasi yang sedikit mendapatkan tawaran kerja, ditambah secara umum memang lowongan kerja juga tidak banyak di kawasan yang aku tinggali, maka dengan cepat aku dicekam rasa kecewa dan bosan dalam mencari lowongan kerja tersebut. Akhirnya, sebagian besar waktu, aku habiskan di rumah alias menjadi pengangguran!! Selanjutnya untuk mengisi kekosongan waktu, aku membongkar dan membuka-buka kembali buku-buku yang dulu pernah aku beli. Saat itulah, aku menemukan buku yang telah aku beli sejak kecil dan nampak sudah tertimbun debu. Karena dibeli sejak masih kecil dari kocek pribadi, tentu ia begitu mengesankan dan istimewa bagiku seakan sekeping peninggalan berharga.

Aku ambil buku itu, lalu aku bersihkan. Selanjutnya, aku mulai membacanya…Ternyata ia adalah kitab al-Qur’an terjemahan dalam bahasa Inggeris. Mulailah aku membacanya dengan penuh perasaan dan keseriusan. Aku betul-betul tertarik dengannya. Setelah agak banyak membacanya, rupanya sama sekali berbeda dengan opini dan pendapat yang selama ini aku dapatkan di kampus mengenai Islam. Gambaran Islam di dalamnya juga amat berbeda dari gambaran yang dikatakan para dosen di fakultas mengenai agama ini dan al-Qur’an.

Aku mulai bertanya-tanya: sedemikian bodohkah para dosenku di kampus? Ataukah mereka sengaja berbohong ketika menyinggung tentang Islam dan al-Qur’an? Aku terus mengulangi dan membacanya dengan penuh rasa puas dan ingin tahu mengenai apa ajaran dan petunjuk yang dikandungnya. Dan begitu menyudahinya, aku langsung memutuskan; selama Islam itu begini gambarannya, maka aku harus segera memeluknya dan menjadi seorang Muslimah.!

Setelah itu, aku menghubungi salah seorang Muslim dan bertanya kepadanya bagaimana cara masuk Islam. Setelah mendengar penjelasannya, aku kembali tercengang karena demikian gampang dan mudah prosesnya. Alhamdulillah, aku pun masuk Islam dan menikah dengan seorang pemuda Muslim asal Afghanistan.

Sekarang kami sudah menjadi salah satu keluarga di kota ini (Washington-red). Kami memohon kepada Allah agar menerima amal kami dan memantapkan kami dalam dien-Nya… (Alsofwah)

(Sumber: Situs Islamway, terjemah ke dalam bahasa Arab oleh Dr Abdul Hamid Al Abdul Jabbar)
Berita Muallaf Swaramuslim.net
Enny Beatrice, Hidup Bahagia dalam Hidayah Islam

Enny Beatrice, Hidup Bahagia dalam Hidayah Islam

11.05 Add Comment
ENNY Beatrice dikenal sebagai pemain film panas pada 1980-an. Namun siapa yang menyangka, Eny kini menjadi istri Menteri Pelancongan Malaysia Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor. Perempuan yang kini berpakaian lebih santun ini pun sibuk dalam organisasi sosial yang beranggotakan istri menteri dan wakil menteri Malaysia.

Walau tak lagi terjun di dunia film, Enny mengaku masih aktif di dunia seni. Datuk pun sangat memahami latar belakang sang istri. "Saya ikut aktif menari," kata pendukung Perkawinan Nyi Blorong.

Menurut Enny, pertama kali bertemu dengan Datuk pada 1988. Saat itu Datuk yang masih menjadi pengusaha menyumbang dana untuk film laga kerja sama Indonesia-Malaysia yang dibintanginya. Keduanya berkenalan dan saling jatuh cinta. Saat duda beranak empat itu melamarnya pada 1989, Enny pun menerimanya. "Dia sayang pada orang tua saya, hormat kepada bapak ibu saya," Enny beralasan.
Berita Muallaf Swaramuslim.net

Hubungan Enny dan Datuk juga direstui. Begitu pula saat Enny memutuskan menjadi mualaf, mengikuti agama yang dianut sang suami. Apalagi, ayah Enny seorang haji. Pengorbanan cinta Enny kepada Datuk juga ditunjukkan dengan berpindah warga negara ke Malaysia pada tahun 2003.

Kini, setelah hampir 18 tahun berrumah tangga, Enny dan Datuk memiliki enam anak dengan empat perempuan dan dua laki-laki. Anak terbesar berusia 16 tahun dengan mengambil kuliah kedokteran. Sedangkan anak terkecil berusia 18 bulan. Mereka hidup bahagia. (Dp-041006/SCTV)
Mohamad Lorand : Dedikasi Mualaf Bule Rumania untuk Anak Kurang Mampu

Mohamad Lorand : Dedikasi Mualaf Bule Rumania untuk Anak Kurang Mampu

10.05 Add Comment
Mohamad Lorand, pria Rumania mendidik anak-anak kurang mampu di Panti Asuhan Nusantara miliknya di Jakarta. Ratusan anak dari pelosok Indonesia dibiayai hidupnya dan disekolahkan hingga ke universitas.

Berbuat kebaikan tak mengenal suku atau kewarganegaraan. Inilah yang menjadi falsafah hidup Mohamad Lorand. Lelaki asal Rumania ini sudah 17 tahun mengabdikan diri untuk mengasuh anak-anak di Panti Asuhan Nusantara miliknya di Jakarta. Lorand bahkan membiayai hidup dan memberi mereka pendidikan gratis hingga ke tingkat universitas.

Lelaki bule ini mengaku tak membayangkan akan beraktivitas sosial di Indonesia. Mulanya Bang Lorand--demikian ia disapa--datang pada 1974 untuk bekerja di sebuah hotel di Medan, Sumatra Utara. Saat hijrah ke Jakarta, ia kemudian tergugah untuk mendirikan sebuah panti asuhan. Pada 1989, Lorand lantas mendirikan Panti Asuhan Nusantara. :video

Di panti ini ia mendidik dan merawat ratusan anak hingga mandiri. Anak-anak yang datang dari penjuru Tanah Air diajar dengan penuh disiplin. Bang Lorand juga mendidik anak-anak asuhnya agar mampu membaca Alquran. Membaca Alquran, menurut Bang Lorand, adalah salah satu bekal si anak menjalani hidup selepas dari asuhannya.

Lorand mengaku kesulitan menghidupi anak-anak asuhnya karena banyak pihak yang menitipkan si anak tak memberi bantuan finansial. Untuk mencukupi kebutuhan, ia pun rela berkeliling Ibu Kota untuk mengajar bahasa Inggris. "Kebingungan saya bagaimana menghadapi anak dari hari ke hari," cerita pria 55 tahun ini.

Sikap disiplin dan penuh kekeluargaan Lorand ternyata membekas di hati anak asuh Lorand. Sang anak selalu teringat untuk dapat berbuat sesuatu bagi panti.

Kini Lorand harus dibantu Monika, keponakannya, untuk mengajar anak-anak asuhnya. Namun Lorand tak pernah jenuh membantu anak-anak yang kurang mampu. Sebab baginya cinta kasih tidak mengenal suku ataupun kewarganegaraan. "Indonesia sama dengan Rumania. Kita ramah tamah, gotong royong," ujar dia.(MAK/Satya Pandia/Liputan6.com)
Berita Muallaf Swaramuslim.net
Pengakuan Nakata Khaula

Pengakuan Nakata Khaula

10.03 Add Comment
Menutupt aurat? tak pernah terlintas baginya. Maklum, ia seorang aktifis feminis. Namur wanita asal Jepang ini berubah total dan justru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam. Baca pengakuan seorang mantan aktifis feminisme ini

Ketika saya kembali ke dalam pangkuan Islam, agama asli semua manusia, sebuah perdebatan sengit sedang terjadi di sekolah-sekolah Prancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan-terutama keturunan imigran TImur-Tengah-hingga beberapa waktu lamanya (hal itu terjadi karena ada kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dari otoritas Prancis, pen). Mayoritas pelajar berpendapat, public-dalam hal ini sekolah negeri-seharusnya bersikap netral dalam urusan agama, termasuk tentang tudung kepala (jilbab). Tidak dapat dipungkiri, kelompok Muslim di Prancis turut membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.

Menurut saya, pihak sekolah hendaknya menghargai keyakinan seseorang atau kelompok dalam menjalankan ajaran agamanya sepanjang orang atau kelompok itu tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah, apalagi sampai melanggar disiplin.

Namun, tampaknya pemerintah Prancis sedang menghadapi gejolak social dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Mereka merasa kehidupan ekonomi mereka terancam dengan makin banyaknya pekerja imigran Arab. Banyaknya penggunaan jilbab di kota-kota atau di sekolah-sekolah semakin memicu perasaan mereka itu.

Pada kenyataannya, memang semakin banyak perempuan Arab imigran yang memakai jilbab, terlepas dari pandangan bahwa fenomena itu akan segera menghilang seperti halnya ketika sekularisme Barat menanamkan pengaruhnya di dunia Arab (Timur-Tengah). Ketahanan pelaksanaan ajaran Islam itu sering dianggap sebagai upaya kelompok Islam di mana saja untuk mengembalikan kebaggaan dan identitas mereka yang pernah hilang ditelan kolonialisme Barat.

Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.

Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari kepala mereka.

Pandangan yang naïf seperti itu, bagi kelompok Muslim, menunjukkan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Islam di dalam gerakan pembebasan perempuan. Hal ini akibat kebiasaan mencampuradukkan pandangan secular dan nilai-nilai eklektisisme agama sehingga mereka tidak mampu lagi menangkap kesempurnaan Islam sebagai agama yang universal dan abadi.

Hal itu berbeda sekali dengan kenyataan bahwa semakin banyak perempuan non-Muslim dan non-Arab dari seluruh penjuru dunia yang kembali ke pangkuan Islam. Bahkan, mereka melaksanakan kewajiban berjilbab atas kesadaran mereka sendiri dan bukan atas desakan tradisi yang dipandang berorientasi pada kekuasaan laki-laki atas perempuan (masculine-oriented).

Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.

Sebelumnya, saya pernah diperingatkan tentang kemungkinan hilangnya kebebasan saya saat memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam. Saya diberitahu bentuk jilbab itu berbeda-beda menurut daerahnya masing-masing atau pemahaman dan kesadaran agamanya. Di Prancis, saya memakai jilbab yang sederhana-lebih tepat disebut penutup kepala-yang sesuai dengan mode dan sekedar tersampir di kepala sehingga terkesan modis.

Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang “orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).

Ketika saya memutuskan untuk kembali ke dalam pangkuan Islam, saya tidak berpikir tentang pelaksanaan ibadah shalat lima kali sehari atau tentang penggunaan jilbab. Barangkali saat itu saya khawatir jika saya terlalu dalam memikirkan hal itu, saya tidak akan pernah sampai pada keputusan yang tepat. Bahkan, hal itu mungkin akan mempengaruhi niat saya untuk bepaling ke Islam.

Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali terhadap Islam, termasuk tentang sholat dan penggunaan jilbab. Bahkan, tidak pernah terbayang sedikitpun. Namun sejak itu, keinginan saya kembali ke pangkuan Islam begitu kuat untuk dikalahkan pikiran-pikiran tentang tanggung jawab yang akan saya emban sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah.

Saya baru mulai merasakan keuntungan dan manfaat jilbab sesudah saya mendengarkan khotbah di sebuah masjid di Paris. Bahkan saat itu, saya tetap menggunakan kerudung kepala saya saat keluar dari masjid. Khotbah itu telah menjadi sebuah keputusan spiritual tersendiri seperti pengalaman saya sebelumnya dan saya tidak ingin kepuasan itu hilang. Mungkin karena cuaca yang dingin hingga saya tidak terlalu merasakan adanya kerudung di kepala.

Selain itu, saya merasa bersih, suci, dan terjaga dari kotoran dalam arti yang fisik atau psikis. Saya merasa seolah berada di dalam lindungan Allah SWT. Sebagai orang asing di Paris, terkadang saya merasa tidak nyaman dengan pandangan liar laki-laki ke arah saya. Dengan jilbab, saya merasa lebih terlindung dari pandangan liar itu.

Jilbab membuat saya bahagia sebagai wujud ketaatan dan manifestasi iman saya kepada Allah SWT. Saya tidak perlu meyakinkan diri saya lagi karena jilbab telah menjadi tanda bagi semua orang, terutama sesame Muslim, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan Islam (Ukhuwwah Islamiyyah). Memakai jilbab sudah menjadi sesuatu yang spontan saya lakukan, bahkan dengan sukarela.

Pada awalnya, saya berpikir tidak ada seorang pun yang dapat memaksa saya untuk memakai jilbab. Jika mereka memaksa, saya pasti menentang mereka. Namun, buku Islam pertama mengenai jilbab yang saya baca sangat moderat. Buku itu hanya menyebutkan, “Allah SWT sangat menekankan pemakaian jilbab.”

Oleh karena Islam-seperti yang ditunjukkan dengan makna Islam, yaitu penyerahan diri-saya pun melaksanakan kewajiban keislaman saya dengan sukarela dan tanpa merasa kesulitan. Alhamdulillah. Selain itu, jilbab mengingatkan semua manusia bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa mengingatkan saya untuk bersikap Islami. Seperti halnya petugas polisi yang tampak lebih professional dengan seragam mereka, saya pun merasa lebih Muslimah dengan jilbab yang saya pakai.

Dua pekan sesudah saya kembali ke pangkuan Islam, saya pulang ke Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan di Sastra Perancis yang telah kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, saya memilih kajian Arab dan Islam.

Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya!

Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari. Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.

Apalagi, saya teringat dengan kasus jilbab di Prancis. Saat itu, saya memandang perempuan dalam jubah sebagai,” perempuan yang diperbudak budaya Arab karena tidak tahu Islam” (kini saya tahu menutup wajah bukan kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata).

Saya ingin mengatakan kepada wanita Kairo itu bahwa ia telah berlebihan dalam berpakaian sehingga tampak tidak alami dan tidak lazim. Namun, saya justru diingatkan wanita itu bahwa jilbab buatan saya sendiri tidak cocok digunakan di luar rumah-sesuatu yang tidak saya setujui sebelumnya karena saya merasa sudah memenuhi tuntutan jilbab bagi Muslimah.

Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam ukuran yang lebih panjang, disebut juga khimar, yang menutup sempurna bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap menutup wajah saya, sesuatu yang dipakai sebagian besar saudara Islam saya. Meski demikian, mereka tetaplah minoritas di Kairo.

Secara umum, pemuda Mesir yang sedkit atau banyak terpengaruh budaya Barat masih menjaga jarak dengan perempuan yang memakai khimar dan memanggil mereka dengan sebutan ukhti. Laki-laki Mesir memperlakukan kami dengan penuh hormat dan sopan. Oleh karena itu, perempuan yang memakai khimar saling menjalin persaudaraan sehingga mereka turut menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW-seorang Muslim hendaknya memberi salaam kepada Muslim lain yang ditemui di jalan, dikenal atau tidak dikenalnya.

Persaudaraan mereka yang lebih tepat untuk ditekankan itu didasari keimanan kepada Alloh SWT dibandingkan perempuan yang hanya memakai kerudung sebagai bagian dari bagian dari budaya dan bukan bagian dari keimanan. Sebelum berpaling ke pangkuan Islam, saya sangat senang memakai pakaian dengan model celana yang memungkinkan saya bergerak aktif meskipun bukan rok feminine. Namun, long dress yang biasa saya pakai di Kairo cukup nyaman bagi saya. Saya merasa anggun dan lebih santai.

Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara malam karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saudara-saudara baru saya yang di Kairo pun tampak sangat cantik dengan khimar hitam mereka dan sangat menunjang cahaya ketakwaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka (meski begitu, mereka sangat berbeda dengan suster Katholik Roma yang dulu menjadi eprhatian utama ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris tidak berapa lama sesudah saya tinggal di Riyadh, Arab Saudi).

Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami. Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan terorisme dan tekanan.

Namun, saya tidak bermaksud mengabaikan jilbab dengan warna yang lebih cerah selain hitam karena pada kenyataannya sejak dulu saya bekeinginan memakai pakaian dengan gaya yang relijius seperti suster Katholik Roma jauh sebelum saya berpaling ke pangkuan Islam!

Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam : sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.

Sesudah tinggal selama enam bulan di Kairo, saya sudah terbiasa dengan pakaian long dress sehingga saya mulia berpikir untuk tetap memakainya meskipun di Jepang. Komprominya, saya akan membuat khimar dengan aneka warna yang cerah atau putih dengan harapan orang Jepang tidak akan terlalu kaget dengan hal itu daripada saya hanya memakai khimar warna hitam.

Ternyata saya betul. Reaksi orang Jepang lebih baik dengan khimar putih dan mereka lebih cenderung menduga saya sebagai yang relijius. Saya mendengar seorang gadis Jepang yang berkata kepada temannya bahwa saya seorang suster Buddha : betapa miripnya antara Muslimah, suster Buddha, dan suster Katholik Roma!

Sekali waktu di dalam sebuah kereta, orang tua yang berada dis ebelah saya menanyakan alasan saya memakai baju yang tidak biasa dipakai banyak orang. Ketika saya jelaskan bahwa saya seorang Muslimah dan Islam mengajarkan kepada perempuan agar menutup tubuh mereka supaya terlindung secara fisik maupun psikis, orang tua itu tampaknya sangat tertarik. Saat ia turun dari kereta, ia berterima kasih dan mengatakan bahwa ia ingin sekali berbicara banyak tentang Islam dengan saya.

Dalam waktu sekejap, ternyata jilbab menjadi factor yang dominant dalam memancing keingintahuan orang tentang Islam. Apalagi, orang Jepang bukanlah orang yang lazim berbicara banyak tentang agama. Sama seperti di Kairo, jilbab berperan sebagai tanda diantara sesama Muslimah, di Jepang pun hal yang sama saya lakukan.

Pernah suatu kali ketika dalam suatu perjalanan, saya berkeliling dan bertanya-tanya benarkah rute yang saya ambil ini. Pada saat itu, saya melihat sekelompok perempuan memakai jilbab. Saya pun mendekati mereka dan kami bersalaman satu sama lain.

Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.

Saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tersembunyi. Jika pemandangan seperti itu saja membuat saya malu sebagai perempuan, saya tidak dapat membayangkan dampaknya jika dilihat laki-laki. Oleh karena itu, Islam memerintahkan manusia berpakaian sopan dan tidak telanjang di ruang public meskipun di ruangan khusus perempuan atau laki-laki.

Jelaslah, penerimaan sesuatu yang telanjang dalam suatu masyarakat berbeda-beda menurut pemahaman masyarakat atau individunya. Misalnya, di Jepang limapuluh tahun yang lalu, berenang dengan memakai baju renang yang setengah tertutup sudah dianggap vulgar, tetapi sekarang bikin sudah dianggap biasa. Namun, jika ada perempuan berenang dengan baju renang topless, ia dianggap tidak punya malu.

Lain halnya jika topless di pantai selatan Prancis yang sudah dianggap biasa. Begitu pun di beberapa pantai di Amerika Serikat. Kaum nudis sudah berani bertelanjang ria seolah-olah mereka baru dilahirkan. Jika kaum nudis ditanya tentang perempuan liberal yang menolak jilbab-mengapa mereka masih menutupi pantat dan pinggul mereka padahal keduanya sama alamiahnya dengan wajah dan tangan-apakah perempuan liberal mau memberikan jawaban yang jujur?

Definisi tentang bagia tubuh perempuan yang harus tetap pribadi ternyata sangat bergantung pada fantasi dan ksesenangan laki-laki di sekitar mereka yang mengaku-ngaku sebagai feminis. Namun di dalam Islam, kita tidak akan menemui masalah semacam itu karena Alloh SWT telah menetapkan definisi tentang bagian tubuh perempuan dan laki-laki yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan di ruang public. Kita pun patuh dan mengikutinya.

Jika saya melihat cara berpakaian manusia sekarang (telanjang atau hampir telanjang), buang air sembarangan, atau bercintaan di tempat umum, saya cenderung memandang mereka seperti makhluk yang tidak punya malu sehingga menjatuhkan martabat mereka hingga ke derajat binatang.

Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan sedikit sekali memperhatikan penampilan diri mereka di rumah sendiri. Padahal, Islam mengajarkan perempuan agar selalu tampil cantik bagi suaminya sehingga ia akan berusaha tampil menarik pula baginya. Tentu, dengan begitu muncul keanggunan dalam hubungan antara suami isitri di dalam Islam.

Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang ditawarkan sekularisme. [ditulis ulang oleh Kartika dari buku “Mereka Yang Kembali”, Zenan Asharfillah, penerbit Pustaka Zaman, Jakarta, 2003/Hidayatullah.com]
Franck Damai dalam Islam

Franck Damai dalam Islam

10.00 Add Comment
Ribery hanya diketahui berpindah agama setelah dia bermain untuk klub Galatasari di Turki. Usai pembukaan Piala Dunia 2006, nama Franch Ribery menjadi buah bibir. Bukan tentang kehebatannya menggiring atau menendang bola, bidang yang membesarkan namanya. namun tentang kebiasaannya menengadahkan tangan saat berdoa, khas Muslim. Saya berharap dia berpikir lurus dan kembali ke agamanya yang lama, tulis seorang penggemar fanatiknya di papan dialog situs Islamonline.net.

Ribery sendiri tidak menyangka tindakannya menadah tangan memohon kepada Tuhan, dinilai miring sebagian orang. Bagi pria berusia 23 tahun ini, kepercayaan barunya itu adalah hal pribadi dan bukan konsumsi publik. Itu sebabnya, dia selalu menolak wawancara yang menggiringnya pada pertanyaan mengapa dia berpindah agama. Bahkan ia pernah agak keras memperingatkan paparazzi untuk tidak mendesaknya dengan pertanyaan menyangkut hal yang paling pribadi itu.

Ribery memang seorang mualaf. Pria kelahiran 1 April 1983 ini menjadi Muslim setelah menyunting Wahiba Belhami, Muslimah asal Maroko yang telah mengahdiahinya seorang putri yang manis, Hizya, yang lahir 18 Juli tahun lalu. Ribery hanya diketahui berpindah agama setelah dia bermain untuk klub Galatasary di Turki selama setahun dan membantu klub itumemenangi Piala Turki pada 2005. Ia mempunyai nama hijrah Bilal.

Berita mengenai Ribery memeluk Islam pertama kali dibedah oleh Majalah Express awal tahun ini. Majalah inipun tidak menyebut namanya dan hanya menyatakan seorang pemain sepak bola kebangsaan Perancis. Si pemain, tulis majalah ini, sering dilihat pergi ke masjid, di selatan Marseille.

Di Prancis sendiri, jumlah Muslim memang terus membengkak. namun kebanyakan mereka menyembunyikan jati diri kemuslimannya karena kentalnya stereotip yang melekatkan Muslim dengan terorsime.

Sebetulnya, bukan Franck Ribery saja Muslim yang turut berlaga di Piala Dunia 2006 lalu. Selain para pemain Arab Saudi, Iran, dan Tunisia, rekan sepasukannya, Zinedine Zidane juga beragama Islam.

Swedia pula mempunyai dua pemain Muslim dalam timnya, yaitu Zlatan Ibrahimovic dan Rami Shaaban. Zlatan lahir dalam keluarga imigran Bosnia-Herzegovina yg berpindak ke Malmo, Swedia, dan Rami adalah campuran Mesir dan etnik Finland.

Belanda juga memiliki dua pemain beragama Islam, Robin van Persie dan Khalid Boulahrouz. Persie. Robin menjadi Muslim setelah menikahi wanita cketurunan belanda-Maroko, Bouchra.

Pantai Gading juga memiliki dua pemain kakak beradik yang beragama Islam, yaitu Kolo Toure dan Yaya Toure. Kolo bermain di posisi pertahanan dan Yaya di tengah. Yaya kini bermain untuk klub Greece, Olympiakos, dan prestasinya mencuri perhatian beberapa klub bergengsi, antara lain Manchester United, Chelsea, dan AC Milan.

Media Islam, antara lain Islamonline, menduga, kebiasaannya berdoa itulah yang dicibir publik. Padahal sebagai seorang Muslim, dia hanya tengah berdoa sebagaimana seharusnya, tulis mereka.

Kapten Zinedine Zidane atau Zainuddin Yazid Zidane juga seorang Muslim. Begitu juga bekas pelatih Prancis dan Jepang, Philippe Troussier, yang memeluk Islam setelah menikahi seorang Muslimah bernama Dominique. Namun mereka tidak menunjukkan keislamannya seperti Ribery menunjukkannya.

Namun bagi Muslim Prancis, Ribery menjadi ikon baru. Steve Bradore, aktivis Muslim Pransic, mengaku salut padanya. Menurut dia, sudah sepatutnya publik Prancis berbangga padanya. Dia adalah contoh yg membanggakan kami berdasarkan persembahan unik dan kesederhanaannya katanya kepada IslamOnline.net .

Ribery sendiri mau sedikit membuka muluttentang pilihan keyakinannya itu. Media lokal, Paris Match, menyebut bukan asal untuk menikahi pujaan hatinya dia berpindah agama. Kehidupannya turut berubah setelah dia menjadi penganut Islam. Salah satunya ditunjukkan dengan cara dia berdoa itu.

Islam adalah sumber kekuatan saya sama ada diluar atau di dalam padang permainan, katanya. Saya menghadapi masa-masa sulit dalam membina karier, dan saya mencari kedamaian jiwa dan akhirnya saya menemukan Islam. (tri/islamonline/Riol)
Pernikahan Mengarahkan Wanita Kepada Islam

Pernikahan Mengarahkan Wanita Kepada Islam

10.00 Add Comment
Sebagian wanita Jepang memeluk Islam karena pernikahan. Tapi umumnya, mereka tertarik kepada Islam karena menginginkan adanya kebebasan dan Islam memberi mereka kemerdekaan

“Aysha” Abid Choudry adalah nama yang dipilihnya sejak Harumi memutuskan untuk memeluk Islam 4 tahun silam. Ia memeluk Islam pada usia 26 tahun, ketika wanita Jepang ini menikah dengan seorang lelaki asal Pakistan.

Dua tahun kemudian, sama seperti wanita Jepang lain yang menikah dengan lelaki Muslim yang tinggal di Jepang. Sejak itulah Harumi mempelajari Islam. Dari apa yang sudah dia pelajari, Harumi mengetahui bahwa Islam artinya memiliki hubungan personal dengan Allah SWT. Dia beribadah menurut tata cara Islam untuk pertama kalinya. Suaminya sendiri tidak pernah memaksanya untuk buru-buru mengamalkan ajaran Islam namun setiap saat berdoa agar Harumi dibukakan pintu hatinya.

Islam memang sangat asing di Jepang, namun telah menarik perhatian banyak wanita muda Jepang. Diantara mereka banyak yang masuk Islam setelah menikah dengan para lelaki Muslim yang datang ke Jepang untuk bekerja. Mereka umumnya berasal dari Iran, Bangladesh, Pakistan dan Malaysia.

Hukum Islam memerintahkan barangsiapa yang bermaksud untuk menikah dengan orang Muslim maka dia harus masuk Islam dulu, kata R.Siddiqi, Direktur Islamic Center Jepang.

Sebuah pusat aktivitas Islam di Tokyo, Islamic Center di Setagay-ku tiap tahun menerima pendaftaran lebih dari 80 anggota baru, mayoritas wanita Jepang. Meskipun beberapa wanita Jepang masuk Islam tanpa jalur pernikahan, banyak juga wanita Jepang yang masuk Islam karena jalur pernikahan.

Islamic Center melaporkan, bahwa tiap tahun ada 40 pernikahan antara orang Muslim yang berasal dari luar Jepang dengan wanita Jepang.

“Wanita tertarik kepada Islam karena mereka menginginkan kebebasan. Islam memberi mereka kemerdekaan sebab mereka tidak akan menjadi budak lelaki manapun. Islam melawan agresi moral yang menyerang wanita. Kesucian dan kehormatan wanita dilindungi. Islam melarang hubungan haramm/gelap. Semua ini menarik perhatian para wanita Jepang,” kata Siddiqi.

Hukum Islam juga memberikan aturan bahwa lelaki boleh memiliki istri lebih dari satu. “Kami telah menjelaskan berulang kali bahwa menikah empat kali diizinkan hanya pada situasi darurat seperti impotensi, tidak bisa punya anak dll. Sebagai kesimpulan tidak ada pelacuran dalam Islam. Jika lelaki menginginkan wanita lain, maka nikahilah dia dan rawat anak-anaknya,” tambah Siddiqi. Hukum Islam juga memberikan aturan bahwa lelaki boleh memiliki istri lebih dari satu. “Kami telah menjelaskan berulang kali bahwa menikah empat kali diizinkan hanya pada situasi darurat seperti impotensi, tidak bisa punya anak dll. Sebagai kesimpulan tidak ada pelacuran dalam Islam. Jika lelaki menginginkan wanita lain, maka nikahilah dia dan rawat anak-anaknya,” tambah Siddiqi.

Jika ditanya mengapa wanita tidak boleh memiliki lebih dari satu suami, Siddiqi menjelaskan, “Karena si wanita tidak akan bisa memutuskan anak siapa yang dikandungnya. Hal ini akan membingungkannya.”

Sekarang ini perkembangan Islam di Jepang menunjukkan grafik yang terus naik seiring dengan makin globalnya dunia. Jepang terbuka untuk siapa saja, termasuk orang Muslim. [Kartika, diolah dari tulisan Lynne Y. Nakano berjudul “Marriages lead women into Islam in Japan”/Hidayatullah.com]


Muslim di Jepang Tantangan Bagi Perempuan Mualaf

''Suamiku terharu. Ia meneteskan air mata ketika melihatku melakukan shalat. Ia melihat kesungguhanku menjalankan agama yang baru aku anut.'' (Aysha Abid Choudry) Harumi, demikian namanya sebelum diganti menjadi Aysha. Memang, sebetulnya ia tidak perlu menggantikan namanya. Tapi baginya, tak ada kebahagiaan melebihi bahagianya mendapatkan hidayah, berada dalam naungan Islam.

Maka, ia dengan penuh suka cita pun menempelkan nama Aysha di depan namanya. Keislaman Harumi, pada awalnya memang karena pernikahan. Ia tertarik dengan pria Muslim asal Pakistan. Beberapa bulan menjelang pernikahan dilakukan, Harumi memeluk Islam. Agar ada satu keyakinan dalam bahtera rumahtangganya. Tahun 1987 menjadi titik balik hidupnya. Dari seorang yang tak beragama, ia menjadi seorang muslimah. Dan sejak awal memang telah bertekad untuk menjadi Muslimah sejati; belajar tentang Islam, menghindari makanan yang haram, dan mengenakan jilbab untuk menutupi auratnya.

Ia lakukan dengan sepenuh hatinya. Namun ada satu yang belum sepenuhnya dijalankan, ibadah shalat. Ia masih belum melakukan ibadah lima waktu itu, pun ketika pemuda Abid Choudry menyuntingnya. Sampai suatu saat datang pencerahan, dan ia menceritakannya seperti penggalan kalimat di atas. Kini, Harumi tak canggung lagi melaksanakan ibadah shalat di tempat kerjanya. Ia juga berjilbab. Lima tas pakaian lamanya telah dihibahkan kepada orang lain. ''Saya menjadi sosok yang berbeda sekarang,'' ujar sekretaris yang dulu gemar memakai rok mini ini. Ritual shalat dari Subuh hingga Isya, memberikan tantangn berat bagi wanita Jepang seperti Harumi. Ia harus mampu menyesuaikan dengan jadwal kerjanya dan mendapatkan tempat yang cocok untuk menjalan shalat. Seperti kata Harumi, mereka yang baru memeluk Islam juga harus melakukan perubahan dalam pola makannya.

Muslim yang selalu mengacu pada Alquran tak boleh mengonsumsi daging babi, minuman beralkohol, dan produk daging yang tak halal. Jus bisa saja mengandung alkohol meski dalam kadar rendah. Coklat, es krim, kue, dan makanan lainnya kemungkinan mengandung lemak hewan dan gelatin yang dibuat dari tulang hewan. Beruntung, kini telah bermunculan toko halal, kendati status halal produknya juga belum tentu terjamin. ''Pada awalnya kami tak mengetahui makanan mana saja yang boleh kami kondumsi. Kemudian kami mendaftarnya kemudian menyebarkan informasi tersebut ke saudara Muslim lainnya,'' ujar Harumi. Tantangan lainnya bagi wanita Jepang yang memeluk Islam adalah keluarganya. Seringkali, keluarga seperti 'membuang' anaknya yang menjadi Muslim.

Mereka pun dikucilkan dari pergaulan teman-temannya. Memeluk Islam memang membutuhkan perubahan yang mendasar dalam setiap aspek kehidupan mereka. Namun dari waktu ke waktu, jumlah mualaf di Jepang -- terutama kaum wanita -- semakin banyak. Selain karena pernikahan, mereka justru tertarik mempelajari Islam setelah Tragedi 11 September. Namun alasan utama wanita berpindah ke Islam umumnya karena pernikahan. Muslimah lainnya, Noureen, dosen keperawatan di sebuah universitas di Saitama, juga menjadi Muslim karena menikah. Namun sebelum berislam ia telah mencoba beberapa kepercayaan lain. Kemudian ia bertemu pria Pakistan dan menikah dengannya. Sebelum acara pernikahan, ia telah menganut Islam. Noureen pun menjalankan Islam dengan tekun. Baik dalam makanan maupun berhijab.

Di sisi lain, lingkungan di mana ia bekerja juga memberikan pengaruh. Ada intervensi dari mereka ketika ia menjalankan Islam. Maka suaminya menyarankan agar dirinya mencari alternatif pekerjaan lainnya. ''Ia menyatakan keyakinan (Islam) adalah hal yang utama dalam hidup, dan pekerjaan adalah masalah berikutnya,'' ujarnya. Kisah Monica Suzuki lain lagi. Dengan penuh perasaan ia menyatakan bahwa dirinya dipandu oleh hati dan emosinya ke dalam Islam. Sejak kecil ia telah akrab dengan ritus Budha. Umumnya keluarga di Jepang yang menganut Budhisme. Namun interaksinya dengan ajaran tersebut tak begitu kental. Dan telah lama telah banyak pertanyaan yang belum terjawab. Tentang alam dan isinya, eksistensi dan putaran hidup manusia.

Hingga ia menamatkan sekolahnya dan bekerja sebagai staf penerbangan, ia terus merasakan kekosongan jiwa. Tahun 1988 ia mencoba peruntungan dengan bekerja sebagai penerjamah bagi delegasi Jepang untuk agen wisata di Mesir selama setahun. Melalui kolega barunya, ia mulai mengenal Islam. Sekembalinya ke Jepang, minat belajar Islam semakin menggebu. Dengan mempelajari Islam, ada satu sisi dalam jiwanya yang merasa terisi. Sayangnya, informasi tentang Islam baik dari sekolah maupun televisi sangat terbatas. Dan sering mengalami distorsi. Saat kembali ke Jepang, ia kemudian mendatangi Islamic Center di Tokyo dan mendapatkan terjemahan Alquran dalam bahasa Jepang. Ia juga selalu ketagihan untuk berkunjung ke Islamic Center. Di tempat ini, ia belajar Islam pada ulama yang juga mualaf. Hingga suatu saat, ia merasa yakin dengan Islam setelah mempelajari mengenai posisi wanita dalam agama yang rahmatan lil alamin (rahmat bagi seluruh alam) ini.

''Dalam Islam, muslimah dilindungi dan dihormati,'' ujarnya. Hijab lebih dipandangnya sebagai pelindung kehormatan wanita, ketimbang simbol fundamentalisme agama seperti yang digembar-gemborkan banyak kalangan. Tahun 1991, ia kembali melakukan perjalanan ke Mesir. Namun kali ini bukan untuk menjadi duta kantornya. Ia bersyahadat di Universitas Al-Azhar untuk mengikrarkan keislamannya. Di kota ini ia mendapatkan pekerjaan baru dan menikah dengan Muslim Mesir. Kini Minica tinggal di Tokyo, membesarkan putri semata wayangnya, Maryam. Lain pula kisah milik Sunaku. Ia menyatakan semakin ia membaca tentang Islam semakin meningkat pula rasa percaya dan pemahamannya terhadap Islam. Ia mengungkapakan sejak kecil tak merasa bahagia. Dan merasa kewalahan dengan perasaan bersalah. Hingga dirinya sekolah di Inggris untuk belajar bahasa. Saat musim liburan tiba, ia diajak oleh temannya ke Jordan. Dan tinggal bersama keluarga Muslim.

Ia melihat bahwa keluarga ini begitu sederhana dan juga terorganisasi. Rumahnya begitu bersih. Mereka memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Suami mencari nafkah demi keluarga. Istrinya juga melakukan tugas rumahnya dengan perasaan gembira. Ia merasa bahwa kebahagiaan seperti itulah yang hilang selama ini. Dan menyadari bahwa citranya terhadap Islam sangat salah selama ini. Ia hanya mendengarnya dari televisi. Ia menilai Muslimah adalah korban dari ketidakadilan gender. Yang dilakukan suami, tentunya. Setelah kepergiannya ke Jordan ia mulai tertarik mempelajari Islam. Ia pun bertandang ke Islamic Center Tokyo. Di bawah bimbingan ulama asal Jepang dan Pakistan, ia belajar Islam. Direktur Islamic Center Tokyo, R Siddiqi mengakui banyaknya wanita muda berpindah agama memeluk Islam. Biasanya adalah mereka yang menikah dengan seorang pria Muslim yang merantau ke Jepang, baik untuk bekerja atau sekolah.

Mereka datang dari negara-negara yang mempunyai tradisi Islam seperti Iran, Bangladesh, Pakistan dan Malaysia. ''Mereka yang akan menikahi Muslim semestinya pula memeluk Islam. Dengan demikian mereka berada dalam satu keyakinan,'' ujarnya. Ia menyatakan tidak semua wanita Jepang memeluk Islam karena alasan menikah, namun sebagian besar karena alasan pernikahan. Banyak juga yang terbuka matanya setelah mempelajari Islam. ''Islam menghendaki wanita menjadi manusia merdeka. Islam memberikan kebebasan kepada wanita dan tak harus menjadi budak kaum pria. Kehormatan wanita itu terpelihara,'' tambah Siddiqi. Namun, banyak pula orang Jepang yang bertanya mengenai Islam yang mengizinkan seorang pria boleh menikah dengan wanita lebih dari satu. Biasanya, yang dilakukan pihaknya adalah menceritakan alasan mengapa hal itu diperbolehkan.

''Menikah hingga empat kali diizinkan jika dalam keadaan yang tak terhindarkan. Misalnya si wanita mengalami impotensi atau tidak subur,'' ujarnya menyebut jawaban yang dilontarkannya bila menghadapi pertanyaan semacam itu. Dengan hukum semacam ini, katanya, tak ada prostitusi dalam Islam. Jika seorang laki-laki membutuhkan wanita lain, maka nikahilah. Dan lindungi pula anak-anak mereka. Menurut Siddiqi, hukum di Jepang juga menggunakan dasar logika yang sama dengan hukum Islam dalam soal perkawinan. Misalnya, adanya larangan wanita menikah kembali selama enam bulan setelah perceraiannya. Mungkin karena itu pula, mereka tertarik belajar islam. (fer/islamonline )
Christian Science Monitor: Mereka Memilih Menjadi Mualaf Karena Merasa Damai dengan Islam

Christian Science Monitor: Mereka Memilih Menjadi Mualaf Karena Merasa Damai dengan Islam

09.57 Add Comment
Populasi warga Muslim di Eropa cenderung meningkat dengan makin banyaknya warga Eropa yang beralih memeluk agama Islam. Christian Science Monitor (CSM) seperti dikutip Islamonline menyebutkan, meskipun tidak diketahui berapa jumlah pastinya, para pengamat yang mengamati komunitas warga Muslim di Eropa memperkirakan ada ribuan wanita dan laki-laki Eropa yang masuk Islam setiap tahunnya.

Para peneliti baik Muslim dan Non Muslim mengungkapkan, ajaran-ajaran agama Islam telah menarik minat banyak warga Eropa yang 'mencari kedamaian dalam hatinya dan bereaksi atas ketidakpastian moral di kalangan masyarakat Barat.'

Mary Fallot yang masuk Islam tiga tahun yang lalu mengatakan, "Buat saya, Islam adalah pesan cinta, toleransi dan perdamaian."

Meski demikian, para peneliti pada CSM mengakui ada mualaf yang tertarik dengan aliran Islam yang radikal, tapi jumlahnya tidak banyak. Beberapa diantaranya dihukum karena dituding melakukan aksi teroris seperti Richard Reid yang dikenal sebagai 'pelaku bom sepatu' dan John Walker Lindh, warga AS yang ditangkap di Afghanistan.

Kepala intelejen dalam negeri Perancis, Pascal Mailhos dalam wawancara dengan harian yang terbit di Paris, Le Monde sempat mengungkapkan kekhawatirannya atas fenomena itu. Namun ia menyatakan,"Kita harus menghindari untuk menyamaratakan setiap orang."


Lebih Banyak Mualaf Perempuan

Lebih lanjut CSM mengungkapkan, para pakar mengakui hasil penelitian bahwa jumlah mualaf di Eropa lebih banyak dari kaum perempuan ketimbang laki-laki. Meski demikian ada yang berpendapat bahwa hal itu terjadi akibat perkawinan dengan laki-laki Muslim.

"Hal semacam itu sudah biasa, tapi belakangan ini makin banyak kaum perempuan yang memiliki pendirian sendiri," ujar Haifa Jawad, dosen di Universitas Birmingham, Inggris. Menurutnya, banyak juga laki-laki yang masuk Islam karena menikah dengan seorang Muslimah.

Ditanya soal apakah kehidupan cintanya berkaitan dengan keputusannya memeluk Islam, Fallot yang sejak kecil beragama Katolik hanya tertawa. "Ketika saya bilang pada kolega saya di kantor bahwa saya sudah masuk Islam, reaksi pertama mereka adalah menannyakan pada saya apakah saya punya pacar orang Islam," kisah Fallot.

"Mereka tidak percaya kalau saya melakukannya atas keinginan saya sendiri," tambah Fallot. Ia menyatakan, ketertarikannya pada Islam karena Islam memerintahkan umatnya untuk selalu dekat dengan Tuhan.

Alasan-alasan seperti itulah yang menurut para ahli, menjadi fenomena bagi makin banyaknya wanita Eropa yang memilih masuk Islam. "Banyak kaum perempuan yang bereaksi atas ketidakpastian moral yang berlaku di kalangan masyarakat Barat. Mereka menyukai rasa memiliki, kepedulian dan kebersamaan yang diajarkan dalam Islam," kata Dr. Jawad.

Yang lainnya, menyukai Islam karena ide-idenya tentang masalah-masalah kewanitaan maupun kaum laki-laki yang diatur dalam"Islam memberikan penghormatan pada keluarga dan kaum perempuan, perempuan bukanlah objek seks," kata Karin van Nieuwkerk,pakar yang mempelajari tentang mualaf dari kalangan perempuan.

Sarah Joseph, mualaf sekaligus pendiri majalah gaya hidup Muslim "Emel" mengatakan, para mualaf di kalangan kaum perempuan mencari sebuah gaya hidup yang indah, jauh dari ekses-ekses feminisme Barat yang kadang tidak akurat.

Sementara itu, Profesor Stefano Allievi dari Universitas Padua Italia mengungkapkan, beberapa mualaf mengemukakan alasan politik atas keputusan mereka memeluk Islam. "Islam menawarkan semangat spiritual dalam berpolitik, menawarkan ide sebuah tatanan yang suci. Alasan ini lebih cenderung diungkapkan laki-laki dan hanya sedikit mualaf perempuan yang mengungkapkan alasan seperti ini," papar Allievi.


Masa-Masa Sensitif

Diluar alasan itu semua, CSM dalam laporannya menuliskan, para mualaf mulai menjalani kehidupannya sebagai Muslim dan Muslimah baru pelan-pelan, mengadopsi kebiasaan Islam sedikit demi sedikit. Fallot misalnya, meskipun sekarang ia sudah mengenakan pakaian yang panjang dan longgar, tapi ia belum siap mengenakan jilbab.

Batool al-Toma yang mengelola program "New Muslim" di Yayasan Islam Leicester, Inggris mengungkapkan, tahap-tahap awal seseorang yang baru masuk Islam adalah tahap yang sensitif.

"Anda tidak percaya diri dengan pengetahuan anda, anda seorang pendatang baru dan bisa saja menjadi mangsa dari berbagai orang baik secara individu maupun organisasi. Pada saat yang sama, orang yang baru masuk Islam harus meninggalkan kebiasaan hidupnya yang lama," kata Al-Toma.

"Mereka yang mencari jalan yang ekstrim untuk membuktikan keIslaman dirinya bisa menjadi mangsa empuk dan akan mudah dimanipulasi," tambah Dr. Ranstop. Ia mencontohkan Muriel Degauque, seorang mualaf asal Belgia yang melakukan bom syahid dengan menyerang pasukan AS di Irak.

Meski jumlah mualaf di kawasan Eropa makin meningkat, namun masih banyak negara-negara Eropa yang bersikap diskriminatif dan membuat aturan ketat terhadap warga Muslim. Baru-baru ini, Organization for Security and Cooperation in Europe (OSCE) menyampaikan keprihatinannya akan makin meningkatnya sikap tidak toleransi pemerintah Belanda terhadap warga Muslim sehingga menimbulkan 'iklim ketakutan' di kalangan warga minoritas.

Laporan yang baru-baru ini dikeluarkan oleh Helsinki Federation for Human Right (IHF) juga menyatakan bahwa Muslim minoritas di seluruh Eropa telah mengalami diskriminasi, dicurigai sikap permusuhan yang makin meningkat. (ln/iol/Eramuslim)
Natalie Sarah : Penuh Cobaan Menjadi Mualaf

Natalie Sarah : Penuh Cobaan Menjadi Mualaf

09.54 Add Comment
Simak Proses Keislamannya : Bagaimana Allah SWT telah memberikan Hidayah memperoleh ‘Keteduhan Islam’
Keinginannya untuk memeluk Islam dating dari hati yang paling dalam. Cobaan demi cobaan dating silih berganti, yang terberat dirasakan ketika harus berhadapan dengan opung (nenek) dan mengakui Islam pilihannya. Atas pertolongan Allah semua dapat dilalui dengan baik, termasuk ketika ia menjalani ibadah umroh untuk pertama kali.

“Aku menjadi mualaf ketika masih sekolah, terus terang aku masih ragu, apakah aku siap dengan segala resikonya. Terutama berbicara dengan mama mengenai status agamaku. Ada perasaan takut diusir oleh keluarga, mengingat mereka adalah Protestan yang taat banget," tutur Sarah yang pernah bermain dalam sinetron Cintaku Di rumah Susun.

Terlahir sebagai anak pertama dari enam bersaudara, memang dirasakan berat oleh Sarah. Selain harus menjadi teladan bagi adik-adiknya, ia pun menjadi tempat curhat dari setiap persoalan Nurmiaty, sang mama.

Tidak mengherankan jika Sarah lebih dewasa dibandingkan dengan anak seusianya. Terbukti Sarah yang menghabiskan masa remajanya di kota Bandung, yang kita ketahui anak mudanya senang dengan pesta dan dunia malam, malah mendapatkan hidayah di kota Kembang tersebut.

Perkenalan Sarah dengan Islam terjadi karena teman-teman sering mengajaknya ke Daarul Tauhid. Menurut Sarah, dalam menyampaikan syiar A'a Gym tidak pernah menyinggung agama manapun, dia lebih sering menyoroti perilaku kehidupan manusia. Itulah yang membuat Sarah tertarik, dirinya bahkan sempat menangis mendengar isi ceramah yang disampaikan. "Lama-lama aku sering ikut ke Daarul Tauhid dan bertukar pikiran dengan teman-teman. Bulan Juni 2001 dibimbing oleh Ust Aldo di Bandung, aku mengucapkan dua kalimat syahadat. Selama duatahun aku masih belum berani terang-terangan menjalani ibadah yang diwajibkan dalam Islam," kenang Sarah yang masih memiliki garis keturunan Aceh dan Batak ini.

Setelah lulus dari SMKK tahun 2001, Sarah balik Ke Jakarta, Ia sempat goyang dengan keyakinannya yang baru, karena tidak punya teman untuk berdiskusi. Hari Minggu jika disuruh ke gereja Sarah selalu kabur, setiap Natal pun ia tidak pernah ada di rumah. Keluarga mulai curiga dengan kelakuan Sarah. Mama adalah orang pertama yang tahu bahwa Sarah telah memeluk Islam. "Untungnya dia demokratis, aku harus yakin dengan pilihanku, jangan pindah-pindah agama," kata Sarah meniru nasihat mamanya.

Kabar Sarah telah masuk Islam sempat terdengar oleh Opung dan bibi, namun mereka tidak yakin apakah itu benar. "Aku dijauhi oleh keluarga, selama puasa aku jarang ada di rumah, lebaran pun dirayakan sendiri. Aku belajar sholat sampai bisa, itupun aku pelajari dari buku yang dibeli di pasar. Bacaan-bacaan ketika sholat aku tempel di tembok, kalau ruku' doanya ada di sajadah. Setelah sholat aku sering nangis, mungkin Allah melihat kesungguhanku. Mukena yang aku pakai, dibeli dari hasil kerja menjadi figuran sinetron. Karena setelah lulus sekolah aku tidak pernah minta uang I sama mama," ujar gadis yang suka mendesain baju ini.

Kemudahan Berbicara

Tahun 2004, Sarah mengaku sudah lancar sholat bahkan ia mulai melakukan sholat-sholat sunat, dan dirinya yakin bahwa Islam adalah agama yang mudah serta fleksibel. Di tahun yang sama Sarah bernazar, jika tabungan yang dimiliki terisi karena rejeki yang Allah berikan maka ia akan berangkat umroh, ternyata Allah mendengar doanya. Semua keluarga kaget mendengar keinginan Sarah, opung pun yang selama ini paling ditakuti langsung turun tangan. Dalam situasi yang agak tegang, Sarah memohon kepada Allah kemudahan berbicara. "Di depan opung dan keluarga, aku ngaku telah memeluk Islam dan sampai mati tetap Islam. Seandainya aku mati nanti, aku ingin dikubur secara Islam. Jika keluarga tidak bisa menguburkan, kasih saja jasadku kepada teman-teman, biar mereka yang mengurusnya. Dengan berangkat umroh semoga keyakinan aku kepada Islam bertambah kuat. Akhirnya semua terdiam, karena opung sudah nyerah dengan keputusanku," tutur Sarah dengan mata berkaca-kaca. Karena begitu beratnya cobaan yang diterima Sarah selama ini, ketika di tanah suci ia tidak mengalami kejadian yang aneh-aneh, malah dirinya mendapatkan banyak kemudahan dalam melaksanakan setiap ibadah di sana. "Setiap hari aku selalu berdoa untuk mama dan adik-adikku agar diberi hidayah oleh Allah, aku ingin mereka masuk Islam tanpa paksaan," kata Sarah yang telah menjadi jamaah pengajian Syamsul Rizal bersama Ineke Koesherawati.


Kurang pede

Sarah yang telah bermain disepuluh sinetron sebenarnya bercita-cita menjadi desainer. Honor yang diterima selama ini mulai diputar untuk modal usaha, seperti membeli mesin jahit dan mesin obras. Ilmu yang didapatkan selama di bangku sekolah tidak terbuang percuma. "Mama sangat senang dengan ideku membuka usaha baju muslim, berarti aku tidak menghambur-hamburkan uang," katanya yang baru dua bulan menjalankan usaha ini di rumah.

Menurut Sarah, pesanan baju buatannya telah datang dari Ineke dan istri ust. Jefry Buchory, namun ia masih kurang pede membuatnya, takut salah selera. Kebanyakan baju yang diproduksi Sarah modelnya casual, seperti yang dipakai ketika menjadi bintang tamu di beberapa stasiun televisi selama bulan ramadhan kemarin.

Sekitar dua puluh model baju telah dibuat Sarah, harganya pun tidak terlalu mahal. Mulai dari motif dan bahan Sarah yang mencari sendiri. Untuk satu baju ia hanya membutuhkan waktu satu hari. Bahkan Sarah pernah membuat baju yang akan dipakai adiknya pada lomba tujuh belasan hanya dalam waktu satu malam. Mengenai merek baju, Sarah belum menemukan nama yang pas. Ia tidak ingin mencantumkan nama sendiri pada setiap baju yang dibuatnya. (amanah)


Proses Keislaman Natalie Sarah

AWALNYA sekadar ingin menyenangi hati teman-temannya yang mengajaknya ikut hadir dalam pengajian dan mendengar ceramah Abdullah Gymnastiar alias Aa Gym di Pesantren Daarut Tauhid, Bandung, Jawa Barat.

Akhirnya, pertengahan tahun 2001 Natalie Sarah tertarik untuk memeluk agama Islam. "Saya masuk Islam karena faktor keluarga, diajak temen hadir dalam pengajian Daarut Tauhid, dengar ceramah Aa Gym, sampai akhirnya mungkin mendapat hidayah untuk memeluk Islam," jelas Sarah.

Ketika pertama kali memeluk Islam, Sarah menganggap agama ini sangat berat. Ini dikarenakan dia merasa kaget saat mengetahui surat-surat yang ada di Alquran harus dihafalnya dalam bahasa Arab bukan Indonesia.

Berkat kemauan dan bantuan dari teman-temannya, Sarah akhirnya bisa menghafal. "Kalau hati kita ikhlas, belajarnya gampang," ungkapnya.

Namun, menjadi seorang muslimat tak semudah membalikkan telapak tangan. Sarah sempat terjerumus dalam kehidupan malam ketika baru terjun ke dunia hiburan. Tahun 2004, wanita kelahiran 1 Desember 1983 ini kembali memperdalam agama Islam. "Aku senang kalau bisa baca Alquran," tutur Sarah yang telah bisa membaca Alquran mesti belum lancar.

Saat ini, wanita berhidung bangir ini berharap bisa membaca Alquran hingga khatam. Tidak hanya itu, jika memiliki rezeki, Sarah ingin menunaikan ibadah haji. "Tapi sebelum naik haji, aku ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi mama dan adik-adikku, tutur Sarah.


Mualaf Ngumpet-Ngumpet

Tahun ini, Sarah mengaku pengalaman kerohaniannya makin dalam. "Alhamdulillah, meski soal ilmu agama aku belum punya banyak, tetapi dalam hal keimanan, aku merasakan kemajuan yang sangat besar," ujar Sarah yang kini rajin mengikuti pengajian.

"Sekarang, aku aktif ikut pengajian setiap Kamis malam. Selain itu aku juga selalu ikut I Like Monday di tempat Ustaz Jeffry, tiap Senin malam," ujar Sarah yang pertama kali mengenal Islam, saat bersekolah di Bandung.

"Pertama kali, karena diajak teman ikut ke pengajian Daarut Tauhid. Kata temanku itu, 'Sar, kamu dengarin ceramah ustaz Aa Gym, deh. Dia itu pasti bisa menenangkan hati kamu yang kayak sekarang.'"

Saat itu, Sarah memang sedang dalam keadaan labil dan bingung. "Keluargaku sedang dilanda banyak sekali masalah. Kacau sekali, buntutnya bikin kami broken home." Mengikuti saran sang teman, Sarah yang kala itu masih duduk di bangku SMKK pun pergi mendengarkan ceramah Aa Gym. "Saat itu hati ini rasanya tersentuh banget. Ceramah Aa bagus sekali."

Tiga kali Sarah mengikuti sang teman ke pengajian. "Yang ke -4, malah aku yang merengek-rengek mengajak mereka." Yang unik, "Aku selalu datang setelah salat Isya. Soalnya aku takut ketahuan belum bisa salat," cerita Sarah yang kala itu harus pinjam kerudung sana-sini setiap mau ke pengajian. "Sejak itu, aku merasa sreg dengan agama Islam."

Sempat timbul kekhawatiran di hati Sarah. "Aku mikir, kalau aku masuk Islam, pasti nanti keluarga dan teman akan menjauhi." Tapi, "Makin hari keinginan itu rasanya makin mantap. Jadi aku berusaha menguatkan diri dan memilih menjalani apa yang aku rasakan di hati ini," cerita Sarah yang resmi memeluk Islam sejak Juli 2001.


Rajin Istikharah

Kini, 5 tahun menjadi mualaf, Sarah berharap dirinya bisa menjadi muslimah yang baik. "Aku ingin membenahi hati ini, jadi orang yang lebih baik," ujar Sarah yang setahun belakangan serius belajar baca Al-Quran.

Di bulan Ramadan ini, Sarah bertekad memantapkan pelajaran mengajinya. "Sebisanya aku ingin setiap hari mengaji. Lumayan repot juga sih, mengatur waktu. Soalnya aku juga harus syuting sinetron religi dan jadi presenter acara Ramadan, Jamaah Syamsu Rizal yang tayang di TVRI," kisah Sarah yang 4 hari pertama puasa kali ini, selalu berbuka puasa di lokasi syuting.

Setiap waktu berbuka, cerita Sarah, "Seluruh pemain dan kru diharuskan makan makanan kecil. Setelah itu kami salat berjamaah, baru kemudian makan bersama. Habis itu, enggak langsung syuting, lo. Pak sutradara malah mengajak kami Tarawih bersama. Benar-benar ini syuting ternikmat yang pernah aku rasakan. "

Untuk sahur? "Aku selalu makan lengkap, nasi dengan lauk pauk. Setiap hari, Mama selalu masakin aku menu yang enak-enak dan bergizi. Maksudnya supaya staminaku tetap oke, dan pekerjaan lancar meski puasa," cerita Sarah yang juga bergantung pada sang ibu soal urusan bangun subuh untuk makan sahur. "Wah, di rumah, yang bisa bangun subuh kan, cuma Mama seorang," cerita Sarah yang juga sering ditemani adik-adiknya kala makan sahur ini. "Kadang mereka suka ikut-ikutan sahur juga."

Satu yang mengganggu benak Sarah, "Membayangkan Lebaran sendirian. Sudah 4 Lebaran ini aku sendirian.

Sedih aja." Untunglah 2 tahun belakangan ini Sarah sudah punya tambatan hati yang bisa menghibur kesedihannya, Abdullah Rizal. Dengan pengusaha muda yang memiliki darah Arab ini Sarah memang sudah menjalin hubungan nyaris 2 tahun lamanya. "Kami pacaran sejak Januari 2004."

Diakui Sarah, hubungannya dengan Rizal memang serius. Kapan akan dilanjutkan ke jenjang pernikahan?

"Wah, kalalu aku sih, sudah ingin sekali menikah, karena nikah itu kan, ibadah. Rizal juga begitu. Pemikiran ke sana sudah ada. Keluarganya juga sudah sering bilang sama aku. Mamaku sendiri juga sudah memberi dukungan untuk aku menikah."

Lalu, tunggu apa lagi, Sar? "Kami ingin lebih siap lagi secara materi. Bukannya aku merasa kurang dengan apa yang sudah kumiliki saat ini. Bukan. Hanya saja, saat ini aku merasa masih punya banyak pe-er. Masih ada 3 adikku yang harus aku biayai sekolahnya," ujar gadis yang menjadi tulang punggung keluarga sejak sang ayah pergi meninggalkan keluarga mereka ini. Jadi? "Doakan saja ya, semoga aku enggak harus menunggu lama lagi untuk menikah," bisik Sarah yang diam-diam kini sering melakukan salat istikharah ini. (tabloidnova)
Fenomena Trend Masuk Islam di Kalangan Pemuda Perancis

Fenomena Trend Masuk Islam di Kalangan Pemuda Perancis

09.53 Add Comment
Islam menjadi trend baru dan fenomenal di kalangan pemuda sejumlah kota kecil di Perancis. Para pemuda yang baru masuk Islam tampak semakin bangga dan menunjukkan afiliasinya pada Islam, sekaligus mendorong mereka untuk mewujudkan persamaan dan memerangi tekanan sosial yang mereka alami. Meskipun, belum semua kalangan yang baru masuk Islam itu mendirikan ibadah wajib, tapi semangat mereka menunjukkan diri sebagai Muslim, tetap penting disyukuri.

Secara khusus, fenomena menyenangkan itu terjadi di kalangan masyarakat Prancis asal Afrika, Portugal, Spanyol dan Italia yang tinggal di lokasi mayoritas Muslim, sebelah utara Paris khususnya wilayah 93, yang sebelumnya diguncang demonstrasi besar dari warga imigran.

Steve Brodwer, salah seorang mualaf baru sekaligus ketua Organisasi Syahadat yang khusus menangani para mualaf mengatakan, “Arus masuk Islam menjadi fenomena yang makin meluas dan terkadang begitu mencolok tergantung dengan berbagai sebab. Tapi saya yakin bahwa nilai-nilai yang diserukan Islam itu menjadi motif pertama kebanyakan para pemeluk Islam baru di sini.”

Kepada Islamonline, ia menambahkan, “Mereka memandang Islam sebagai agama yang menolak sekte sosial. Ini merupakan simbol revolusi menghadapi sistem sosial yang zalim terhadap kebanyakan kaum Muslim baru yang menolak rasisme, sektarianisme, yang mereka rasakan di sejumlah kota di Perancis.”

Meski anggota organisasi Syahadat yang dipimpin Brodwer, sering merasakan mereka sebenarnya juga belum disiplin melakukan ibadah wajib harian agama Islam seperti yang diinginkan, tapi mereka sangat respek dengan nilai-nilai Islam.

Nicola,22, mengatakan, “Fenomena Islam saat ini sudah terlihat di masyarakat kami. Sejumlah teman saya memeluk Islam meski tidak begitu disiplin dengan ibadah hariannya. Tapi karena Islam telah menjadi tanda perlawanan terhadap sektarianisme dan kezaliman di dunia, mereka menjadi pemeluk Islam.”

Kaitan kondisi sosial dengan bertambahnya pemeluk Islam juga diakui oleh Ghofra, yang juga baru memeluk Islam. “Arus baru memeluk Islam memang sangat terkait dengan latar belakang sosial yang dipandang oleh kaum Muslim baru bahwa Islam memperjuangkan jalan keluar dari kondisi isolasi sosial yang banyak terjadi,” katanya.

Simbol-simbol Islam juga banyak digunakan oleh kalangan pemuda Perancis. Di antara mereka kini sudah kerap terdengar penggunaan kata “Insya Allah”, “Ya Akhi...” dan semacamnya. Sampai musik Perancis beraliran Rap juga memunculkan nama Hamas Palestina sebagai simbol perlawanan terhadap Israel. Dalam sejumlah lagunya, mereka menyebut nama Usamah bin Ladin, sebagai simbol melawan hegemoni Amerika, tanpa mengaitkannya dengan pemikiran Usamah.

Seorang pemuda berkata pada koresponden Islamonline, “Saya bukan Muslim, dan saya juga belum tahu apakah saya akan menjadi Muslim di waktu mendatang. Tapi saya kagum dengan sikap yang dilakukan oleh sejumlah kaum muslimin yang tegas menentang hegemoni Amerika terhadap dunia.”

Dalam sebuah penelitian, terdapat 17% pemeluk Islam Baru di Perancis yang berusia muda, antara usia 18-35 tahun. Muslim Perancis, menurut sensus terakhir berjumlah 5 jutaan orang dari total penduduk Perancis yang jumlahnya 60 juta jiwa. (na-str/iol/eramuslim)