Rahmat Purnomo mantan pendeta : Ujung Pencarian memperoleh Rahmat Islam

Rahmat Purnomo mantan pendeta : Ujung Pencarian memperoleh Rahmat Islam

02.19 Add Comment
Ia adalah seorang laki-laki keturunan, sang ayah Holandia dan ibu Indonesia dari Kota Ambon yang terletak di pulau kecil di ujung timur kepulauan Indonesia. Kristen adalah agama yang diwariskan keluarganya dari bapak dan kakeknya. Kakeknya adalah seorang yang punya kedudukan tinggi pada agama kristen yang bermadzhab protestan, bapaknya juga demikian, namun ia bermadzhab Pantikosta. Sedangkan ibunya sebagai pengajar injil untuk kaum wanita, adapun dia sendiri juga punya kedudukan dan sebagai ketua bidang dakwah di sebuah Gereja Bethel Injil Sabino.

Tidak terbetik dalam hatiku walau sedikit pun untuk menjadi seorang muslim, sebab sejak kecil aku mendapatkan pelajaran dari orang tuaku yang selalu mengatakan padaku bahwa Muhammad adalah seorang laki-laki badui, tidak punya ilmu, tak dapat membaca dan menulis.

Bahkan lebih dari itu, aku telah membaca buku Profesor Doktor Ricolady, seorang nasrani dari Prancis bahwa Muhammad itu seorang dajjal yang tinggal di tempat kesembilan dari neraka. Demikianlah kedustaan itu dibuat untuk menjatuhkan pribadi Rasul shallallahu ‘alaihi wa sallam, sejak itulah tertanam pada diriku pemikiran salah yang mendorongku untuk menolak Islam dan menjadikannya sebagai agama.

Pada suatu hari pimpinan gereja mengutusku untuk berdakwah selama tiga hari tiga malam di Kecamatan Dairi, letaknya cukup jauh dari ibu kota Medan yang terletak di sebelah selatan pulau Sumatra Indonesia. Setelah selesai, aku hendak menemui penanggung jawab gereja di tempat itu. Tiba-tiba seorang laki-laki muncul di hadapanku, lalu bertanya dengan pertanyaan aneh, “Engkau telah mengatakan bahwa Isa Al-Masih adalah tuhan, mana dalilmu tentang ketuhanannya?” Aku menjawab, “Baik ada dalil ataupun tidak, perkara ini tidak penting bagimu, jika kamu mau beriman berimanlah, jika tidak kufurlah.”

Namun, ketika aku pulang ke rumah, suara laki-laki itu mengganggu pikiranku dan selalu terngiang-ngiang di telingaku, mendorongku untuk melihat Kitab Injil mencari jawaban yang benar dari pertanyaannya. Telah diketahui bahwa di sana ada empat kitab Injil yang berbeda-beda, salah satunya MATHIUS, yang lainnya MARKUS, yang ketiga LUKAS, dan yang keempat YOHANNES, semuanya buatan manusia. Ini aneh sekali, aku bertanya-tanya pada diriku, “Apakah Al Qur’an dengan nuskhoh yang berbeda-beda juga buatan manusia?” Aku mendapatkan jawaban yang tak bisa lari darinya yakni dengan pasti, “Bukan!”

Aku mempelajari keempat Injil tersebut, lalu apa yang kudapatkan? Injil MATHIUS berbicara apa tentang Al-Masih Isa ‘alaihis salam? Kami membaca di dalamnya sebagai berikut, “Sesungguhnya Isa Al-Masih bernasab kepada Ibrohim dan kepada Daud…” (1-1), lalu kalau begitu siapa Isa? Bukankah ia anak manusia? Ya, kalau begitu dia manusia. Injil LUKAS berkata, “Dialah yang merajai atas rumah Ya’kub untuk selama-lamanya. Kerajaannya tidak akan berakhir.” (1-33). Dan Injil MARKUS berkata, “Inilah silsilah yang menasabkan Isa Al Masih anak Allah.” (1). Dan yang terakhir injil YOHANNES berbicara apa tentang Isa Al Masih? Ia berkata, “Pada awalnya ia adalah kalimat, dan kalimat itu di sisi Allah, maka kalimat itu adalah Allah.” (1:1). Makna dari nash ini dia pada awalnya adalah Al-Masih dan Al-Masih di sisi Allah, maka Al-Masih adalah Allah.

Aku bertanya pada diriku, “Berarti di sana ada perbedaan yang jelas pada empat kitab ini seputar dzat Isa ‘alaihis salam, apakah ia manusia ataukah anak Allah ataukah Raja ataukah Allah? Hal itu telah menyulitkanku dan aku belum menemukan jawabannya. Di sini aku ingin bertanya kepada teman-temanku orang-orang kristen, “Apakah didapatkan dalam Al-Qur’an pertentangan antara satu ayat dengan yang lainnya?” Pasti tidak! Kenapa? Karena Al-Qur’an datang dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, adapun Injil-injil ini hanyalah buatan manusia. Kalian tahu dan tidak ragu kalau Isa ‘alaihis salam sepanjang hidupnya berdakwah kepada Allah di sana-sini, kita patut bertanya: apa landasan awal yang dida’wahkan oleh Isa ‘alaihis salam?

Ini Injil MARKUS berkata, “Seseorang datang dari Al Katbah, ia mendengar mereka berbincang-bincang, ketika terlihat bahwa ia adalah (Al-Masih) mereka menerimanya dengan baik, menanyainya tentang ayat wasiat pertama? Ia menjawab sambil berjalan: Sesungguhnya wasiat yang pertama ialah ‘Dengarkan wahai Bani Israil! Rabb Tuhan kita adalah Rabb yang Esa.’” (12: 28-29). Inilah pengakuan yang jelas dari Isa ‘alaihis salam, jadi kalau Isa telah mengaku bahwa Allah adalah Tuhan yang Esa/Satu, maka siapakah Isa kalau begitu? Jika Isa adalah Allah juga, maka takkan pernah ada keesaan bagi Allah. Bukankah begitu?

Kemudian, aku lanjutkan pencarianku dan aku temukan pada Injil YOHANNES nash-nash yang menunjukkan doa dan ketundukan Isa Al-Masih ‘alaihis salam kepada Allah subhanahu wa ta’ala. Aku bertanya pada diriku: Jika sekiranya Isa adalah Allah Yang Maha Kuasa atas segala sesuatu, lalu apakah ia membutuhkan kepada ketundukan dan doa? Tentu tidak! Oleh karena itu, Isa bukan tuhan tetapi dia adalah makhluk seperti kita. Simaklah bersamaku doa yang terdapat dalam injil YOHANNES, inilah nash doanya: “Inilah kehidupan yang abadi agar mengetahui bahwa Engkaulah Tuhan yang hakiki, dan berjalanlah Al-Masih yang Engkau telah mengutusnya, aku pekerjamu di bumi, amal yang Engkau telah berikan padaku ialah amalan yang aku telah menyempurnakannya.” (17-3-4). Ini do’a yang panjang, yang akhirnya berkata, “Wahai Rabbul Baar, sesungguhnya alam tidak mengenalMu, adapun aku mengenalMu dan mereka telah mengetahui bahwa Engkau telah mengutusku dan Engkau telah mengenalkan mereka akan namaMu dan aku akan mengenalkan mereka agar pada mereka ada kecintaan seperti Engkau telah mencintaiku.” (17-25-26).

Doa ini menggambarkan pengakuan Isa ‘alaihis salam bahwa Allah Dialah Yang Maha Esa dan Isa adalah utusan Allah yang diutus pada kaum tertentu, bukan pada seluruh manusia, siapakah kaumnya itu? Kita baca dalam Injil MATHIUS (15:24) di mana ia berkata, “Aku tidak diutus, melainkan pada kaum di rumah Isra’il yang sasar.” Kalau demikian, jika kita gabungkan pengakuan-pengakuannya ini dengan yang lainnya, sangat mungkin untuk kita katakan bahwa, “Allah adalah Tuhan Yang Esa dan Isa adalah utusan Allah kepada Bani Isroil.” Kemudian kulanjutkan pencarianku, maka aku teringat saat aku sholat aku selalu membaca kalimat berikut: (Allah Bapak, Allah Anak, Allah Roh Qudus, tiga dalam satu). Aku berkata pada diriku: Perkara yang sangat aneh! Kalau kita bertanya pada siswa kelas satu sekolah dasar “1 + 1 + 1 = 3 ?” Pasti akan menjawab “ya”. Kemudian, jika kita katakan padanya, “Akan tetapi 3 juga = 1?” Tentu dia takkan menyepakati hal itu, sebab di sana terdapat pertentangan yang jelas pada apa yang kami ucapkan, karena Isa ‘alaihis salam berkata dalam Injil seperti yang kami lihat bahwa Allah Esa tidak ada serikat baginya.

Telah terjadi pertentangan kuat antara aqidah yang menancap di jiwaku sejak kecil, yakni: tiga dalam satu, dengan apa yang diakui Isa Al-Masih sendiri dalam kitab-kitab injil yang ada di tengah-tengah kita sekarang bahwa sesungguhnya Allah itu satu tidak ada serikat baginya. Mana dari keduanya yang paling benar? Belum ada usahaku untuk mengikrarkannya waktu itu, namun yang benar dikatakan bahwa sesungguhnya Allah itu Esa/satu. Kemudian, aku cari lagi dari kitab injil dari awal, barangkali aku temukan apa yang kuinginkan. Sungguh telah kutemukan dalam pencarianku nash berikut ini: “Ingatlah wali-wali sejak dulu, karena sesungguhnya Aku adalah Allah, sedang yang lainnya bukan tuhan dan tak ada yang menyerupaiku.” (46: 9).

Sungguh perkara yang menakjubkan saat aku berpegang teguh dengan Islam, aku mendapatkan dalam surat Al-Ikhlash firman Allah Ta’ala, “Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Katakanlah Dialah Allah Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung padaNya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan. Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” Ya, selama kalam itu adalah kalam Allah, maka tidak akan berbeda di manapun didapatkannya. Inilah pelajaran pertama pada agamaku masihiyyah yang dulu, dengan demikian “tiga dalam satu” tidak ada keberadaannya dalam jiwaku.

Adapun pelajaran kedua dalam agama masihiyyah bahwa di sana ada yang disebut dengan warisan dosa atau kesalahan awal, maksudnya ialah bahwa dosa yang diperbuat Adam ‘alaihis salam ketika memakan buah yang diharamkan dari pohon yang berada di surga, pasti seluruh anak manusia akan mewarisi dosa ini. Sekalipun janin yang berada dalam rahim ibu akan menanggung dosa ini dan akan lahir dalam keadaan berdosa. Apakah ini benar atau salah? Aku cari tentang kebenaran hal tersebut. Aku merujuk pada Perjanjian Lama, di tengah pencarianku, aku menemukan pada hizqiyal sebagai berikut, “Seorang anak tidak menanggung dari dosa seorang bapak. Seorang bapak tidak menanggung dari dosa seorang anak …” (hizqiyal: 18: 20-21).

Barangkali yang cocok untuk kami sebutkan di sini apa yang dikatakan Al-Qur’anul Karim pada masalah ini, “Dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain …” Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Anak Adam dilahirkan dalam keadaan fitroh, kedua orang tuanyalah yang akan menjadikannya Yahudi atau menjadikannya Nashrani atau menjadikannya Majusi.” Inilah dia kaidah dalam Islam dan menyepakatinya apa yang ada/datang dalam injil, lalu bagaimana bisa dikatakan bahwa kesalahan Adam akan berpindah dari satu generasi ke generasi lainnya, dan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan berdosa?

Aku melanjutkan pencarianku tentang beberapa hal yang berkaitan dengan keyakinan, pada suatu hari kuletakkan Injil dan Al-Quran di depanku, kutujukan pertanyaan pada Injil, “Apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya: tidak ada, karena nama Muhammad tidak terdapat dalam Injil. Kemudian kutujukan pertanyaan berikutnya pada Isa seperti Al-Quran telah bercerita tentangnya, “Wahai Isa ibnu Maryam, apa yang engkau ketahui tentang Muhammad?” Jawabannya: sungguh Al Quran telah menyebutkan perkara yang tidak ada keraguan sedikit pun bahwa seorang Rasul yang pasti akan datang setelahku namanya adalah Ahmad. Allah berfirman atas lisan Isa ‘alaihis salam, “Dan ingatlah ketika Isa putra Maryam berkata: Hai bani Isroil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab (yang turun) sebelumku yaitu Taurot dan memberi kabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku yang namanya Ahmad (Muhammad), maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: Ini adalah sihir yang nyata.” (QS Ash Shaff: 6). Lihatlah! Mana yang benar?!

Di sana ada satu Injil, yakni Injil BARNABAS, berbeda dengan empat Injil yang telah kusebutkan sebelumnya, namun sayang para pemuka-pemuka agamanya (Nashrani) mengharamkan pengikutnya untuk mentelaahnya. Tahukah kenapa? Yang paling benar ialah karena inilah satu-satunya Injil yang memuat kabar gembira tentang Muhammad, di dalamnya terdapat beberapa tambahan dan penyimpangan yang sangat, seperti halnya tedapat pula kenyataan yang sesuai dengan apa yang ada dalam Al Quran Al Karim. Dalam Injil Barnabas (Ishaah: 163), “Waktu itu para murid bertanya kepada Al Masih: Wahai guru! Siapa yang akan datang sesudahmu? Al Masih menjawab dengan senang dan gembira: Muhammad utusan Allah pasti akan datang sesudahku bagaikan awan putih akan menaungi orang-orang yang beriman seluruhnya.”

Kemudian, kubaca lagi ayat lainnya dari Injil Barnabas yakni ucapannya pada (Ishaah: 72), “Waktu itu seorang murid bertanya kepada Al-Masih: Wahai guru! Saat Muhammad datang apa tanda-tandanya hingga kami mengenalnya? Al-Masih menjawab: Muhammad tidak akan datang pada masa kita, tetapi akan datang setelah seratus tahun kemudian ketika Injil diubah (direkayasa) dan orang-orang yang beriman kala itu jumlah mereka tidak sampai tiga puluh orang, maka ketika itu Allah subhanahu wa ta’ala akan mengutus penutup para Nabi dan Rasul-rasul, yaitu Muhammad Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Telah disebutkan berulang-ulang yang demikian itu dalam Injil Barnabas, aku telah menghitungnya dan kudapatkan sebanyak empat puluh lima ayat menyebutkan tentang Muhammad. Aku sebutkan dua ayat di atas di antaranya sebagai satu bukti.

Setelah ini semua, aku berazzam untuk keluar dari gereja dan tidak akan pernah pergi lagi padanya, saat ini tidak ada di hadapanku, kecuali Islam. (Lihat kitab ‘Uluwul Himmah, karya Muhammad Ahmad Ismail Al-Muqoddim).

Para pembaca rahimakumullah demikianlah Islam yang dibawa oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai rahmat bagi semesta alam, menuntut kita selaku para pemeluknya untuk bersyukur. Allah berfirman, “Jika kamu kafir maka sesungguhnya Allah tidak memerlukan (iman)mu, dan Dia tidak meridhoi kekafiran bagi hamba-Nya, dan jika kamu bersyukur niscaya Dia meridhoi kesyukuranmu itu, dan seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain. Kemudian kepada tuhanmulah kembalimu lalu Dia memberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan sesungguhnya Dia Maha Mengetahui apa yang tersimpan di (dada)mu.” (QS Az Zumar: 7).

Di sini ada beberapa hal yang perlu untuk kita perhatikan, wallahul haadi ila sabilir rosyad.

Pertama: manusia itu satu umat, memeluk agama yang satu. Allah berfirman, “Manusia dahulunya hanyalah satu umat kemudian mereka berselisih, kalau tidaklah karena suatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulu, pastilah telah diberi keputusan di antara mereka tentang apa yang mereka perselisihkan itu.” (QS Yunus: 19).

Kedua: Islam adalah agama tauhid. Allah berfirman, “Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang menegakkan keadilan. Para malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu) tak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Sesungguhnya agama (yang diridhoi) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka karena kedengkian (yang ada) di antara mereka, barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisabnya. Kemudian jika mereka mendebat kamu (tentang kebenaran Islam) maka katakanlah: Aku menyerahkan diriku kepada Allah dan (demikian pula) orang-orang yang mengikutiku. Dan katakanlah kepada orang-orang yang telah diberi Al Kitab dan kepada orang-orang yang ummi, ‘Apakah kamu (mau) masuk Islam?’ Jika mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika mereka berpaling maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah) dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS Ali Imron: 18-20).

Ketiga: Aqidah tauhid adalah fitroh manusia. Allah berfirman, “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah Aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan). Atau agar kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya orang-orang tua kami telah mempersekutukan Tuhan sejak dahulu, sedang kami ini adalah anak-anak keturunan yang (datang) sesudah mereka. Maka apakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang sesat dahulu.” (QS Al A’raaf: 172-173).

Keempat: Petunjuk Allah mutlak harus diikuti. Allah berfirman, “… Katakanlah sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu. Katakanlah sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunianya kepada siapa yang dikehendakinya. Dan Allah maha luas karunianya lagi maha mengetahui.” (QS Ali Imron: 73).

Kelima: Isa ‘alaihis salam adalah Nabi dan Rasul Allah. Allah berfirman, “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar. Sesungguhnya Al Masih Isa putra Maryam itu adalah utusan Allah dan (yang diciptakan dengan kalimat-Nya) yang disampaikan-Nya kepada Maryam dan dengan (tiupan roh) dari-Nya. Maka berimanlah kamu kepada Allah dan rasul-rasul-Nya dan janganlah kamu mengatakan, ‘(Tuhan itu) tiga’. Berhentilah (dari ucapan itu). Itu lebih baik bagimu. Sesungguhnya Allah Tuhan Yang Maha Esa, Maha Suci Allah dari mempunyai anak. Segala yang di langit dan di bumi adalah kepunyaan-Nya, cukuplah Allah sebagai pemelihara.” (QS An Nisaa: 171).

Walhamdulillahi robbil alamin.

Ditulis oleh Al Ustadz Abu Hamzah Al Atsari. Diambil dari Buletin Al-Wala’ wal-Bara’
Swaramuslim.net
Hasan Ko Nakata : Meniti Jalan Nuh

Hasan Ko Nakata : Meniti Jalan Nuh

02.14 Add Comment
Penampilannya bak penyihir agung Dumbledore dalam fiksi Harry Potter, dengan jenggot dan cambang yang hampir menenggelamkan wajahnya. Orasinya lantang. Di hadapannya, seratus ribu massa yang memenuhi Stadion Gelora Bung Karno, khusyuk menyimak. Padahal mungkin, sebagian besar hadirin tak paham apa yang dilontarkannya, karena kendala bahasa.

Itulah Ko Nakata. Ahad lalu (12/8) dia mengisi orasi dengan bahasa Jepang dalam Konferensi Khilafah Internasional yang digelar oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Dia menjadi singa podium hari itu. Nakata bukan anggota Hizbut Tahrir. Disertasinya mengenai pemikiran politik Ibnu Thaimiyah lah yang mengantarkannya menjadi pengamat gerakan politik Islam kontemporer.

Dia bukan Muslim pada awalnya. Menemukan Islam baginya lebih sebagai pengalaman intelektual ketimbang pengalaman religius.

Pertama kali mengenal Islam ketika memutuskan mengambil kuliah perbandingan agama di Universitas Tokyo pada tahun 1980. Nakata saat itu hanya paham kepercayaan asli Jepang, Shinto, dan juga Budhisme. Secara otodidak, paham monoteis Yahudi, Kristen, dan Islam dia pelajari.

Ketika menimbang dan membanding itulah dia merasa ajaran Islamlah yang paling menyeluruh. ''Hanya butuh waktu satu tahun bagi saya untuk memutuskan memeluk Islam,'' kata Nakata. Menjadi Muslim pada tahun ketiga kuliah, dia pun menambahkan Hassan di depan nama aslinya. Ia pernah mendalami tarekat Naqshabandiyah dan Syaziliah. Namun saya bukan murid yang baik, ujarnya.

Usai bergelar sarjana, Nakata ingin lebih memperdalam Islam. Namun belum ada program master Kajian Islam di universitas Jepang. Buku-buku Islam berhuruf kanji pun masih sulit didapat. Untunglah tak lama kemudian Universitas Tokyo membuka program master Kajian Islam. ''Saya menjadi mahasiswa Muslim pertama dan terakhir di jurusan Islamic Studies Universitas Tokyo selama 25 tahun ini,'' ujar Nakata. Bukan hal aneh karena masyarakat Jepang sendiri memang tidak tertarik dengan agama.

Jangankan mengenal konsep Tuhan, agama adalah barang asing yang tak pernah ada dalam pikiran. ''Ketika kita mulai bicara soal agama, mereka langsung menutup muka dan pergi. Terutama anak-anak muda,'' kata Nakata. Namun sebagai orang asli Jepang, Nakata mungkin bukan dari jenis kebanyakan. Sejak kecil dia sudah sudah punya keyakinan tentang konsep Tuhan. Tapi konsep itu pun dikenalnya lewat gereja yang selalu dikunjunginya sejak kecil, walau dia tak memeluk Kristen.

Nakata kini menjadi Presiden Asosiasi Muslim Jepang sembari mengajar Kajian Islam di Universitas Doshisha, Kyoto. Mayoritas mahasiswanya justru beragama Kristen. Selama empat tahun menjadi Guru Besar di Doshisha, Nakata berhasil memikat empat mahasiswanya yang semula atheis untuk masuk Islam.

Saat ini banyak profesor Muslim di jurusan Kajian Islam di berbagai universitas Jepang. Namun tak banyak mahasiswa yang akhirnya tertarik kepada Islam. Kunci agar mahasiswa tertarik Islam, lanjut Nakata, memberi contoh langsung amalan Islam termasuk ibadah ritual.

Sebenarnya banyak murid-murid lain masuk Islam. Namun setelah lulus mereka kalah dengan tekanan sosial. Bahkan Nakata mengaku, walau kedua orang tuanya telah menjadi Muslim, tapi mereka tak menjalankan ritual agama. Menurut dia, selama 55 tahun ini Islam di Jepang memang tidak tumbuh pesat. Dari 70 ribu Muslim di negeri itu, 7.000 orang di antaranya adalah warga pribumi. Muslim dari Indonesia menjadi mayoritas dengan jumlah 20 ribu jiwa, ujarnya.

Agama monoteis lain seperti Kristen yang mempunyai sumber daya melimpah dalam dakwah pun tak berdaya di negara berpenduduk 120 juta jiwa ini. Hingga kini penganut Kristen hanya berkisar satu persen saja. ''Walau kondisinya seperti ini, selalu saja ada yang datang kepada kami memeluk Islam,'' kata Nakata. Peristiwa 11/9 WTC merupakan berkah karena kini banyak anak muda Jepang yang penasaran demi mendengar kata Islam.

Nakata memang bukan Dumbledore yang bisa menyulap apa pun dalam sekejap. Dia juga tak sedang berdakwah kepada batu yang bergeming. Saya hanya meniti jalan yang ditempuh Nuh, ujarnya merendah. Nabi yang selama 500 tahun berdakwah itu memang hanya bisa menyadarkan segelintir orang dari kaumnya. n rto/RioL

Hassan Ko Nakata

Lahir : Okayama, Jepang, 22 Juli 1960
Karir Akademis
1984 : Sarjana Islamic Studies Universitas Tokyo
1986 : Master Islamic Studies Universitas Tokyo
1992 : Ph.D Islamic Philosophy Universitas Kairo
1992-1995 : Peneliti Kedutaan Jepang di Saudi Arabia
1995-2003 : Guru Besar di Universitas Yamaguchi
1997-1998 : Direktur Pusat Studi Kairo di Japanese Society for Promotion of Sciences
2003-sekarang : Guru Besar Fakultas Teologi dan Wakil Direktur Pusat Studi Agama-agama Monoteis di Universitas Doshisha.
Saat ini mengawasi proses penerjemahan Tafsir Jalalain ke bahasa Jepang yang dikerjakan oleh Habibah Kaori Nakata.
Swaramuslim.net
Ali Ziyad (d/h Gel Asher) : datang ke Palestina Sebagai Imigran Yahudi, Sekarang Memeluk Islam

Ali Ziyad (d/h Gel Asher) : datang ke Palestina Sebagai Imigran Yahudi, Sekarang Memeluk Islam

02.11 Add Comment
Tidak pernah terbayang sebelumnya bagi seorang pemuda Yahudi, Gel Asher, bagaimana keadaannya saat ini di Palestina.

Dahulu, saat berusia 17 tahun ia pergi meninggalkan Amerika Serikat ke Tepi Barat sebagai imigran Israel. Tapi kini, kehidupan pribadinya sangat berbeda dengan misi kedatangannya ke Palestina dulu.

Gel Asher, telah mengucapkan dua kalimat syahadat dan menjadi pemeluk Islam. Di hadapan Mufti Betlehem Syaikh Abdul Majid Amarana, Asher yang memang kelahiran AS dari rahim seorang ibu Yahudi dan ayah Kristen, mengucapkan kesaksiannya sebagai Muslim. Namanya pun sejak itu diganti menjadi Ali Ziyad. Proses keIslaman Ali Ziyad, diakui dirinya karena interaksi yang ia alami selama ini dengan rakyat Muslim Palestina di Tepi Barat.

Ia menceritakan bagaimana sikap bersahabat kaum Muslim dan komitmen agama mereka terhadap Islam, yang kemudian memunculkan simpatik dari hatinya untuk mengetahui lebih jauh tentang agama Islam.

“Semua teman-temanku di sana adalah orang Islam. Mereka berada di jalan yang benar. Aku berpikir bahwa inilah jalan yang juga aku ingin tempuh, ” ujarnya.

Ziyad mengaku sangat berbahagia setelah mengucapkan dua kalimat syahadat di hadapan mufti Betlehem. “Saya seperti dilahirkan kembali. Semua yang saya inginkan terwujud hari ini dengan izin Allah. Tak ada kalimat yang bisa mencerminkan kebahagiaan yang saya rasakan hari ini, ” ujarnya.
Ia menambahkan, bagaimana dirinya sebelum ini terombang-ambing dalam hal keyakinan beragama. Ia juga menceritakan bagaimana ia selama ini banyak berpikir tentang cara masuk Islam dan bagaimana bisa menempuh jalan sebagaimana orang Islam. Menurut Ziyad, sejak hari itu ia akan menjadi Muslim dengan keyakinan yang kuat, dengan teratur menunaikan kewajiban salat dan menghadiri pengajian di Masjid Umar bin Khattab di Betlehem.

Dalam hal ini, Ziyad juga membantah imej yang menganggap bahwa kaum Muslimin adalah teroris sebagaimana yang kerap disebarluaskan media massa. “Terorisme itu hanya sebagian kecil saja dan berdasarkan ucapan-ucapan orang saja. Orang Islam mayoritas bukanlah teroris. Saya banyak mengenal kaum Muslimin di sini sangat baik dalam berinteraksi dengan orang lain, ” ujarnya.

Menurut statistik data kependudukan Israel, ada 35 orang Israel baik beragama Yahudi ataupun Kristen yang memeluk Islam setiap tahunnya. Dan jumlah pemeluk Islam itu bertambah dua kali lipat pada tahun 2005 hingga menjadi 70 orang dalam satu tahun. (na-str/iol/eramuslim)
Yusuf 'Roger' Maramis, Dari Evangelis Menjadi Dai

Yusuf 'Roger' Maramis, Dari Evangelis Menjadi Dai

02.06 Add Comment
Dilahirkan dengan menyandang nama besar Maramis, kehidupan yang dilalui oleh Roger Maramis sangatlah unik dan penuh tantangan. Ia merupakan keponakan dari tokoh nasionalis Kristen asal Manado dan mantan menteri keuangan Republik Indonesia yang pertama, yaitu Alexander Andris Maramis atau biasa dikenal dengan Mr AA Maramis.

Ayahnya bernama Bernardus Maramis dan merupakan adik bungsu dari AA Maramis sementara ibunya bernama Lili Amelia. Seperti keluarga yang bermarga Maramis lainnya, Roger dilahirkan dalam lingkungan Kristen yang taat.

Bahkan Ia menjadi seorang evangelis (penginjil) yang tugas utamanya melakukan ksristenisasi dengan sasaran umat Islam. Namun, hidayah dari Allah SWT akhirnya menyadarkannya. Secara mengejutkan, Roger akhirnya masuk Islam setelah berhasil mengkristenkan 99 orang Islam.

Setelah memeluk agama Islam, namanya pun diganti dengan Yusuf Syahbudin Maramis. Ia pun enggan dipanggil dengan Roger dan meminta kepada Republika memanggilnya Yusuf saja.

Yusuf dilahirkan di Malang, 26 Juni 1964. Seperti keluarga Maramis lainnya, Dahulu, dia sangat taat menjalankan ibadah Kristen. Ia kemudian masuk sekolah teologi di Bandung. Lulus dari sekolah teologi, ia kemudian menjadi seorang penginjil. Tugasnya adalah masuk ke daerah-daerah di mana banyak umat Islam namun secara ekonomi kehidupan mereka melarat. Dengan berkedok membantu secara ekonomi, Yusuf kemudian melancarkan jurus-jurusnya sebagai penginjil.

Berbagai daerah di Indonesia pernah dimasukinya. Berkat usahanya, menurut pengakuannya, sekitar 99 orang Islam berhasil dikristenkannya. ''Dari tadinya melarat, saya bantu sampai kaya. Jadi mereka pun tidak berdaya ketika saya baptis,'' ujarnya kepada Republika pekan lalu.

Namun seiring dengan kegiatannya sebagi penginjil, Yusuf selalu merenung untuk mencari kebenaran hakiki. Ia pun sering bertanya-tanya kenapa hanya orang Islam yang dijadikan target kristenisasi. Ada apa dengan Islam. Dalam hati kecilnya Ia mengakui bahwa tindakannya melakukan kristenisasi adalah tindakan yang curang. ''Saya kemudian melakukan doa malam agar ditunjukkan mana yang benar apakah Bibel atau Alquran,'' ujarnya menceritakan perenungan batinnya.

Pada fase perenungan itu, Yusuf mengaku dilanda kebingungan. ''Saya bingung, umat Kristen menuding umat Islam sebagai kafir. Begitu juga umat Islam menuding umat Kristen yang kafir,'' katanya.

Perenungan dan doanya kemudian menghasilkan sebuah pengalaman gaib pada suatu malam sekitar 1987-an. Antara sadar dan tidak, Yusuf melihat sebuah sinar masuk ke kamar tidurnya dan menerangi kamarnya dengan sangat terang dan belum pernah dialaminya seumur hidupnya.

Yusuf pun menceritakan bahwa dari kedua sinar tersebut muncul dua kitab yaitu Bibel dan Alquran. ''Namun sinar dari Alquran lebih terang dan akhirnya menutupi sinar yang keluar dari Bibel,'' katanya. Ia kemudian bertanya-tanya apakah ini petunjuk dari Tuhan kepadanya atas pergolakan batin yang dialaminya saat itu.

Kemudian secara ajaib, Alquran yang dilihatnya itu tiba-tiba terbuka pada surat Ali Imran ayat 19 yang berbunyi, ''Sesungguhnya agama yang paling mulia di sisi Allah adalah Islam''. ''Saya belum yakin apakah itu mimpi atau nyata,'' katanya. Akhirnya dengan kesibukannya sebagai penginjil, pikirannya beralih dari pengalaman itu. Namun ia tidak lupa sama sekali dengan pengalamannya itu.

Lima tahun kemudian, tepatnya 8 September 1992, Yusuf mengaku mengalami lagi kejadian tersebut dengan alur yang hampir persis sama. Dan ketika terjaga, ia yakin bahwa itu merupakan hidayah dari Allah SWT. Akhirnya ia bertekad untuk meyakini Islam sebagai agama yang benar. ''Allah telah mendengar doa saya,'' ujarnya.

Sejak saat itu, Yusuf mulai sering ke masjid untuk belajar tata cara shalat. Lama kelamaan Ia menguasai cara melakukan shalat. Selama setahun kemudian, ia telah menjalankan ibadah shalat meskipun belum mengucapkan dua kalimat syahadat sebagai tanda memeluk Islam. ''Saya berpendapat waktu itu apabila telah shalat berarti telah Islam. Sebab kalimat syahadat terucap secara langsung ketika shalat,'' ujarnya. Namun para ustadz di masjid tempat dirinya biasanya shalat, menganjurkannya untuk meresmikan masuknya ke dalam Islam dengan ikrar dua kalimat syahadat.

Alkisah, Yusuf pun menuruti anjuran para ustadz itu. Pada 25 September 1993, akhirnya Yusuf mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat di Masjid Cut Meutia, Menteng Raya, Jakarta Pusat, bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Ikrarnya itu disaksikan sekitar dua ribu jamaah masjid dan dibimbing oleh Ustadz Abdul Aziz.

Sebenarnya, sebelum memeluk Islam, Yusuf sering berdialog dengan KH Abdullah Wasian, seorang ulama di Surabaya. Ia mengaku ingin mengajak ulama itu untuk pindah ke agama Kristen. Namun yang terjadi bukan sang kiai yang terpengaruh justru Yusuflah yang terpengaruh oleh argumen-argumen sang kiai. Dalam dialog mengenai kandungan Bibel dan Alquran, Yusuf mengaku selalu kalah argumen. ''Akhirnya saya semakin akrab dengan beliau dan ingin mendalami Islam secara sunguh-sungguh,'' ungkapnya.

Mengetahui dirinya masuk Islam, pihak keluarganya sangat berang. Bahkan ibunya sendiri sudah menganggapnya tidak ada dan tidak mau mengakui Yusuf sebagai anaknya. Sementara ayah kandungnya sudah meninggal pada 1980-an. Pihak gereja pun turun tangan dan membujuknya untuk kembali kepada agamanya dulu. Namun keyakinan Yusuf tidak berubah lagi.

Meskipun keluarga tidak melakukan intimidasi secara fisik, secara psikologis Yusuf merasa ditekan. Lontaran-lontaran kekecewaan dari keluarganya memaksanya keluar dari rumahnya. Teman-teman dekatnya pun melakukan teror lisan dan fitnah bahwa setelah masuk Islam, dirinya tidak mendapat ketenangan.

Sampai klimaksnya, Yusuf mengalami teror secara fisik dari pihak-pihak yang tidak senang dengan keputusannya masuk Islam awal tahun ini. Namun Yusuf enggan membesarkan kasus ini karena dikhawatirkan dapat menimbulkan kerusuhan berbau SARA.

Kini, Yusuf melakukan kegiatan dakwah selain sebagai penulis di Tabloid Jumat . Ia pun sedang menulis buku dengan judul Kilas Balik Tragedi Berdarah di Bumi Halmahera. Ia berharap bukunya itu dapat terbit tahun ini juga sebagai media dakwah.

Hari-harinya kini diisi dengan misi dakwah Islam agar kaum muslimin terhindar dari praktik-praktik yang dulu dijalankannya sebagai evangelis. ''Umat Islam harus bersatu dan benar-benar mengamalkan konsep ukhuwah Islamiyah,'' ujarnya. ''Jangan biarkan saudara kita melarat karena itu akan menjadi sasaran empuk pemurtadan!'' (RioL/2002) Swaramuslim.net
Hilary Saunders : Aku Bahagia dalam Islam

Hilary Saunders : Aku Bahagia dalam Islam

01.47 Add Comment
Keputusan paling besar yang pernah kulakukan dalam hidupku ternyata juga merupakan suatu hal yang luar biasa sederhana. Mengucapkan dua kalimat syahadat ini, kulakukan setahun lalu di depan dua orang saksi. "Aku bersaksi tidak ada Ilah selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah RasulNya" Ucapku, dan mulai saat itu, aku menjadi seorang Muslim.

Antara yakin dan sedikit tidak percaya dengan apa yang telah dilakukannya, Hilary Saunders berusaha untuk menjajaki kembali keputusannya. Mualaf asal Inggris dan wartawati Al-Jazeera itu berada dalam kegamangan. Negeri Yordanlah yang akan menjadi saksi keteguhan iman yang telah menjadi pilihannya. Hingga detik saat mengucapkan syahadat itu, ia masih belum sepenuhnya yakin bahwa itulah yang ingin ia lakukan.

"Bagaimana kalau suatu pagi aku terbangun dan berubah pikiran? Mungkinkah aku akan merasa telah melakukan sebuah kesalahan besar?"

Tetapi nyatanya dia merasakan betapa telah berubah hidupnya. Dia tak tahu bagaimana harus menggambarkannya, tetapi saat dia mengucapkan kata-kata itu, dia merasakan kebahagiaan dan rasa cinta memenuhi seluruh relung hatinya dan baru empat hari kemudian dia berhenti merasa seakan-akan tengah melayang-layang.

"Aku hampir saja menggambarkan pengalaman batinku itu sebagai coming out, keluar, karena untuk pertama kali suatu bagian penting namun sangat rahasia dari diriku, kini muncul dan diketahui orang lain."

Prosesi keislamannya barangkali tidak lebih dari sekadar beberapa menit, tetapi itu adalah puncak dari sebuah pencarian yang telah dijalani sepanjang hidupnya. Kedua orangtuanya agnostik (mereka tidak percaya akan adanya Tuhan), dan membesarkannya bersama kedua saudara perempuannya tanpa agama supaya mereka bisa memutuskan sendiri bila dewasa nanti.

Sejak kecil, dirinya sudah menyadari bahwa dia tengah mencari sesuatu, entah apa. Pada saat-saat tertentu dia bahkan merasa seakan-akan seperti sebuah kapal tanpa kemudi di laut yang bergolak, tak tahu ke mana harus berlabuh. Saat mulai kuliah, Hilary muda mulai meneliti berbagai kepercayaan yang ada. Misalnya, sebuah sistem falsafah yang dikenal sebagai The Work, yang ternyata banyak menyontek Islam, meskipun dia belum tahu ketika itu. Hilary juga meneliti berbagai filosofi new-age, mencoba meditasi Budha, dan membaca berbagai buku pengembangan diri.

Di masa lalu pun hubungan dengan lawan jenis seringkali bermasalah. Suatu kali, sesudah putus dari seorang pacar, dia baca buku karya Robin Norwood yang berjudul Wobel Who Love Too Much. Sebenarnya, Hilary sudah pernah membacanya dan dia berpikir buku itu hanya cocok untuk perempuan-perempuan yang terlalu tergantung kepada pacar atau suami yang justru senang memukuli mereka. Tapi kali ini Hilary berpikir. Jangan-jangan, dia pun sama dengan semua perempuan yang diceritakan oleh Robin Norwood itu, maka dia pun mengerjakan semua hal yang disarankan penulisnya.

Buku itu mendorong perempuan untuk mengembangkan spiritualitasnya, mencoba lebih menghargai diri sendiri, dan barangkali juga mengikuti konseling. "Ini sebuah titik penting dalam perjalanan hidupku karena aku, saat itu, juga sedang mempelajari konsep reliji yang mengajari orang tentang kasih sayang. Benakku penuh dengan pergulatan konsep ketuhanan. Aku terus mencari ke mana seharusnya aku melangkah secara spiritual."

Seiring berjalannya waktu, kemudian Hilary mendapatkan pacar seorang pria Muslim. "Sebenarnya sama sekali tidak ada niatku berpacaran dengan seorang Muslim." Kenang Hilary. Ironisnya, kebetulan saja hal ini terjadi sesudah mereka mabuk-mabukan (bisa dibilang, pria itu adalah seorang muslim yang saat itu tengah khilaf dan melakukan kesalahan).

"Pada saat itu, pengetahuanku nol tentang Islam. Aku tidak pernah punya teman muslim di masa kecil dan remaja, dan hampir semua citra yang kumiliki tentang agama ini negatif. Pada pandanganku, Islam itu kuno, peninggalan jaman kegelapan, sangat menindas, dan otoriter terhadap perempuan. Persepsiku bahwa Islam itu sangat anti perempuan menjadi salah satu sumber perdebatan kami. Aku menantang pacarku ketika itu untuk menjelaskan mengapa Islam demikian anti feminis? Aku keluarkan semua argumentasi yang biasa dikemukakan orang di Barat tentang Islam, seperti, "Islam itu mengajari laki-laki untuk merendahkan perempuan. Kalau tidak, kenapa Islam mengizinkan pria memiliki empat orang istri?" Serentetan hujatan nyaris tak bisa dipatahkan pacarnya.

"Jujur saja, semua perdebatan soal Islam inilah yang membuat kami bertahan pacaran selama empat tahun. Dia selalu berusaha mencoba menjawab semua pertanyaanku, dan memberiku rujukan dari Al-Qur'an dan Hadits. Aku mulai membacanya sendiri, dan perlahan-lahan semua pertanyaanku mulai terjawab, sampai aku tersadar bahwa banyak sekali pandanganku yang keliru tentang Islam. Karena sedikitnya pengetahuanku, misalnya tentang laki-laki boleh beristri empat, aku keliru menyimpulkan." Hilary mencoba meyakinkan diri.

"Salah satu hal yang juga kalau kusadari adalah bahwa dalam Islam, poligami bukannya didorong dan dipromosikan, melainkan ditoleransi. Kadang-kadang memang poligami menjadi kebutuhan. Tetapi selalu ada rambu-rambu penjaganya. Kalau seorang pria menikah namun istrinya tak bisa memberinya anak, maka ia boleh mengambil istri kedua dengan kesepakatan dari istri pertama. (di lain pihak, bila seorang pria tidak bisa memberi anak, maka si istri dapat meminta cerai). Bagiku, ini cara yang lebih baik daripada yang terjadi di barat, yang memungkinkan si suami menceraikan istri tanpa tunjangan apa pun." Terang Hilary makin mantap.

"Doktrin tentang poligami ini sebenarnya adalah untuk melindungi wanita. Bukan untuk mendorong kaum pria mengumpulkan sekian istri untuk berbangga-bangga. Inilah jenis pertanyaan yang aku lontarkan sendiri, lalu aku perdebatkan sampai kehabisan jawaban sendiri. Misalnya, mengapa perempuan membutuhkan perlindungan pria? Mengapa perempuan tak boleh memiliki lebih dari satu suami? Aku tersadar bahwa seorang perempuan tidak mungkin memiliki empat suami karena tentu akan sulit menentukan siapa ayah anak-anaknya, dan para ayah itu bisa saja lalu berkelahi soal siapa yang harus menunjang kehidupan anak-anak tersebut." Hilary lalu tersadar, betapa sangat masuk akalnya Islam.

Beberapa waktu kemudian, Hilary dan pacarnya pisahan. Hilary lalu pergi berlibur ke Yordania. Di sanalah dia akhirnya memutuskan untuk memeluk Islam. Entah bagaimana caranya dia sampai pada keyakinan itu, yang jelas tiba-tiba saja dia yakin sepenuhnya. Di tempat yang sungguh indah itulah Hilary menyaksikan bagaimana cara sesama muslim berinteraksi, seperti apa rasanya mendengar adzan (dia tersentuh karenanya).

Sekembalinya ke Inggris, dia mendaftar ke sebuah kursus mengenal Islam selama tiga hari di Masjid Agung di Regent's Park, di utara London. Di penghujung hari yang ketiga itulah Hilary memutuskan bahwa sudah tiba waktunya dia bersyahadat.

Pada saat mengikuti kursus itu Hilary mendapat sejumlah teman baik. Tentu saja, sebagian besar sahabat muslimnya ada juga yang mualaf. Tentu, banyak sekali orang masuk Islam di Inggris (sekitar 10.000 dari 1.8 juta Muslim di Inggris adalah mualaf berkulit putih atau Afrika Karibia).

Salah satu masalah yang mereka hadapi adalah, karena mereka tidak tumbuh besar di tengah-tengah masyarakat Muslim, sulit bagi mereka untuk membangun hubungan antar manusia. Islam tidak mengizinkan pacaran. Islam memerintahkan masyarakat untuk membantu menikahkan orang-orang yang belum menikah.

"Aku sendiri merasa akan ada kendala teknis dari pendekatan ini secara pribadi. Tetapi aku sendiri sangat sangat ingin menikah dan aku yakin pada akhirnya aku akan mendapatkan seorang suami yang baik, insya Allah." Ungkap Hilary penuh harap.

Sejak memeluk Islam, Hilary memutuskan untuk berpakaian Islami dan mengenakan Jilbab. Di balik jilbab ada konsep mengenai perlindungan diri dengan berpakaian secara sopan, tidak untuk memamerkan diri atau menarik perhatian lawan jenis, serta mencegah iri hati. Islam menasihati kedua pihak, bukan hanya perempuan, untuk berpakaian sopan.

"Saat pertama kali hendak mengenakan jilbab, aku sempat merasa cemas, bertanya-tanya dalam hati apa kiranya reaksi orang melihatku." Itulah bayangan yang selalu muncul di hadapannya. Namun Keyakinan Hilary telah mengikis semua bayangan kelam itu.

"Kuingatkan diriku sendiri bahwa aku sudah mengambil sebuah komitmen, dan jilbab adalah tanda lahiriah komitmen tersebut. Sesudah mengenakannya, aku merasa sangat aman dan terlindungi. Aku merasa lebih menghargai diriku sendiri. Aku merasa telah menemukan tempatku yang sesungguhnya di dunia." Allahu Akbar. [dakwatuna.com]

Link :
- http://www.nzmuslim.net/viewarticle-51.html
Karima Kristie Burns: Cintaku kepada Islam tertambat di Istana Al-Hambra

Karima Kristie Burns: Cintaku kepada Islam tertambat di Istana Al-Hambra

01.07 Add Comment
Karima Kristie Burns, MH, ND nama lengkapnya. Karima (39) dikenal sebagai perempuan dengan banyak bakat. Ya sebagai editor, penulis, guru, dan juga pakar herbalis. Di dunia herbalis dia sangat dikenal lewat konsultasi online di website Herb'n Muslim yang dikelolanya sejak 1994. Sejak masuk Islam, dia membuka usaha Herb'n Muslim yang dikenal dengan teknik penyembuhan alami dan islami. Dia juga telah menulis lebih dari 120 artikel kesehatan yang bisa didownload via websitenya itu. Karima menghabiskan separuh hidupnya di Midwest, Iowa (AS), tempat dia dibesarkan. Dan separuhnya lagi di kawasan Timur Tengah (Mesir dan Arab Saudi).

Karima mulai tertarik dengan metode penyembuhan alami justru ketika berupaya menyembuhkan dirinya sendiri yang mengidap penyakit asma, alergi, mudah panik, depresi, dan beberapa penyakit bagian dalam lainnya. Kala itu dia mencoba dengan terapi alami dan bantuan tumbuh-tumbuhan. Dia berkeliling hingga ke Mesir guna mencari berbagai informasi berkenaan penyembuhan tradisional.

Dari kegigihannya itu, dia bahkan berhasil memperoleh gelar formal master of herbalist dan doktor bidang naturopathic tahun 1996 dari Trinity College di Dublin, Irlandia. Naturopathic adalah teknik pengobatan alamiah yang meresepkan herbal untuk para pasiennya.

Namun tak banyak yang tahu, ketertarikan Karima kepada Islam justru ketika berkunjung ke Spanyol. Dia mengaku terkagum-kagum dengan tulisan Arab di Istana Al-Hambra di kota Granada. Istana itu sendiri dulunya bekas mesjid hingga bekas kaligrafinya masih ada. Berikut penuturan Karima yang disadur dari beberapa sumber.

Kenal Islam di Spanyol

Karima Burns awalnya adalah seorang mahasiswi program sarjana studi kawasan Arab di Universitas Iowa, AS. Karima mengaku Islam hadir di hatinya berawal dari membaca rangkaian tulisan ayat suci Al-Quran dalam rangka penyelesaian tugas kuliahnya. Dan dia tak kuasa menghindar dari bisikan hati itu.

Ceritanya, satu ketika dia dan teman-temannya mengadakan studi tur ke Granada, Spanyol. Granada merupakan salah satu bekas kawasan yang pernah dikuasai Islam selama hampir tujuh abad. Kala itu dia sedang duduk-duduk di Istana Al-Hambra. Istana itu dulunya adalah mesjid. Karima takjub melihat jejeran tulisan di dinding gedung tua itu. Baginya itulah tulisan terindah yang pernah dia lihat.

“Bahasa apa itu?” tanyanya pada salah seorang turis Spanyol. ”Bahasa Arab,” sahut turis lokal itu. Hari berikutnya, tatkala pemandu wisata menanyakan buku panduan dalam bahasa apa yang dia inginkan, Karima menjawab spontan bahasa Arab.

"Apa, bahasa Arab? Anda bisa bahasa Arab?" tanya si pemandu terkejut.

"Tidak, tapi tolong berikan juga yang dalam bahasa Inggris," sahut Karima.

Di akhir tour tas Karima penuh dengan buku-buku petunjuk wisata dari tiap-tiap kota yang dia singgahi di seluruh Spanyol. Dan semuanya dalam bahasa Arab!

“Tas travel saya sudah terlalu penuh hingga saya bermaksud membuang beberapa potong pakaian dan beberapa barang lainnya agar tasnya bisa muat. Namun, untuk buku-buku bahasa Arab rasanya berat untuk ditinggalkan. Buku-buku itu ibarat emas bagi saya. Saya sering membolak-balik halamannya tiap malam. Kata per kata-nya saya amati dengan seksama. Huruf-hurufnya juga unik, beda dengan huruf latin biasa. Saya membayangkan andainya saja bisa menulis dengan huruf yang demikian indah itu. Waktu itu saya punya pikiran pasti akan sangat berharga jika bisa mengetahui bahasa Arab ini. Saya pun berniat dalam hati untuk belajar bahasa ini. Ya satu saat nanti kala kembali ke kampus di musim gugur,” tukas Karima.

Mencari jawaban
“Ketika itu ada sekitar dua bulan saya meninggalkan keluarga di Iowa untuk mengikuti tour sepanjang kawasan Eropa ini. Sendirian pula. Kala itu usia saya baru 16. Makanya saya kepingin jalan-jalan dulu sembari “melihat dunia”. Itu alasan yang saya katakan pada keluarga dan kawan-kawan. Tapi sebenarnya saya sedang mencari jawaban atas konsep Kristen yang sudah lama saya pendam. Saya meninggalkan gereja (baca: Kristen -red) persis beberapa bulan sebelum berangkat ke Eropa dan belum bisa menentukan pilihan (agama) lain. Saya merasa belum mendapatkan apapun dengan apa yang telah saya pelajari selama ini. Sampai kini pun belum mendapatkan alternatif-alternatif lain,” ungkapnya.

“Tempat dimana saya dibesarkan, yakni Midwest, sebenarnya sangat cocok buat saya. Misalnya hal keyakian, tidak ada yang perlu dipusingkan disana. Mau jadi bagian dari gereja silahkan. Tidak, ya juga ndak masalah. Tapi karena itu pula saya tidak punya gambaran agama lain yang bisa dijadikan alternatif. Makanya ketika ada waktu keliling Eropa saya berharap bisa berjumpa dengan “sesuatu” yang lain itu,” imbuhnya.

“Di gereja tempat kami tinggal, kami hanya boleh melakukan ibadah untuk Yesus dan menyandarkan segala sesuatu padanya agar bisa menyampaikan pesan kepada Tuhan. Secara intuitif saya merasakan bahwa ada sesuatu yang salah dengan dogma itu,” kata dia.

“Saya kala itu dengan patuh pergi ke gereja tiap hari minggu dan sangat serius dengan apa yang saya pelajari tentang kejujuran, murah hati dan saling berkasih sayang. Tapi ada yang bikin saya bingung tatkala melihat jamaag gereja. Sikap mereka tampak begitu beda selama satu hari itu. Apakah Cuma sehari dalam sepekan bersikap jujur, murah hati dan kasih sayang? Apakah mereka cuma bahagia di hari minggu saja? Aku mencari-cari di beberapa buku panduan, namun tak menemukan apa-apa. Ada hal tentang 10 perintah Tuhan yang meliputi hal-hal yang sudah nyata sekali seperti larangan membunuh, mencuri dan berbohong. Uniknya, orang-orang ke gereja seperti tak ada etiket. Misalnya, sejauh yang saya tahu, banyak yang pakai rok mini ke gereja. Ironisnya lagi, ada juga dari mereka pergi ke sekolah minggu hanya karena ada cowok ganteng disana,” tukas Karima.

Kitab Bibel aneka versi
Satu hari Karima berkunjung ke rumah salah seorang dosennya. Disana dia melihat beberapa kitab Bibel tersusun rapi di rak lemari si dosen. “Saya tanya apa itu. Dosennya menjawab bahwa itu kitab Bibel dalam berbagai versi. Saya sebenarnya tak mau mengganggunya dengan pertanyaan seputar Bibel dalam aneka versi itu. Tapi makin dipendam makin sangat mengganggu pikiran. Saya beranikan diri mengamati beberapa dari Bibel itu. Saya terkejut. Memang ada yang benar-benar beda satu versi dengan versi lainnya. Bahkan ada beberapa bab yang tidak sama dengan Bibel kepunyaan saya. Kala itu saya benar-benar bingung. Bahkan mulai timbul perasaan bimbang,” katanya.

Ikut kelas bahasa Arab
Selepas tur Eropa Karima kembali ke kampus dengan perasaan kecewa sebab tak menemukan jawaban yang diharapkannya. Akan tetapi dengan keinginan yang begitu besar akan sebuah bahasa, Karima mengaku tertarik untuk mempelajari bahasa Arab. “Ironis ya, mendapat secercah jawaban yang saya cari-cari justru di dinding istana Al Hambra. Setelah pulang dari Spanyol, butuh dua tahun bagi saya untuk merealisasikan semua itu (masuk Islam-red),” ujarnya.

“Hal pertama sekali yang saya lakukan kala aktif kembali di kampus adalah mendaftar kelas bahasa Arab. Saya amati tampaknya kelas itu tidak begitu diminati. Entah kenapa. Buktinya peserta yang mendaftar cuma tiga. Saya dan dua mahasiswa lainnya. Tapi saya tak ambil pusing,” kata dia. Karima pun langsung tenggelam dengan pelajaran bahasa Arab. Rasa ingin tahunya sangat tinggi, hingga sang dosen takjub melihatnya.

“Saya kerjakan tugas-tugas yang diberikan dengan pulpen khusus untuk menulis huruf kaligrafi. Bahkan seringkali saya pinjam buku-buku dalam bahasa Arab dari dosen hanya untuk melihat huruf-huruf Arab yang ada dalam buku itu. Memasuki tahun kedua di universitas, saya putuskan untuk memilih bidang Studi Timur Tengah. Jadi dengan begitu bisa fokus pada satu kawasan saja. Nah di salah satu mata kuliahnya adalah belajar Al-Quran. Saya gembira bukan main,” aku Karima mengenang.

Kagum dengan Al-Quran
“Satu malam saya buka Al-Quran untuk mengerjakan PR. Heran campur takjub. Makin saya baca makin terasa nikmat. Sulit untuk berhenti membacanya. Persis seperti seseorang baru mendapatkan sebuah novel baru. Ketika itu saya bergumam dalam hati; wow menarik sekali. Inilah yang selama ini saya cari-cari. Semuanya ada dalam Al-Quran. Semua penjelasan betul-betul menarik. Saya sungguh kagum, kitab suci ini menguraikan semua yang juga saya percayai dan saya cari-cari jawabannya selama bertahun-tahun. Sangat jelas disebutkan bahwa hanya ada satu Tuhan yang patut disembah, yakni Allah. Tidak seperti di Kristen, satu dalam tiga,” imbuhnya.

Hari berikutnya Karima kembali ke ruang kelas untuk menanyakan siapa gerangan pengarang kitab itu. Karima melihat ada sebuah nama tertulis di halaman depan Al-Quran itu. “Awalnya saya menyangka itu nama pengarangnya. Misalnya seperti kitab Gospel yang dikarang oleh St. Luke atau kitab-kitab dalam agama lain yang pernah saya pelajari sebelumnya,” kata dia.

Salah seorang dosen Karima yang beragama Kristen memberitahu bahwa itu bukan nama pengarangnya. “Ternyata itu adalah nama penerjemahnya. Masih menurut dosen itu, dia mengutip pernyataan penganut Islam, bahwa tak ada seorang pun yang mampu menulis kitab suci itu. Quran, kata orang Islam, merupakan perkataan Allah dan tidak berubah dari pertama diturunkan hingga saat ini. Al-Quran dibaca dan dihafal banyak orang. Wow…tak perlu saya katakana bagaimana gembiranya hati saya. Makin terpesona dan takjub. Setelah penjelasan itu saya tambah tertarik, bukan hanya mempelajari bahasa Arab, tapi juga mempelajari Islam. Hingga timbul keinginan pergi ke Timur Tengah,” katanya sumringah.

Masuk Islam

Di tahun terakhir kuliah akhirnya Karima mendapat kesempatan mengunjungi Mesir. Salah satu tempat favorit yang ingin dia lihat di sana adalah mesjid. “Saya merasakan seolah-olah sudah jadi bagian dari mereka. Berada di dalam mesjid, keagungan Allah semakin nyata. Dan, seperti biasanya, saya sangat menikmati rangkaian tulisan kaligrafi yang ada di dinding mesjid itu,” kata dia.

Satu hari seorang teman menanyakan kenapa tidak masuk Islam saja kalau memang sudah sangat tertarik. “Tapi saya sudah jadi seorang muslim,” kata Karima. Si teman terkejut mendengar jawaban itu. Tak cuma dia, bahkan Karima sendiri terkejut dengan jawaban spontan yang keluar dari bibirnya. “Tapi kemudian saya sadari hal itu logis dan normal. Islam telah merasuk dalam jiwa saya dan selalu memberikan perasaan lain. Begtupun pernyataan teman saya itu ada benarnya. Kenapa saya tidak masuk Islam saja?” tanya Karima pada dirinya sendiri. Temannya menyarankan agar lebih resmi (masuk Islam) sebaiknya pergi ke mesjid saja dan menyatakan keislaman di hadapan jamaah di sana sebagai saksinya.

“Tanpa menunggu lama saya ikuti sarannya. Ringkas saja, Alhamdulillah, akhirnya saya pun bersyahadat. Pihak mesjid lalu memberikan selembar sertifikat resmi selepas bersyahadat. Tapi sertifikat itu tak penting dan hanya saya simpan dilemari. Sama seperti dokumen-dokumen lain seperti asuransi, ijazah dan lainnya. Tak ada niat menggantung kertas itu di dinding rumah sebagai bukti telah ber-Islam. Bagi saya yang penting sudah jadi seorang muslim,” akunya.

“Kini saya habiskan waktu hanya untuk mempelajari Al-Quran. Ketika membuka Al-Quran perasaan yang hadir persis seperti orang yang baru saja menemukan kembali anggota keluarganya yang telah lama hilang,” ungkap Karima.

Di rumahnya Karima tak lupa menggantung foto Istana Al Hambra, tempat dimana dia pertama kali melihat tulisan Arab yang membuat dirinya takjub dan jatuh cinta dengan Al-Quran. Kini, disamping mengelola praktek penyembuhan alaminya dia juga aktif menulis. Ada lebih dari 120 artikel yang telah dia tulis. Umumnya bertema kesehatan. Tulisannya yang terkenal antara lain The “Yoga” of Islamic Prayer, Vetegarian Muslim, dan banyak lainnya lagi. Begitulah. [Zulkarnain Jalil/dari berbagai sumber/www.hidayatullah.com]
Al-Qur’an Cerita Tentang Nasib Jasad Fir’aun, Realita Membenarkan!!

Al-Qur’an Cerita Tentang Nasib Jasad Fir’aun, Realita Membenarkan!!

11.36 Add Comment
Dr. Morris Bukay* di dalam bukunya ‘al-Qur’an Wa al-‘Ilm al-Hadiits’ (al-Qur’an Dan llmu Modern) mengungkap kesesuaian informasi al-Qur’an mengenai nasib Fir’aun Musa setelah ia tenggelam di laut dan realita di mana itu tercermin dengan masih eksisnya jasad Fir’aun Musa tersebut hingga saat ini. Ini merupakan pertanda kebesaran Allah SWT saat berfirman, (QS.Yunus:92)

Dr. Bukay berkata, “Riwayat versi Taurat mengenai keluarnya bangsa Yahudi bersama Musa AS dari Mesir menguatkan ‘statement’ yang menyatakan bahwa Mineptah, pengganti Ramses II adalah Fir’aun Mesir pada masa nabi Musa AS. Penelitian medis terhadap mumi Mineptah membeberkan kepada kita informasi-informasi berguna lainnya mengenai dugaan sebab kematian fir’aun ini.

Sesungguhnya kitab Taurat menyebutkan, jasad tersebut ditelan laut akan tetapi tidak memberikan rincian mengenai apa yang terjadi terhadapnya setelah itu. Sedangkan al-Qur’an menyebutkan, jasad Fir’aun yang dilaknat itu akan diselamatkan dari air sebagaimana keterangan ayat di atas. Dalam hal ini, pemeriksaan medis terhadap mumi tersebut menunjukkan, jasad tersebut tidak berada lama di dalam air sebab tidak menunjukkan adanya tanda kerusakan total akibat terlalu lama berada di dalam air.**”

Dr. Morris Bukay menyebutkan bahwa dalam sebuah penelitian medis dengan mengambil sampel organ tertentu dari jasad mumi tersebut pada tahun 1975 melalui bantuan Prof Michfl Durigon dan pemeriksaan yang detail dengan menggunakan mikroskop, bagian terkecil dalam organ itu masih dalam kondisi terpelihara secara sempurna. Ini menunjukkan, keterpeliharaan secara sempurna itu tidak mungkin terjadi andaikata jasad tersebut sempat tinggal beberapa lama di dalam air atau bahkan sekali pun berada lama di luar air sebelum terjadi proses pengawetan pertama.

Dr. Bukay juga menyebutkan, diri bersama tim telah melakukan banyak penelitian, di antaranya untuk mengetahui dugaan sebab kematian Fir’an. Penelitian yang dilakukannya berjalan legal karena dibantu direktur laboratorium satelit di Paris, Ceccaldi dan prof Durigan. Objek penelitian dititikberatkan pada salah satu orang di tengkorak kepala.

Mengenai hasilnya, Dr Bukay mengungkapkan, “Dari situ diketahui, bahwa semua penelitian itu sesuai dengan kisah-kisah yang terdapat dalam kitab-kitab suci yang menyiratkan Fir’aun tewas ketika digulung gelombang…”***

Dr. Bukay menjelaskan sisi kemukjizatan masalah ini. Ia mengatakan, “Di zaman di mana al-Qur’an sampai kepada manusia melalui Muhammad SAW, jasad-jasad para Fir’aun yang diragukan orang di zaman kontemporer ini apakah benar atau tidak ada kaitannya dengan saat keluarnya Musa, sudah lama terpendam di pekuburan lembah raja di Thoba, di pinggir lain dari sungai Nil di depan kota al-Aqshar saat ini.

Pada masa Muhammad SAW segala sesuatu mengenai hal ini masih kabur. Jasad-jasad tersebut belum terungkap kecuali pada penghujung abad ke-19.**** Dengan begitu, jasad Fir’aun Musa yang masih eksis hingga kini dinilai sebagai persaksian materil bagi sebuah jasad yang diawetkan milik seorang yang mengenal nabi Musa AS, menentang permintaannya dan memburunya dalam pelarian serta mati saat pengejaran itu. Lalu Allah menyelamatkan jasadnya dari kerusakan total sehingga menjadi tanda kebesaran-Nya bagi umat manusia sebagaimana yang disebutkan al-Qur’an al-Karim.*****

Informasi sejarah mengenai nasib jasad Fir’aun tidak berada di tangan manusia mana pun ketika al-Qur’an turun atau pun setelah beberapa abad setelah turunnya. Akan tetapi ia dijelaskan di dalam Kitab Allah SWT sebelum lebih dari 1400 tahun lalu.

* Seorang dokter ahli bedah paling masyhur berkewarganegaraan Perancis. Ia masuk Islam setelah mengadakan kajian secara mendalam mengenai al-Qur’an al-Karim dan mukjizat ilmiahnya
** Lihat, buku al-Qur’an Wa al-‘Ilm al-Hadits, Dr Morris Bukay
*** Lihat, buku Kitab al-Qur’an Wa al-‘Ilm al-Mu’ashir, Dr Morris Bukay, terjemah ke bahasa Arab, Dr Muhammad Bashal dan Dr Muhamma Khair al-Biqa’i
**** Diraasah al-Kutub al-Muqaddasah Fii Dhau’i al-Ma’aarif al-Hadiitsah, karya Dr Morris Bukay, hal.269, Darul Ma’arif, cet.IV, 1977 –dengan sedikit perubahan
***** Ibid.,
Al-Sofwah.or.id
Frida T. Maramis : Jalan Kebenaran Kutemukan dalam Islam

Frida T. Maramis : Jalan Kebenaran Kutemukan dalam Islam

11.32 Add Comment
Aku dilahirkan di Kota Manado, 25 mei 1951. Lingkungan keluargaku bukanlah tergolong orang Kristen sekuler. Tetapi mereka boleh dibilang fanatik dengan berbagai prinsip kekristenan. Papaku bernama Ernest Maramis, sedankan papiku bernama Agustina Tanod.

Terus terang saja, aku beragama Kristen lebih disebabkan faktor keturunan. Bukan karena ketaatanku sebagai pengikut Yesus Kristus. Bahkan secara pribadi kuakui, bahwa aku tidak pernah bisa memahami ajaran Kristen secara mendalam.

Yang ku ketahui, hanyalah beriman kepada Tuhan Yesus Kristus sebagai juru selamat bagi seluruh manusia, seperti tertulis di kitab Yohanes 14:6 (kata Yesus kepadanya:"Akulah jalan kebenaran dan hidup, Tidak ada seorangpun yang datang jika tidak melalui aku.")
Namun sekali lagi kukatakan, apa arti dan makna sesungguhnya juru selamat di dalam Yesus, hingga kini, kuanggap hanyalah merupakan kisah Fiktif yang tidak akan pernah berubah menjadi nyata.

Masih kuingat, jika pastur membawakan khotbah pada kebaktian misa kudus, bisa dipastikan temanya berkenaan dengan "kasih Kristus" utnuk semua orang. Tetapi buatku, khotbah itu sama sekali tidak menyentuh. Apalagi sampai meresap di dalam hati dan pikiranku.

Bahkan terkadang aku merasa sangat tertekan apabila harus mengikuti kebaktian di gereja. karena acara kegiatan rohani yang sering kurasakan begitu padat, hanya membuat kepalaku pening. Bagaimana tidak ? Aku menyaksikan para kawula mudanya, lebih memanfaatkan pertemuan kebaktian di gereja, tak ubahnya bagaikan tempat "pameran busana".

Hingga aku berkesimpulan, bahwa ajaran agama Kristen tidak mampu mengubah akhlak manusia pada jalan yang lebih baik menuju jalan kebenaran dan hidup. Adapun fakta lain, apabila hari Natal dan Tahun Baru tiba, umat Kristen di seluruh dunia memanfaatkan sebagai kesempatan untuk berpesta pora dan mabuk-mabukan.

Natal yang suci itu, tak ubahnya bagaikan pesta maksiat. Pemandangan seperti itu, bagiku tidak asing lagi. Mungkin ini sudah menjadi tradisi untuk orang-orang kawanua( sebutan penduduk asli Manado), Sungguh aku merasa sedih dan sangat terpukul apabila menyaksikan kenyataan ini.



Tersentuh Suara Adzan

Sejak aku mula meragukan isi yang terkandung dalam Alkitab, bersamaan dengan kondisi seperti ini, aku merasa lebih akrab bersahabat dengan kawan-kawan yang beragama Islam. Tentu saja ada hal yang sangat menyentuh nuraniku. Terutama ketika umat Islam mendengarkan seruan untuk menunaikan ibadah Shalat melaui Adzan di masjid atau pun mushalla.

Entah mengapa, sekalipun aku masih penganut agama kristen, tetapi bila adzan dikumandangkan dengan alunan suara yang indah, maka hati dan jiwa ini, terasa begitu damai dan sejuk.

Penduduk di kota Manado dan Minahasa mayoritas beragama Kristen. Namun, sudah menjadi suatu kebiasaan di daerahku, kalau umat Islam merayakan Idul Fitri, kami umat Kristen memberi ucapan selamat Natal.

Pada kesempatan seperti ini, aku mulai membandingkan perayaan Natal dengan Hari Raya Idul Fitri. Perbedaan jelas sekali. Umat Islam tampak sangat bersahaja, dan aku dapat merasakan bahwa umat Islam memanfaatkan hari yang suci itu sebagai bagian dari ibadah menuju ketakwaan.

Setelah aku menempuh perjalanan batin yang cukuk melelahkan, karena harus menerobos berbagai rintangan dari keluarga besar Maramis. Alhamdulillah, tepat pada hari Jum'at tanggal 24 Maret 1978, kutinggalkan agama anutanku yang lama (Katholik), dan secara ikhlas masuk agama Islam di Masjid Agung Sunda Kelapa Jakarta. Pengucapan ikrar dua kalimat Syahadat dibimbing Bapak H. Alamsyah Ratuperwiranegara mantan Menteri agama RI.

Akhrinya aku memilih Islam berkat bimbingan almarhum suamiku Hayatuddin Ahmad Tapitapi yang memang sudah beragama Islam, karena suamiku berasal dari "Ternate", Kini nama Islamku Frida Maramis.

Sekarang aku hidup bersama ketiga putriku. Insya Allah, melalui kesaksianku dalam rubrik Mengapa Aku Pilih Islam, bisa bermanfaat untuk makin memperkuat benteng pertahanan iman dan Islam kita, sebagaimana firman Allah SWT. dalam QS. Al. Maaidah ayat 3, "Pada hari ini telah kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah kucukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah kuridhai Islam itu agama bagimu." [Yusuf Syahbuddin Maramis/Albaz]
Journey to Islam Swaramuslim.net
F.X. Khoe Hok Tiong : Tertarik Kopiah Hitam

F.X. Khoe Hok Tiong : Tertarik Kopiah Hitam

11.29 Add Comment
Kegagalan, disatu sisi memang sangat menyakitkan. Entah gagal dalam pekerjaan, maupun gagal dalam membina rumah tangga. Tetapi di sisi lain, kegagalan terkadang membawa hikmah yang sangat besar dalam perjalanan sejarah hidup seorang anak manusia. Hal ini rupanya dialami Khoe Hok Tiong alias Pudjihato, seorang karyawan swasta di Jakarta.

Saya yang mempunyai nama baptis Fransiscus Xaverius adalah aktivis Gereja Persekutuan Doa Oikumene. Di tempat kerja, saya dipercaya sebagai Sales and Marketing Manager. Tetapi, sekitar tahun 1989, karir saya banyak mengalami kemunduran. Sebagai manajer penjualan dan pemasaran, saya sering dituntut untuk mengambil keputusan strategis. Karena sesuatu hal, keputusan yang saya ambil sering tidak tepat.

Apa sebabnya? Ternyata ketenteraman rumah tangga turut mempengaruhi karir dan produktifitas kerja saya. Saya akui, rumah tangga yang saya bina sejak tahun 1986 dan sudah membuahkan dua orang putra, mengalami goncangan yang sebenarnya kecil dan sepele, bisa menjadi besar. Rumah rasanya seperti neraka.

Karena persoalan rumah tangga itu, kerja pun tidak konsentrasi dan produktivitas pun menurun. Sebagai kompensasi saya sering keluyuran, sekadar mencari ketenangan batin. Gereja yang sekian lama menjadi tempat yang paling damai ternyata tidak mampu menepis kegundahan hati saya. Saya justru menjadi semakin jauh dari gereja.

Karena sama-sama keras, akhirnya kami tidak mampu lagi mempertahankan keutuhan rumah tangga. Meskipun dalam agama Katolik bercerai itu diharamkan, toh akhirnya, dengan terpaksa saya ceraikan istri saya itu, walaupun dengan hati yang amat berat mengingat kedua orang anak kami masih kecil-kecil. Sebagai ayah, saya amat mencintai anak saya. Tetapi apa mau dikata, mungkin ini sudah suratan. Saya serahkan sepenuhnya nasib kedua anak saya kepada Allah. Bulan Januari 1991 kami resmi bercerai. Kedua anak saya dibawa oleh istri saya ke Kutoarjo, Jawa Tengah.



Tertarik Kopiah Hitam

Antara bulan Januari sampai Juni 1991, saya merasa diri saya menjadi orang kafir, karena selama enam bulan itu saya sudah tidak lagi menginjakkan kaki ke gereja. Tetapi selama masa "kekafiran" itu, banyak hal aneh yang saya jumpai. Seperti, ketika pada suatu sore pada bulan Mei 1991, saya berkunjung ke Toko Buku Wali Songo di daerah kwitang, Jakarta Pusat.
Saya heran, begitu banyak orang keluar masuk toko buku tersebut. Ketika saya terus masuk ke dalamnya, saya melihat banyak orang yagn membersihkan diri di kran air. Saya tidak tahu kalau orang-orang tersebut sedang berwudhu untuk menunaikan shalat maghrib. Tidak lama kemudian terdengar suara azan dari bagian atas. Meskipun saya sudah pernah ke sana dua tahun yang lalu, tetapi baru hari itu saya tahun bahwa di toko buku itu ada masjidnya.

Akhirnya, saya memutuskan untuk bergabung dengan orang-orang tersebut. Saya ikut berwudhu, setelah memeperhatikan beberapa orang mengambil wudhu. Setelah itu, saya pun ikut shalat magrib berjamaah. Sampai sejauh itu, tidak satu pun di antara jamaah yang mengetahui bahwa ada seorang non muslim yang ikut shalat berjamaah bersama mereka.
Peristiwa yang terjadi tanpa rencana dan begitu spontan itu, ternyata membuat kesan yang amat dalam pada jiwa saya. Saya baru memahami betapa luhurnya ajaran Islam itu. "Untuk menghadap Tuhannya orang Islam harus benar-benar dalam keadaan bersih," begitu kata hati saya dalam perenungan di malam hari.

Beberapa hari berikutnya, pandangan mata saya seperti ada yang mengarahkan. Selama beberapa hari, secara kebetulan, saya selalu saja menjumpai masjid di mana pada saat itu bertepatan dengan kumpulan orang yang sedang berwudhu. Semua yang saya lihat itu, terekam jelas di otak. Dan pada malam hari, kembali menjadi bahan renungan.

Pada suatu hari saya melihat seorang memakai kopiah hitam. Sebetulnya ini hal yang biasa. Tetapi, entah mengapa, pada hari itu saya begitu terpesona. "Alangkah agung dan wibawanya orang itu. Saya heran, mengapa tidak semua orang Islam berkopiah. Padahal, alangkah baiknya kalau semua orang Islam memakai kopiah. Biar tampak agung dan berkharisma.

Beberapa hari kemudian, saya kembali menjumpai hal yang sama. Akhirnya, saya bener-benar tertarik dengan kopiah hitam. Singkatnya, ketika saya singgah ke sebuah pusat perbelanjaan di Jakarta, saya pun membeli kopiah hitam, dan saya langsung memakainya. Orang-orang di pusat perbelanjaan itu tampak heran, ada seorang bertampang Tionghoa, dengan penampilan khas seorang eksekutif muda, dan berdasi tetapi memakai kopiah. Dilihat seperti itu, tentu saja membuat saya salah tingkah.

Sejak itu saya selalu berkopiah, kecuali di rumah dan di kantor. Masih malu. Tentang kopiah ini, ada satu peristiwa yang menarik. Ketika saya singgah di pusat perbelanjaan di Jalan Gajah Mada, saya berpapasan dengan seorang gadis cantik. Timbul naluri kelelakian saya untuk menggoda gadis itu. Apalagi saya seorang duda yang kesepian. Tentu amat wajar. Tetapi, ketika saya ingin menghampiri sang gadis, secara refleks tangan saya bergerak menyentuh kopiah yang sedang saya pakai, dan spontan batin saya pun berkata, "aku kan muslim."

Niat menggoda gadis, urung. Tetapi, yang membuat saya kaget bercampur heran, mengapa hati saya dapat berkata "aku muslim" , padahal pada saat itu saya belum lagi bersyahadat. Kejadian yang seperti itu berulang dua kali, di tempat yang berbeda. Malamnya saya tidak dapat tidur. Saya heran memikirkan suara hati saya yang menyatakan diri seorang muslim, padahal saya belum menjadi seorang muslim. Tetapi, saya bersyukur. Dengan kopiah itu, jiwa saya seperti punya kendali. Jalan saya seperti terbimbing ke satu arah yang pasti.



Masuk Islam

Pada suatu senja menjelang isya, ketika saya pulang kerumah di daerah Jatinegara, kebetulan saya melewati sebuah masjid. Entah dorongan dari mana, tiba-tiba kaki saya melangkah masuk ke halaman masjid. Dan, saya kembali ikut berwudhu dan kemudian shalat bersama jamaah masjid itu.

Malamnya saya kembali merenung tentang keanehan-keanehan yang saya alami. Tetapi, kali ini saya sudah bulat, ingin masuk Islam.

Setelah melewati proses berpikir yang cukup panjang akhirnya saya memutuskan untuk berkonsultasi ke sekretariat PITI (Pembina Iman Tauhid Islam) di Masjid Istiqlal, Jakarta. Setelah mendapat informasi, tekad saya tambah mantap.

Ada suatu keanehan yang terjadi setelah saya pulang dari Masjid Istiqlal. Ketika tiba waktu magrib, saya mendengar alunana azan yang amat merdu. Setelah azan selesai, telingat saya seperti mendengar bisikan, "Sembahyanglah kamu." Ketika saya menoleh ke kiri dan kekanan, tidak ada seorangpun di sekitar saya. Saya tidak tahu, dari mana suara gaib itu. Kejadian seperti itu berlangsung tiga kali, pada waktu yang berbeda.

Singkat cerita, pada hari Rabu, 24 Juli 1991, pukul 10.00 WIB, bertempat di sekretariat PITI di Masjid Istiqlal Jakarta, saya mengucapkan ikrar dua kalimat syahadat. Allahu Akbar.
Setelah resmi menjadi seorang muslim, saya mendalami Islam di Pondok Pesantren Gentur, Sukabumi, Jawa Barat. Oleh Pak Kiai, nama saya diganti menjadi Abdul Rasyid. Selain mempelajari Al-Quran, saya juga giat berzikir. "Sekarang hati saya benar-benar plong, tanpa beban. Alhandulillah, saya telah menemukan kebahagiaan yang sejati.[Albaz]
Swaramuslim.net
Pengawal Guantanamo Memeluk Islam

Pengawal Guantanamo Memeluk Islam

11.27 Add Comment
Akibat interaksi sehari-hari dengan sejumlah orang Islam, sejumlah pasukan keamanan penjaga tawanan tertuduh ‘teroris’ AS di Guantanamo justru masuk Islam

Sejumlah pasukan AS yang menjaga 660 narapidana Guantanamo yang dianggap terlibat Al-Qaidah dan dicurigai sebagai pasukan Taliban telah memeluk Islan, menurut seorang penengah dari Aljazair seperti dikutip Aljazeera TV.

Hasan Aribi, yang mengepalai negerinya menuju Guantanamo, telah merundingkan pelepasan 18 orang tahanan dari penangkapan di bawah penjagaan dan pengawalan ketat di ujung timur Cuba.

Menurut Hasan, dia mengklaim bahwa orang tahanan yang dibebaskan menceritakan kepadanya bahwa sebagian dari pengawal AS telah memeluk Islam sebagai hasil interaksi sehari-hari dengan narapidana Islam selama dua tahun.

Militer AS menolak berkomentar ketika dihubungi oleh TV Aljazeera pada Selasa, (21/10) kemarin.

Pelepasan Narapidana

Pernyataan Aribi itu disampaikan pada suatu seminar di Mesir baru-baru ini yang kemudian dikuti oleh Islam Online.

Pada seminar di Kairo kala itu, ia mengatakan negosiasi nya, yang berlangsung di Washington sebelum serangan AS ke Iraq telah mengakibatkan pelepasan delapan orang Aljazair dan sepuluh orang tahanan lain.

"Mereka menceritakan kepadaku bahwa pengawal Amerika sangat simpatik dengan mereka dengan banyak membantu membelikan kebutuhan para tahanan dengan uang jajan mereka," ujar Aribi.

Aribi yang ditarik oleh pemerintahan Arab untuk bertindak untuk melakukan pelepasan warganegara mereka di Guantanamo.

Ia mengatakan, 90% tahanan yang dipegang itu semuanya, "tidak ada hubungan apapun dengan al-Qaidah atau Taliban. Mereka bekerjasama dengan para agen pembebasan kemanusiaan dan hanya ditangkap sebagai bagian dari kampanye Amerika melawan terhadap orang yang dicurigai."

Seorang wakil Dewan Hubungan Islam-Amerika (CAIR) di New York mengatakan ia juga telah mendengar laporan pengawal AS yang masuk Islam di Guantanamo.

Beberapa minggu lalu, AS juga telah menangkap tiga orang muslim dengan tuduhan mata-mata dan terlibat dengan terorisme. Ketiganya adalah Ahmad Mihalba, warganegara AS asal Mesir, pilot angkatan udara Ahmad al-Halabi, dan Kapten (AL) James Yee, seorang pemoba ruhani Islam.

Pihak pejabat militer AS sendiri hingga kini tak ada yang berkomentar atau mengeluarkan pernyataan resmi meskipun ketiganya mengatakan mereka tidak bersalah.

Lembaga Palang Merah Internasional, Jumat lalu (24/10) juga mengeluh pada kebijakan AS yang memperlakukan narapidana Guantanamo. (alJazeerah.net/Hidayatullah)
Subhanallah, Sejumlah Serdadu AS di Irak Menyatakan Diri Masuk Islam

Subhanallah, Sejumlah Serdadu AS di Irak Menyatakan Diri Masuk Islam

11.24 Add Comment
Ternyata gambaran Islam yang dipublikasikan oleh media-media Barat, jauh berbeda sama sekali dari realitas Islam sebenarnya. Setidaknya hal itu diperlihat kan oleh sejumlah prajurit laki-laki dan wanita AS yang bertugas di Irak, ketika mereka menyatakan diri masuk Islam. Lalu mereka menikah dengan orang-orang Islam Irak. Walaupun pernikahan itu ditentang oleh sejumlah warga setempat.

“Para tentara AS itu telah menyadari bahwa ajaran Islam sama sekali berbeda dengan informasi-informasi yang diprogandakan oleh media-media Barat,” lanjut Sheikh Mahmoud.

“Setelah bergaul setiap hari dengan warga Irak serta pengalaman berinteraksi dengan kalangan Muslim dari dekat di negeri yang terkoyak perang ini, banyak serdadu AS yang menyatakan keinginannya masuk Islam,” ujar Sheikh Mahmoud el-Samydaei, anggota Majelis Ulama Islam Irak, pada Islam Online Rabu (13/8/2003).

Ulama Islam itu mengingatkan kembali para perwira AS yang telah masuk Islam agar memelihara agama itu sampai akhir hayat. Sebab orang yang mati tanpa membawa Islam, ujar Sheikh Mahmoud, matinya akan sia-sia. Para muallaf AS itu mendengarkan wejangan tersebut dengan terisak-isak, mengingat banyak masyarakatnya mati tanpa mengetahui sedikitpun tentang Islam.

Seorang perwira AS yang mendatangi Pengadilan Urusan Sipil di distrik el-Karkh, Baghdad pekan ini menyatakan; “Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah utusanNya.”

Perwira AS itu kemudian menikah dengan wanita Irak, dr. Samar Ahmed yang pernah dijumpainya ketika dia bertugas menjaga Medicine City Hospital. Dia memilih Islam, kata perwira AS itu, lantaran keyakinannya yang penuh terhadap kebenaran Islam. “Saya masuk Islam bukan hanya lantaran untuk menikahi wanita Irak,” tukasnya.
Berdasarkan ajaran Islam, seorang pria non-Muslim dilarang menikahi seorang wanita Islam.

Hakim Agama Abd el-Azeim Mohammad Gawad el-Rasafi merestui pernikahan itu. Abd el-Azeim menegaskan bahwa pernikahan itu merupakan peristiwa pertama, seorang wanita Irak menikah dengan serdadu AS yang masuk Islam. Kepada IslamOnline Abd el-Azeim mengatakan, tak satupun agama di dunia, menghalangi pernikahan tersebut. Walaupun begitu sejumlah warga Irak menentang pernikahan antar etnis itu. (stn/iol/eramuslim)
Swaramuslim.net
19 Remaja Mentawai Masuk Islam

19 Remaja Mentawai Masuk Islam

11.20 Add Comment
Dengan penuh kesadaran puluhan remaja Mentawai beralih ke Islam dan menggunakan hijab meninggalkan agama lama mereka Kristen

Imanuel Jatias (16) telah berganti nama. Cukup bermakna nama “hijrah” itu, Muhammad Syukri. Anak lelaki asli Siberut itu memang tak sendiri. Di mesjid Babussalam Ulakarang Kecamatan Padang Utara, usai shalat Jumat kemarin, Imanuel bersama 18 remaja dari Kabupaten Kepulauan Mentawai melafadzkan duakalimah syahadat di hadapan para saksi dan jemaah mesjid.

Dengan penuh kesadaran dan keikhlasan mereka berhijab meninggalkan agama lama yang diwarisi dari orang tua mereka—ada keristen Katolik, ada pula kristen Protestan— dengan masuk dan memeluk agama Islam.

Resminya pensyahadatan memang baru Jumat (18/7). Namun proses penyadaran telah berlansung cukup lama. “Kita memeluk Islam setelah benar-benar menyadari hanya Islam-lah agama yang dijamin Allah Swt kebenarannya,” tutur Imanuel (Muhammad).

Sebagian dari para mualaf itu memang sudah cukup lama belajar di Panti Asuhan Anak-anak Mentawai di Gurun Lawas Padang. Kendati pada awalnya mereka datang hanya untuk belajar, tidak menjadi persoalan bagi pengasuh Panti. Dari lamanya proses pembelajaran itulah akhirnya mereka memutuskan sendiri dan dengan kesadaran sendiri untuk memeluk Islam.

“Tidak ada yang membujuk-bujuk atau memaksa. Kami datang sendiri, dan masuk Islam dengan kesadaran sendiri. Itu pun setelah mendalami benar bahwa memang hanya Islam agama yang kebenarannya telah dijamin Allah Swt,” ungkapnya.

Lapaz pensyahadatan sebanyak 19 remaja (5 putra dan 14 putri) dari Kabupaten Kepulauan Mentawai itu dipimpin Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Padang Utara Syafrizal.

Pesyahadatan ini antara lain disaksikan Ketua Kamar Dagang dan Industri Sumbar H. Bachtiar Khahar, Ketua DPW Partai Keadilan/PK Sejahtera H. Mahyeldi Ansharullah, Ketua Forum Penegakan Syariat Islam H. Irfianda Abidin, Pimpinan Ponpes Modern Ash-Haabul Kahfi , H. Hafiif ‘Abdulhaady, Pimpinan STQ Ust. M.Husnie Thamrin, Direktur Pusat Kajian Setrategis Rahmat Hidayat, Pembantu Rektor III IAIN Imam Bonjol, Pengurus Panti Asuhan Anak Mentawai, Camat Padang Utara dan sejumlah tokoh masyarakat setempat.

H. Irfianda Abidin menyatakan, Forum Penegak Syariat Islam bersama pengasuh PA Gurun Lawas sekedar pelaksana acara dari apa yang sesungguhnya telah “diskenariokan” oleh Allah Swt.

Melihat kenyataan betapa lebih maju dan lebih mampunya orang lain ‘menggarap’ ummat di Kabupetan termuda itu, kata H. Irfianda, tanpa “skenario” Allah sahaja, sangat mustahil pensyahadatan kemarin terjadi.

“Tapi inilah keyakinan kita. Sehebat-hebat skenario dan rencana manusia dengan dukungan fasilitas apapun juga, yang pasti berlaku tetaplah “skenario” Allah Swt semata,” tuturnya.

Dari peristiwa yang terjadi di mesjid Babussalam ba’ada Jumat kemarin, ummat Islam Sumbar juga dapat mengambil hikmahnya.

“Bahwa meskipun tipu daya kaum kuffar dan iblis sangat canggih dan sistematis dalam mendangkalkan aqidah ummat Islam Sumbar namun yang akan berlaku tetap saja “skenario” Allah Swt. Asal saja kita tetap istiqomah dijalan Allah,” tandasnya.

Ust.H. Hafiif ‘Abdulhaady dalam tausyiah pensyadatan menyatakan, kembali ke Islam adalah kembali ke agama yang nyata-nyata telah dijamin Allah Swt kebenarannya. Bahwa Islam adalah satu-satunya agama yang dijamin kebenarnnya, Allah sendiri yang menyatakan dalam al-Qur’an, bukan kita dan para da’i,” ungkapnya mengutif beberapa ayat.

Yang kembali kepada Islam, kata Ust. Hafiif, Allah jamin kembali kepada fitrah. “Segala keburukan dan ketidak tahuan yang dilakukan sebelum muallaf, Allah gantikan dengan kebaikan-kebaikan,” jelasnya.

Sedangkan Rahmat Hidayat menyatakan, pensyahadatan merupakan gerbang awal untuk mendalami dan menjadi Islam khaffah. “Untuk itu adalah kewajiban kita semua membantu pendidikan para mualaf muda Mentawai ini menjadi generasi Islam yang tangguh,” ungkap mantan aktivis HMI itu.

Senada dengan itu Pengurus PA Anak Mentawai M. Habib mengakui, dari sisi fasilitas dan pendanaan, memang dakwah di Kepulauan Mentawai sangat jauh tertinggal dari yang lain. “Ketika pihak lain telah bermotor boat, perahu sampan pun da’i Islam di sana tidak punya,” jelas Habib. udn Hidayatullah.com
Molly Ingin Menjalani Hidup Sebagai Muslimah

Molly Ingin Menjalani Hidup Sebagai Muslimah

11.15 Add Comment
I love Scotland ... but I love Islam more. I don't want to be a Christian
Molly Campbell, gadis kulit putih asal Skotlandia, mendapati dirinya terperangkap dalam pertempuran hak asuh antarnegara. Niatnya untuk menjalani hidup sebagai seorang Muslimah di negara ayahnya berasal, Pakistan, tak bisa terlaksana.

Rabu (29/11) lalu, Pengadilan Tinggi Lahore, Pakistan, memerintahkan agar gadis berusia 12 tahun itu dikembalikan ke pangkuan ibunya di Skotlandia. ''Molly Campbell akan diserahkan kepada Komisi Tinggi Inggris dalam beberapa hari, untuk kemudian dipulangkan ke Skotlandia,'' ungkap Mian Saqib Nisar, hakim di Pengadilan Tinggi Lahore.

Kedua orang tua Molly memiliki kewarganegaraan yang berbeda. Ayahnya yang beragama Islam, Sajjad Ahmed Rana, merupakan warga negara Pakistan. Sedangkan ibunya, Louise Campbell, warga Skotlandia, Inggris.

Rana kembali ke kampung halamannya di Pakistan setelah pasangan ini memutuskan cerai pada 2001. Ia meninggalkan Molly bersama ibunya di Stornoway, sebuah kota kecil di wilayah barat Skotlandia.
Agustus lalu, Molly menghilang dari rumah ibunya. Ia kemudian diketahui berada di Pakistan bersama ayahnya. Mengetahui hal tersebut, Lousie mengklaim Molly diculik oleh mantan suaminya dan dibawa paksa ke Pakistan. Ia juga mengklaim Molly dipaksa untuk menjalani perkawinan secara Islam.

Tudingan Louise dibantah Rana yang menyatakan Molly, yang memiliki nama Muslimah Misbah Iram Ahmad Rana, datang ke Pakistan dengan sukarela. Ini karena remaja tersebut sejak dulu memang ingin memeluk Islam. Setibanya di Pakistan, Molly sendiri yang mengatakan dirinya ingin tinggal di Pakistan, dan membantah berada di bawah tekanan untuk menikah.

Perang perebutan hak asuh berlanjut ke meja hijau. Louise, melalui pengadilan setempat, menggugat Rana dengan tuduhan melakukan penculikan. Louise mengirimkan petisi melalui pengacaranya kepada pemerintah Pakistan untuk mengembalikan putrinya.

Dalam persidangan September lalu, Pengadilan Pakistan memenangkan Rana atas gugatan terhadap dirinya. Molly dipersilakan untuk tetap tinggal di Pakistan bersama dengan ayah dan saudara kandungnya, dan melarang pemerintah untuk mengembalikannya ke Skotlandia.

Tidak terima dengan putusan tersebut, Louise mengajukan banding, yang kemudian dimenangkan oleh Pengadilan Tinggi Lahore melalui keputusan yang keluar Rabu lalu. ''Saya merasa terpukul. Saya akan mengajukan banding ke Mahkamah Agung dalam beberapa hari,'' ungkap Rana. ''Molly merasa sangat kecewa.''

Saksi mengatakan Molly, yang hadir di persidangan mengenakan pakaian Muslim dan penutup kepala, hanya bisa menangis usai pembacaan keputusan. Anggota keluarganya yang lain terlihat menghapus air mata.

Ibu Molly tak hadir di persidangan karena alasan keuangan dan kesehatan. Pengacaranya, Nahida Mehbub Elahi, mengatakan keputusan ini merupakan sebuah tonggak. ''Ini sebuah tonggak karena terdapat sekitar 60 ribu warga Pakistan yang mengawini wanita Inggris dan mungkin akan menghadapi kasus yang sama,'' ujarnya.

''Bagi Molly, ini merupakan kemungkinan terburuk. Dia bilang akan lari lagi dari ibunya,'' kata Rana.

(ap/afp/aru/RioL)
Berita Muallaf Swaramuslim.net
Keith Ellison : Jalan Panjang Sang Mualaf

Keith Ellison : Jalan Panjang Sang Mualaf

11.12 Add Comment
Mengincar kursi yang ditinggalkan Martin Sabo di DPR AS, dalam kampanyenya Keith Ellison mengusung ide tentang perdamaian, layanan kesehatan yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat, serta masa depan yang lebih baik.

Melalui surat terbuka yang dipasangnya di http://www.keithellison.org,/ Ellison juga menyatakan tekadnya untuk mengupayakan penyegeraan penarikan tentara AS dari Irak serta usaha rekonstruksi internasional. ''Dengan dukungan Anda, saya akan mewujudkannya,'' ujar pria berusia 43 tahun itu.

Pemikiran Ellison memang bukan hal baru. Namun, track record-nya yang mengesankan mampu mengantarkan Ellison yang menjadi mualaf selepas lulus SMU ke kursi DPR. Ellison pun mengukir sejarah. Dialah Muslim pertama yang bisa menduduki posisi penting tersebut.

Didukung oleh Minnesota DFL --yang berafiliasi dengan Partai Demokrat-- Elisson juga menjadi keturunan Afro-Amerika pertama dari Minnesota yang menjadi salah satu dari 435 anggota DPR AS. Sebelumnya, sejak 1943 cuma ada tiga orang yang pernah mewakili distrik Minnesota di DPR. Keanggotaan di DPR didapatnya setelah jumlah suara yang didapatnya melampaui kandidat kuat lainnya dari Partai Demokrat.

Mantan senator Ember Reichgott Junge, anggota Dewan Kota Minneapolis Paul Ostrow, dan kepala staf Sabo, Mike Erlandson, rupanya tak begitu mendapat tempat di hati akar rumput. Buktinya, pilihan lebih banyak dijatuhkan kepada Ellison. Ia menang dengan selisih 30 poin.

Sebelum Ellison, sebetulnya sudah banyak Muslim Amerika yang mencoba menduduki posisi serupa. Hanya saja, kurangnya pengalaman di dunia politik, lemahnya kampanye, serta kecurigaan berkelanjutan terhadap Islam, kerap menjegal usaha mereka. Bagi Ellison, sukses diraih setelah menapaki jalan panjang di dunia pelayanan masyarakat.

Sebagai warga pendatang, Ellison, yang pindah dari Detroit ke Minnesota pada 1987, paham benar kehidupan masyarakat Minnesota. Keragaman latar belakang penduduk justru dianggapnya sebagai kekuatan. Pria yang beristrikan guru matematika ini lantas membangun jaringan dengan seluruh lapisan masyarakat, baik yang berada di sekitar tempat tinggalnya, di pusat kota, hingga di lingkar utara.

Ellison memang bukan politikus dadakan di Minnesota. Pria kelahiran 4 Agustus 1963 ini pernah delapan tahun mengudara di radio komunitas, membantu warga Minnesota menyalurkan unek-uneknya. Berkat jasanya pula Minnesota pada 1990-an memiliki Police-Civilian Review Board, dewan yang mencermati hubungan kepolisian dengan masyarakat.

Pada tahun 2002, Ellison terpilih mewakili House District 58B di daerah pemilihan Minnesota. Ini merupakan kawasan bisnis potensial yang demografinya beragam dan dihuni oleh warga rasis. Di Minnesota, Ellison juga tergabung dalam keanggotakan Dewan Keamanan Publik, Komite Kebijakan dan Keuangan, serta Komite Pemilihan dan Hukum Publik.

Sebelum terjun ke dunia politik, Ellison bekerja sebagai pengacara. Ayah dari Amirah, Jeremiah, Elijah, dan Isaiah, itu lantas memanfaatkan pengetahuannya untuk membantu kaum papa yang terjerat masalah hukum. Ia melakukannya di bawah naungan Legal Right Center. Ellison bertindak sebagai executive director di organisasi nirlaba tersebut.

Selagi masih menjadi mahasiswa, Ellison menemukan keyakinan baru. Ellison muda yang dibesarkan di keluarga penganut Katolik Roma lantas mengucapkan syahadat. Ketika itu, usianya masih 19 tahun.

Di bangku kuliah, Ellison kerap menulis kolom di koran kampusnya, Minnesota Daily, dengan nama Keith E Hakim. Salah satu tulisannya yang diterbitkan pada 1989 sempat menjadi kerikil yang memengaruhi perjalanan Ellison menuju kursi DPR. Tulisan tersebut memuat opini Elisson tentang kiprah Louis Farrakhan, tokoh Nation of Islam.

Diterpa masalah tersebut, Ellison menegaskan dirinya tak pernah menjadi anggota Nation of Islam. Namun, ia tidak mengingkari kedekatannya dengan Farrakhan. Ia mengaku terlibat dalam kegiatan Million Man March di Washington DC. ''Di pertengahan 1990-an, selama 18 bulan, saya memang pernah bekerja sama dengan personel Nation of Islam,'' ujarnya.

Ellison mengungkapkan dia bukanlah orang yang anti-Semit. Ia bahkan menolak segala bentuk perlakuan yang bersifat anti-Yahudi. Terlepas dari masa lalunya itu, Ellison malah pernah mendapatkan dukungan dari The American Jewish World, koran lokal Minneapolis.

Ujian buat Ellison tak berhenti di situ. Saingan dari Partai Republik, Alan Fine, menuding Ellison menerima dana kampanye dari pimpinan Council on American-Islamic Relations (CAIR), organisasi yang oleh Fine dicap memiliki hubungan erat dengan jaringan teroris. ''Pendiri CAIR, Nihad Awad, adalah kenalan saya. Organisasi ini mengutuk terorisme,'' kata Ellison yang juga sempat dihantam isu penunggakan pajak.

Terlepas dari latar belakang etnis dan agamanya, Ellison merupakan pribadi yang mengesankan. Walikota Minneapolis, RT Rybak, berpendapat demikian. ''Ellison mampu mempersatukan orang. Dia adalah satu dari segelintir orang yang dapat membuat pihak-pihak yang berbeda paham di utara Minneapolis menjadi rukun,'' komentar Rybak.

Mantan jaksa Amerika, B Todd Jones, juga menaruh simpati pada Ellison. Ia berpendapat Ellison yang dikenalnya sejak masih menjadi mahasiswa University of Minnesota Law School mendapat perlakuan yang tidak adil dengan berembusnya isu-isu tersebut. ''Saya bisa memahami ketertarikan Ellison pada Nation of Islam. Yang jelas bukan lantaran anti-Semitisme,'' ucap Jones seperti dikutip Star Tribune.

Setelah berhasil mendapatkan kursi DPR dari 5th District, Ellison kembali menegaskan komitmennya. Sedari awal, ia selalu menekankan program yang diusungnya merupakan perjuangan bersama. ''Secara individu, kami berkomitmen pada diri sendiri untuk membangun dunia yang lebih baik, negara yang lebih baik. Kami akan memulainya dari sini, dari 5th District, mulai dari sekarang,'' tegasnya seperti dilansir http://www.kare11.com/

Sejumlah suporter Muslim berharap Ellison dapat membantu menjembatani jurang antara Muslim dan non-Muslim di AS. Sementara itu, tokoh Islam asal Philadelphia yang selalu mendukung kampanye Ellison, Adeeba Al-Zaman, menilai Ellison bisa berbuat lebih dari sekadar sumbangsih untuk agamanya. ''Yang jelas, saya mendukung dia bukan karena dia orang Islam. Saya bangga pada citra, visi, dan platform Ellison,'' kata Al-Zaman. (RioL)

(reiny dwinanda )
Berita Muallaf Swaramuslim.net
Kathy, Wanita Amerika Yang Dapat Hidayah Melalui al-Qur’an Terjemahan!!

Kathy, Wanita Amerika Yang Dapat Hidayah Melalui al-Qur’an Terjemahan!!

11.07 Add Comment
Setelah tidak mengajar lagi di sekolah-sekolah Amerika, saya bekerja sebagai direktur salah satu sekolh-sekolah Islam yang ada di distrik Washington. Di sana, ada pemandangan yang menggugahku, yaitu prilaku seorang wanita asal Amerika yang bekerja sebagai sekretaris. Ia merupakan contoh wanita yang pemalu, anggun dan bersungguh-sungguh bagi wanita-wanita Muslimah. Lalu saya ceritakan hal itu kepada isteri saya sembari memperbandingkan prilakunya dnegan kebanyakan wanita yang dilahirkan sebagai Muslimah tetapi tidak komitmen terhadap hijab dan etika Islami dalam berinteraksi dengan laki-laki asing

Ketika saya tanyakan kepada isteri saya, ia menceritakan kepada saya kisah keislaman si wanita Amerika yang sungguh aneh. Berikut penuturan wanita Amerika itu seperti yang diceritakannya kepada isteri saya:
Ketika masih belajar di SD, ibuku sering menemani ke perpustakaan umum terdekat. Dan, sudah menjadi tradisi perpustakaan-perpustakaan umum, bahwa ketika terdapat beberapa set buku yang sama, maka minat terhadapnya berkurang.

Atau kalau ada beberapa set buku yang rusak, maka ia tidak dibuang begitu saja tetapi dijual dengan harga obral yang sangat murah. Suatu kali, ketika perpustakaan menawarkan buku-buku seperti ini, aku membeli salah satunya dengan harga 5 atau 10 Cent yang aku ambil dari kocek khususku. Ini aku lakukan karena rasa ingin memiliki buku dan mendapatkan sesuatu yang spesial. Ketika itu, aku belum tahu apa isinya. Aku hanya meletakkannya di perpustakaan khususku di kamar kemudian dimasukkan ke dalam salah satu kardus dengan buku lainnya yang sudah jelek dan terlupakan.

Hari demi hari pun berlalu dan tak terasa aku sudah menamatkan SD, SLTP dan SLTA. Aku beruntung karena diterima kuiah di salah satu fakultas. Dan, adalah sebuah hikmah dan rahasia dari Allah bahwa aku memasuki fakultas Sastra dan memilih spesialisasi di bidang ilmu perbandingan agama di mana lebih memfokuskan pada tiga agama besar; Yahudi, Nashrani dan Islam. Manakala di jurusan tersebut tidak terdapat seorang dosen yang beragama Islam, maka yang kentara dibicarakan adalah gambaran Islam yang sudah tercoreng. Karena itu, aku tidak begitu interes dengannya. Selanjutnya, aku tidak menemui kendala apa pun untuk melewati kurikulum-kurikulum studi sehingga berhasil lulus dan memperoleh gelar sarjana.



Buku Yang Amat Berkesan!

Setelah lulus kuliah, mulailah tahap mencari pekerjaan. Berhubung spesialisasiku termasuk spesialisasi yang sedikit mendapatkan tawaran kerja, ditambah secara umum memang lowongan kerja juga tidak banyak di kawasan yang aku tinggali, maka dengan cepat aku dicekam rasa kecewa dan bosan dalam mencari lowongan kerja tersebut. Akhirnya, sebagian besar waktu, aku habiskan di rumah alias menjadi pengangguran!! Selanjutnya untuk mengisi kekosongan waktu, aku membongkar dan membuka-buka kembali buku-buku yang dulu pernah aku beli. Saat itulah, aku menemukan buku yang telah aku beli sejak kecil dan nampak sudah tertimbun debu. Karena dibeli sejak masih kecil dari kocek pribadi, tentu ia begitu mengesankan dan istimewa bagiku seakan sekeping peninggalan berharga.

Aku ambil buku itu, lalu aku bersihkan. Selanjutnya, aku mulai membacanya…Ternyata ia adalah kitab al-Qur’an terjemahan dalam bahasa Inggeris. Mulailah aku membacanya dengan penuh perasaan dan keseriusan. Aku betul-betul tertarik dengannya. Setelah agak banyak membacanya, rupanya sama sekali berbeda dengan opini dan pendapat yang selama ini aku dapatkan di kampus mengenai Islam. Gambaran Islam di dalamnya juga amat berbeda dari gambaran yang dikatakan para dosen di fakultas mengenai agama ini dan al-Qur’an.

Aku mulai bertanya-tanya: sedemikian bodohkah para dosenku di kampus? Ataukah mereka sengaja berbohong ketika menyinggung tentang Islam dan al-Qur’an? Aku terus mengulangi dan membacanya dengan penuh rasa puas dan ingin tahu mengenai apa ajaran dan petunjuk yang dikandungnya. Dan begitu menyudahinya, aku langsung memutuskan; selama Islam itu begini gambarannya, maka aku harus segera memeluknya dan menjadi seorang Muslimah.!

Setelah itu, aku menghubungi salah seorang Muslim dan bertanya kepadanya bagaimana cara masuk Islam. Setelah mendengar penjelasannya, aku kembali tercengang karena demikian gampang dan mudah prosesnya. Alhamdulillah, aku pun masuk Islam dan menikah dengan seorang pemuda Muslim asal Afghanistan.

Sekarang kami sudah menjadi salah satu keluarga di kota ini (Washington-red). Kami memohon kepada Allah agar menerima amal kami dan memantapkan kami dalam dien-Nya… (Alsofwah)

(Sumber: Situs Islamway, terjemah ke dalam bahasa Arab oleh Dr Abdul Hamid Al Abdul Jabbar)
Berita Muallaf Swaramuslim.net
Enny Beatrice, Hidup Bahagia dalam Hidayah Islam

Enny Beatrice, Hidup Bahagia dalam Hidayah Islam

11.05 Add Comment
ENNY Beatrice dikenal sebagai pemain film panas pada 1980-an. Namun siapa yang menyangka, Eny kini menjadi istri Menteri Pelancongan Malaysia Datuk Seri Tengku Adnan Tengku Mansor. Perempuan yang kini berpakaian lebih santun ini pun sibuk dalam organisasi sosial yang beranggotakan istri menteri dan wakil menteri Malaysia.

Walau tak lagi terjun di dunia film, Enny mengaku masih aktif di dunia seni. Datuk pun sangat memahami latar belakang sang istri. "Saya ikut aktif menari," kata pendukung Perkawinan Nyi Blorong.

Menurut Enny, pertama kali bertemu dengan Datuk pada 1988. Saat itu Datuk yang masih menjadi pengusaha menyumbang dana untuk film laga kerja sama Indonesia-Malaysia yang dibintanginya. Keduanya berkenalan dan saling jatuh cinta. Saat duda beranak empat itu melamarnya pada 1989, Enny pun menerimanya. "Dia sayang pada orang tua saya, hormat kepada bapak ibu saya," Enny beralasan.
Berita Muallaf Swaramuslim.net

Hubungan Enny dan Datuk juga direstui. Begitu pula saat Enny memutuskan menjadi mualaf, mengikuti agama yang dianut sang suami. Apalagi, ayah Enny seorang haji. Pengorbanan cinta Enny kepada Datuk juga ditunjukkan dengan berpindah warga negara ke Malaysia pada tahun 2003.

Kini, setelah hampir 18 tahun berrumah tangga, Enny dan Datuk memiliki enam anak dengan empat perempuan dan dua laki-laki. Anak terbesar berusia 16 tahun dengan mengambil kuliah kedokteran. Sedangkan anak terkecil berusia 18 bulan. Mereka hidup bahagia. (Dp-041006/SCTV)
Mohamad Lorand : Dedikasi Mualaf Bule Rumania untuk Anak Kurang Mampu

Mohamad Lorand : Dedikasi Mualaf Bule Rumania untuk Anak Kurang Mampu

10.05 Add Comment
Mohamad Lorand, pria Rumania mendidik anak-anak kurang mampu di Panti Asuhan Nusantara miliknya di Jakarta. Ratusan anak dari pelosok Indonesia dibiayai hidupnya dan disekolahkan hingga ke universitas.

Berbuat kebaikan tak mengenal suku atau kewarganegaraan. Inilah yang menjadi falsafah hidup Mohamad Lorand. Lelaki asal Rumania ini sudah 17 tahun mengabdikan diri untuk mengasuh anak-anak di Panti Asuhan Nusantara miliknya di Jakarta. Lorand bahkan membiayai hidup dan memberi mereka pendidikan gratis hingga ke tingkat universitas.

Lelaki bule ini mengaku tak membayangkan akan beraktivitas sosial di Indonesia. Mulanya Bang Lorand--demikian ia disapa--datang pada 1974 untuk bekerja di sebuah hotel di Medan, Sumatra Utara. Saat hijrah ke Jakarta, ia kemudian tergugah untuk mendirikan sebuah panti asuhan. Pada 1989, Lorand lantas mendirikan Panti Asuhan Nusantara. :video

Di panti ini ia mendidik dan merawat ratusan anak hingga mandiri. Anak-anak yang datang dari penjuru Tanah Air diajar dengan penuh disiplin. Bang Lorand juga mendidik anak-anak asuhnya agar mampu membaca Alquran. Membaca Alquran, menurut Bang Lorand, adalah salah satu bekal si anak menjalani hidup selepas dari asuhannya.

Lorand mengaku kesulitan menghidupi anak-anak asuhnya karena banyak pihak yang menitipkan si anak tak memberi bantuan finansial. Untuk mencukupi kebutuhan, ia pun rela berkeliling Ibu Kota untuk mengajar bahasa Inggris. "Kebingungan saya bagaimana menghadapi anak dari hari ke hari," cerita pria 55 tahun ini.

Sikap disiplin dan penuh kekeluargaan Lorand ternyata membekas di hati anak asuh Lorand. Sang anak selalu teringat untuk dapat berbuat sesuatu bagi panti.

Kini Lorand harus dibantu Monika, keponakannya, untuk mengajar anak-anak asuhnya. Namun Lorand tak pernah jenuh membantu anak-anak yang kurang mampu. Sebab baginya cinta kasih tidak mengenal suku ataupun kewarganegaraan. "Indonesia sama dengan Rumania. Kita ramah tamah, gotong royong," ujar dia.(MAK/Satya Pandia/Liputan6.com)
Berita Muallaf Swaramuslim.net
Pengakuan Nakata Khaula

Pengakuan Nakata Khaula

10.03 Add Comment
Menutupt aurat? tak pernah terlintas baginya. Maklum, ia seorang aktifis feminis. Namur wanita asal Jepang ini berubah total dan justru menemukan kedamaian setelah mengenal Islam. Baca pengakuan seorang mantan aktifis feminisme ini

Ketika saya kembali ke dalam pangkuan Islam, agama asli semua manusia, sebuah perdebatan sengit sedang terjadi di sekolah-sekolah Prancis tentang jilbab di kalangan pelajar perempuan-terutama keturunan imigran TImur-Tengah-hingga beberapa waktu lamanya (hal itu terjadi karena ada kebijakan pelarangan penggunaan jilbab dari otoritas Prancis, pen). Mayoritas pelajar berpendapat, public-dalam hal ini sekolah negeri-seharusnya bersikap netral dalam urusan agama, termasuk tentang tudung kepala (jilbab). Tidak dapat dipungkiri, kelompok Muslim di Prancis turut membayar pajak yang lumayan besar jumlahnya.

Menurut saya, pihak sekolah hendaknya menghargai keyakinan seseorang atau kelompok dalam menjalankan ajaran agamanya sepanjang orang atau kelompok itu tidak mengganggu kegiatan rutin sekolah, apalagi sampai melanggar disiplin.

Namun, tampaknya pemerintah Prancis sedang menghadapi gejolak social dengan meningkatnya jumlah pengangguran. Mereka merasa kehidupan ekonomi mereka terancam dengan makin banyaknya pekerja imigran Arab. Banyaknya penggunaan jilbab di kota-kota atau di sekolah-sekolah semakin memicu perasaan mereka itu.

Pada kenyataannya, memang semakin banyak perempuan Arab imigran yang memakai jilbab, terlepas dari pandangan bahwa fenomena itu akan segera menghilang seperti halnya ketika sekularisme Barat menanamkan pengaruhnya di dunia Arab (Timur-Tengah). Ketahanan pelaksanaan ajaran Islam itu sering dianggap sebagai upaya kelompok Islam di mana saja untuk mengembalikan kebaggaan dan identitas mereka yang pernah hilang ditelan kolonialisme Barat.

Di Jepang sendiri, sikap seperti itu mungkin dianggap sama dengan sikap tradisional konservatif orang Jepang yang muncul sebagai perwujudan perasaan anti-Barat. Sesuatu yang dalam pandangan bangsa Jepang adalah serupa dengan pengalaman yang kami rasakan sejak kami berinteraksi dengan budaya Barat pada zaman Restorasi Meiji. Bangsa Jepang saat itu memunculkan sikap penentangan terhadap gaya hidup yang tidak lagi tradisional dan mengikuti model pakaian Barat. Ada kecenderungan dalam suatu masyarakat untuk bersikap konservatif terhadap segala hal yang baru tanpa mau melihat kebaikan atau keburukannya.

Perasaan seperti itu masih ada diantara kelompok non-Muslim di Prancis yang memandang bahwa penggunaan jilbab menunjukkan ketundukan para penggunanya sebagai budak budaya tradisional seolah-olah jilbab adalah ikon pengekangan. Oleh karena itu, sikap gerakan pembebasan dan pembelaan atas kaum hawa selalu terfokus pada upaya mendorong perempuan Muslim agar melepaskan jilbab-jilbab mereka sebagai tanda pembebasan itu atau mereka belum dianggap bebas sebelum jilbab-jilbab itu lepas dari kepala mereka.

Pandangan yang naïf seperti itu, bagi kelompok Muslim, menunjukkan dangkalnya pengetahuan mereka tentang Islam di dalam gerakan pembebasan perempuan. Hal ini akibat kebiasaan mencampuradukkan pandangan secular dan nilai-nilai eklektisisme agama sehingga mereka tidak mampu lagi menangkap kesempurnaan Islam sebagai agama yang universal dan abadi.

Hal itu berbeda sekali dengan kenyataan bahwa semakin banyak perempuan non-Muslim dan non-Arab dari seluruh penjuru dunia yang kembali ke pangkuan Islam. Bahkan, mereka melaksanakan kewajiban berjilbab atas kesadaran mereka sendiri dan bukan atas desakan tradisi yang dipandang berorientasi pada kekuasaan laki-laki atas perempuan (masculine-oriented).

Saya adalah salah seorang diantara perempuan non-Arab (sebelumnya non-Muslim) yang dengan penuh kesadaran memakai jilbab bukan karena bagian dari identitas kelompok atau tradisi Islam semata atau memiliki signifikansi pada kelompok social dan politik tertentu, melainkan karena jilbab adalah identitas keyakinan saya, yaitu Islam. Bagi kelompok non-Muslim, jilbab tidak hanya dianggap sebagai penutup kepala, tetapi sebagai penghalang yang menyebabkan para perempuan itu tidak punya akses ke dunia yang luas. Seolah-olah, perempuan Muslimah tercerabut dari kebebasan yang seharusnya mereka rengkuh di dunia yang sekular.

Sebelumnya, saya pernah diperingatkan tentang kemungkinan hilangnya kebebasan saya saat memutuskan untuk kembali ke pangkuan Islam. Saya diberitahu bentuk jilbab itu berbeda-beda menurut daerahnya masing-masing atau pemahaman dan kesadaran agamanya. Di Prancis, saya memakai jilbab yang sederhana-lebih tepat disebut penutup kepala-yang sesuai dengan mode dan sekedar tersampir di kepala sehingga terkesan modis.

Namun ketika saya berada di Arab Saudi, saya memakai gamis hitam yang menutupi seluruh tubuh saya, termasuk mata. Jadi,saya telah merasakan sendiri penggunaan jilbab dari model yang paling sederhana hingga model yang dianggap kebanyakan orang paling “mengekang”. Mungkin Anda bertanya, apa makna jilbab bagi saya? Meski banyak buku dan artikel tentang jilbab, hampir semuanya cenderung ditulis dari sudut pandang “orang luar” (laki-laki). Saya harap tulisan ini dapat menjelaskan makna jilbab dari sudut pandang “orang dalam” (perempuan).

Ketika saya memutuskan untuk kembali ke dalam pangkuan Islam, saya tidak berpikir tentang pelaksanaan ibadah shalat lima kali sehari atau tentang penggunaan jilbab. Barangkali saat itu saya khawatir jika saya terlalu dalam memikirkan hal itu, saya tidak akan pernah sampai pada keputusan yang tepat. Bahkan, hal itu mungkin akan mempengaruhi niat saya untuk bepaling ke Islam.

Sebelum saya berkunjung ke sebuah masjid di Paris, sebetulnya saya tidak tertarik sama sekali terhadap Islam, termasuk tentang sholat dan penggunaan jilbab. Bahkan, tidak pernah terbayang sedikitpun. Namun sejak itu, keinginan saya kembali ke pangkuan Islam begitu kuat untuk dikalahkan pikiran-pikiran tentang tanggung jawab yang akan saya emban sebagai seorang Muslim, Alhamdulillah.

Saya baru mulai merasakan keuntungan dan manfaat jilbab sesudah saya mendengarkan khotbah di sebuah masjid di Paris. Bahkan saat itu, saya tetap menggunakan kerudung kepala saya saat keluar dari masjid. Khotbah itu telah menjadi sebuah keputusan spiritual tersendiri seperti pengalaman saya sebelumnya dan saya tidak ingin kepuasan itu hilang. Mungkin karena cuaca yang dingin hingga saya tidak terlalu merasakan adanya kerudung di kepala.

Selain itu, saya merasa bersih, suci, dan terjaga dari kotoran dalam arti yang fisik atau psikis. Saya merasa seolah berada di dalam lindungan Allah SWT. Sebagai orang asing di Paris, terkadang saya merasa tidak nyaman dengan pandangan liar laki-laki ke arah saya. Dengan jilbab, saya merasa lebih terlindung dari pandangan liar itu.

Jilbab membuat saya bahagia sebagai wujud ketaatan dan manifestasi iman saya kepada Allah SWT. Saya tidak perlu meyakinkan diri saya lagi karena jilbab telah menjadi tanda bagi semua orang, terutama sesame Muslim, sehingga memperkuat ikatan persaudaraan Islam (Ukhuwwah Islamiyyah). Memakai jilbab sudah menjadi sesuatu yang spontan saya lakukan, bahkan dengan sukarela.

Pada awalnya, saya berpikir tidak ada seorang pun yang dapat memaksa saya untuk memakai jilbab. Jika mereka memaksa, saya pasti menentang mereka. Namun, buku Islam pertama mengenai jilbab yang saya baca sangat moderat. Buku itu hanya menyebutkan, “Allah SWT sangat menekankan pemakaian jilbab.”

Oleh karena Islam-seperti yang ditunjukkan dengan makna Islam, yaitu penyerahan diri-saya pun melaksanakan kewajiban keislaman saya dengan sukarela dan tanpa merasa kesulitan. Alhamdulillah. Selain itu, jilbab mengingatkan semua manusia bahwa Tuhan itu ada dan senantiasa mengingatkan saya untuk bersikap Islami. Seperti halnya petugas polisi yang tampak lebih professional dengan seragam mereka, saya pun merasa lebih Muslimah dengan jilbab yang saya pakai.

Dua pekan sesudah saya kembali ke pangkuan Islam, saya pulang ke Jepang untuk menghadiri pernikahan keluarga. Setelah itu, saya memutuskan untuk tidak meneruskan pendidikan di Sastra Perancis yang telah kehilangan daya tariknya. Sebagai gantinya, saya memilih kajian Arab dan Islam.

Sebagai seorang Muslimah yang baru dengan pemahaman Islam yang belum banyak, tinggal di kota kecil di Jepang dan jauh dari lingkungan Islam membuat saya merasa terisolasi. Namun, keterisolasian itu semakin menguatkan keislaman saya tahu saya tidak sendiri karena Allah SWT senantiasa menemani. Saya harus membuang semua pakaian saya dan, berkat bantuan beberapa teman, saya membuat patokan sendiri yang mirip pakaian orang Pakistan. Saya tidka merasa terganggu dengan pandangan orang yang tertuju kepada saya!

Sesudah enam bulan berada di Jepang, hasrat untuk mempelajari segala hal tentang Arab tumbuh begitu besar hingga saya memutuskan untuk pergi ke Kairo, Mesir, karena di sana saya punya seorang kenalan. Saya tinggal di rumah keluarga teman saya. Namun, tidak seorang pun keluarga teman saya itu dapat berbahasa Inggris (apalagi Jepang!). Seorang wanita menjabat tangan saya dan mengajak saya masuk ke dalam rumahnya. Ia memakai jubah hitam yang menutupi dirinya dari kepala hingga ujung jari. Bahkan, wajahnya pun tertutup. Meski di Riyadh saya telah terbiasa dengan hal itu, saya ingat saat itu saya terkejut.

Apalagi, saya teringat dengan kasus jilbab di Prancis. Saat itu, saya memandang perempuan dalam jubah sebagai,” perempuan yang diperbudak budaya Arab karena tidak tahu Islam” (kini saya tahu menutup wajah bukan kewajiban dalam ajaran Islam, melainkan sebagai tradisi etnis semata).

Saya ingin mengatakan kepada wanita Kairo itu bahwa ia telah berlebihan dalam berpakaian sehingga tampak tidak alami dan tidak lazim. Namun, saya justru diingatkan wanita itu bahwa jilbab buatan saya sendiri tidak cocok digunakan di luar rumah-sesuatu yang tidak saya setujui sebelumnya karena saya merasa sudah memenuhi tuntutan jilbab bagi Muslimah.

Saya pun membeli beberapa bahan baju dan membuat pakaian wanita dalam ukuran yang lebih panjang, disebut juga khimar, yang menutup sempurna bagian pinggul ke bawah dan tangan. Saya bahkan siap menutup wajah saya, sesuatu yang dipakai sebagian besar saudara Islam saya. Meski demikian, mereka tetaplah minoritas di Kairo.

Secara umum, pemuda Mesir yang sedkit atau banyak terpengaruh budaya Barat masih menjaga jarak dengan perempuan yang memakai khimar dan memanggil mereka dengan sebutan ukhti. Laki-laki Mesir memperlakukan kami dengan penuh hormat dan sopan. Oleh karena itu, perempuan yang memakai khimar saling menjalin persaudaraan sehingga mereka turut menghidupkan sunnah Nabi Muhammad SAW-seorang Muslim hendaknya memberi salaam kepada Muslim lain yang ditemui di jalan, dikenal atau tidak dikenalnya.

Persaudaraan mereka yang lebih tepat untuk ditekankan itu didasari keimanan kepada Alloh SWT dibandingkan perempuan yang hanya memakai kerudung sebagai bagian dari bagian dari budaya dan bukan bagian dari keimanan. Sebelum berpaling ke pangkuan Islam, saya sangat senang memakai pakaian dengan model celana yang memungkinkan saya bergerak aktif meskipun bukan rok feminine. Namun, long dress yang biasa saya pakai di Kairo cukup nyaman bagi saya. Saya merasa anggun dan lebih santai.

Dalam budaya Barat, warna hitam adalah warna favorit untuk acara malam karena menguatkan kecantikan pemakainya. Saudara-saudara baru saya yang di Kairo pun tampak sangat cantik dengan khimar hitam mereka dan sangat menunjang cahaya ketakwaan yang terpancar dari wajah-wajah mereka (meski begitu, mereka sangat berbeda dengan suster Katholik Roma yang dulu menjadi eprhatian utama ketika saya berkesempatan mengunjungi Paris tidak berapa lama sesudah saya tinggal di Riyadh, Arab Saudi).

Saat itu, saya berada dalam satu metro (trem dalam kota) dengan suster-suster itu dan saya tersenyum karena keserupaan pakaian kami. Pakaian yang dipakai suster itu merupakan tanda ketakwaan mereka kepada tuhan seperti halnya Muslimah. Saya etrkadang merasa aneh dengan orang-orang yang tidak banyak mengkritik jubah yang dipakai suster Katholik Roma, tetapi mereka mengkritik dengan tajam jilbab yang dipakai Muslimah, terlepas dari pandangan bahwa keduanya dianggap melambangkan terorisme dan tekanan.

Namun, saya tidak bermaksud mengabaikan jilbab dengan warna yang lebih cerah selain hitam karena pada kenyataannya sejak dulu saya bekeinginan memakai pakaian dengan gaya yang relijius seperti suster Katholik Roma jauh sebelum saya berpaling ke pangkuan Islam!

Meski demikian, saya menolak orang yang menganjurkan saya tetap memakai khimar sekembalinya saya ke Jepang. Saya akan marah kepada setiap Muslimah yang tidak begitu menyadari pentingnya ajaran Islam : sepanjang kita sudah menutup diri kita sesuai tuntunan syariat, kita boleh memakainya sesuai model yang kita inginkan. Apalagi, setiap budaya memiliki cirinya sendiri-sendiri sehingga pemakaian khimar hitam di Jepang hanya akan membuat orang berpikir saya orang gila dan mereka akan emnolak Islam jauh sebelum saya mengenalkan Islam dengan baik kepada mereka. Perdebatan kami biasanya seputar masalah itu.

Sesudah tinggal selama enam bulan di Kairo, saya sudah terbiasa dengan pakaian long dress sehingga saya mulia berpikir untuk tetap memakainya meskipun di Jepang. Komprominya, saya akan membuat khimar dengan aneka warna yang cerah atau putih dengan harapan orang Jepang tidak akan terlalu kaget dengan hal itu daripada saya hanya memakai khimar warna hitam.

Ternyata saya betul. Reaksi orang Jepang lebih baik dengan khimar putih dan mereka lebih cenderung menduga saya sebagai yang relijius. Saya mendengar seorang gadis Jepang yang berkata kepada temannya bahwa saya seorang suster Buddha : betapa miripnya antara Muslimah, suster Buddha, dan suster Katholik Roma!

Sekali waktu di dalam sebuah kereta, orang tua yang berada dis ebelah saya menanyakan alasan saya memakai baju yang tidak biasa dipakai banyak orang. Ketika saya jelaskan bahwa saya seorang Muslimah dan Islam mengajarkan kepada perempuan agar menutup tubuh mereka supaya terlindung secara fisik maupun psikis, orang tua itu tampaknya sangat tertarik. Saat ia turun dari kereta, ia berterima kasih dan mengatakan bahwa ia ingin sekali berbicara banyak tentang Islam dengan saya.

Dalam waktu sekejap, ternyata jilbab menjadi factor yang dominant dalam memancing keingintahuan orang tentang Islam. Apalagi, orang Jepang bukanlah orang yang lazim berbicara banyak tentang agama. Sama seperti di Kairo, jilbab berperan sebagai tanda diantara sesama Muslimah, di Jepang pun hal yang sama saya lakukan.

Pernah suatu kali ketika dalam suatu perjalanan, saya berkeliling dan bertanya-tanya benarkah rute yang saya ambil ini. Pada saat itu, saya melihat sekelompok perempuan memakai jilbab. Saya pun mendekati mereka dan kami bersalaman satu sama lain.

Namun, ayah saya cemas ketika saya pertama kembali ke Jepang dengan menggunakan pakaian lengan panjang dan kepala tertutup rapat, padahal cuaca sedang panas meskipun saya sendiri merasa bahwa jilbab justru melindungi saya dari sinar matahari. Saya sendiri justru merasa tidak nyaman melihat adik eprempuan saya hanya memakai celana pendek sehingga tampak paha dan kakinya. Saya sering malu-bahkan sebelum saya kembali ke pangkuan Islam-terhadap perempuan yang memperlihatkan pantat dan pinggul mereka dengan pakaian yang ketat dan tipis.

Saya merasa seperti melihat sesuatu yang seharusnya tersembunyi. Jika pemandangan seperti itu saja membuat saya malu sebagai perempuan, saya tidak dapat membayangkan dampaknya jika dilihat laki-laki. Oleh karena itu, Islam memerintahkan manusia berpakaian sopan dan tidak telanjang di ruang public meskipun di ruangan khusus perempuan atau laki-laki.

Jelaslah, penerimaan sesuatu yang telanjang dalam suatu masyarakat berbeda-beda menurut pemahaman masyarakat atau individunya. Misalnya, di Jepang limapuluh tahun yang lalu, berenang dengan memakai baju renang yang setengah tertutup sudah dianggap vulgar, tetapi sekarang bikin sudah dianggap biasa. Namun, jika ada perempuan berenang dengan baju renang topless, ia dianggap tidak punya malu.

Lain halnya jika topless di pantai selatan Prancis yang sudah dianggap biasa. Begitu pun di beberapa pantai di Amerika Serikat. Kaum nudis sudah berani bertelanjang ria seolah-olah mereka baru dilahirkan. Jika kaum nudis ditanya tentang perempuan liberal yang menolak jilbab-mengapa mereka masih menutupi pantat dan pinggul mereka padahal keduanya sama alamiahnya dengan wajah dan tangan-apakah perempuan liberal mau memberikan jawaban yang jujur?

Definisi tentang bagia tubuh perempuan yang harus tetap pribadi ternyata sangat bergantung pada fantasi dan ksesenangan laki-laki di sekitar mereka yang mengaku-ngaku sebagai feminis. Namun di dalam Islam, kita tidak akan menemui masalah semacam itu karena Alloh SWT telah menetapkan definisi tentang bagian tubuh perempuan dan laki-laki yang boleh dan tidak boleh diperlihatkan di ruang public. Kita pun patuh dan mengikutinya.

Jika saya melihat cara berpakaian manusia sekarang (telanjang atau hampir telanjang), buang air sembarangan, atau bercintaan di tempat umum, saya cenderung memandang mereka seperti makhluk yang tidak punya malu sehingga menjatuhkan martabat mereka hingga ke derajat binatang.

Di Jepang, perempuan hanya memakai make up saat keluar rumah dan sedikit sekali memperhatikan penampilan diri mereka di rumah sendiri. Padahal, Islam mengajarkan perempuan agar selalu tampil cantik bagi suaminya sehingga ia akan berusaha tampil menarik pula baginya. Tentu, dengan begitu muncul keanggunan dalam hubungan antara suami isitri di dalam Islam.

Muslim sering dituduh sebagai kelompok orang yang terlalu sensitive menyangkut tubuh manusia, tetapi tingkat kejahatan seksual yang terjadi akhir-akhir ini semakin menegaskan pentingnya pakaian sopan. Orang luar mungkin melihat Islam seperti melihat Muslim yang tampak kaku. Padahal jika dilihat dari dalam, ada kedamaian, kebebasan, dan kebahagiaan yang tidak akan pernah mereka rasakan sebelumnya. Menjalankan Islam-bagi Muslim yang terlahir di tengah keluarga Muslim atau orang yang kembali ke dalam pangkuan Islam-lebih disukai daripada jalan hidup bebas yang ditawarkan sekularisme. [ditulis ulang oleh Kartika dari buku “Mereka Yang Kembali”, Zenan Asharfillah, penerbit Pustaka Zaman, Jakarta, 2003/Hidayatullah.com]